Konten dari Pengguna

Lazy Ambitious EP 9: Tidak Semua Progres Bisa Terlihat

Azahra Paradilah Nurohmah

Azahra Paradilah Nurohmah

Mahasiswa Aktif Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Azahra Paradilah Nurohmah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber Foto: Pexels / Pavel Danilyuk
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Foto: Pexels / Pavel Danilyuk

Di antara kita, mungkin ada yang pernah merasa seperti tidak sedang berkembang. Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang hampir sama. Bangun pagi, berangkat kuliah atau bekerja, menyelesaikan tugas, lalu mengulang semuanya keesokan harinya. Tidak ada pencapaian besar yang bisa dipamerkan, tidak ada kabar yang membuat orang lain bertepuk tangan. Bahkan, kadang kita sendiri mulai bertanya, “apa sebenarnya aku sedang maju?” atau “mengapa rasanya aku masih jalan di tempat?”

Perasaan itu mungkin tidak datang setiap hari. Tetapi ketika muncul, rasanya cukup untuk membuat kita meragukan semua usaha yang selama ini sudah dilakukan. Lalu, tanpa sadar kita membuka media sosial. Dalam beberapa menit saja, kita melihat seseorang diterima di perusahaan impiannya, selain itu ada yang baru lulus dengan predikat terbaik, ada yang membagikan sertifikat pelatihan, memulai bisnis, membeli kendaraan pertama, atau mengunggah kabar bahwa impiannya akhirnya tercapai.

Di balik layar ponsel, kita ikut tersenyum melihat pencapaian mereka. Tetapi di saat yang sama, muncul pertanyaan yang pelan-pelan mengganggu pikiran, “kalau mereka sudah sejauh itu, kenapa aku rasanya masih di sini?”

Padahal, sebelum membuka media sosial tadi, kita sebenarnya sedang baik-baik saja. Sering kali bukan karena hidup kita benar-benar berhenti, melainkan karena kita terlalu sering melihat perjalanan orang lain tanpa sempat menyadari sejauh apa langkah kita sendiri.

Kita terbiasa menganggap bahwa progres harus selalu terlihat. Harus ada pencapaian baru, jabatan baru, nilai yang lebih tinggi, penghasilan yang bertambah, atau sesuatu yang bisa diumumkan kepada banyak orang. Kalau belum ada semua itu, kita merasa belum berkembang. Benarkah demikian?

Coba ingat kembali diri kita satu atau dua tahun yang lalu. Mungkin dulu kita mudah menyerah ketika menghadapi tugas yang sulit, sekarang kita memang masih merasa lelah, tetapi setidaknya kita tidak langsung berhenti. Mungkin dulu kita sangat takut berbicara di depan kelas, hari ini rasa gugup itu masih ada, tetapi kita sudah berani mengangkat tangan untuk menyampaikan pendapat. Mungkin dulu kita selalu menunda pekerjaan hingga menit terakhir, sekarang memang belum sepenuhnya disiplin, tetapi setidaknya kita mulai belajar mengatur waktu.

Perubahan-perubahan seperti ini memang tidak menghasilkan tepuk tangan, tidak ada sertifikat, dan tidak ada unggahan yang menjadi viral. Tetapi bukan berarti perubahan itu tidak ada, justru banyak pertumbuhan terjadi dengan cara yang sangat sunyi.

Menurut Carol S. Dweck melalui konsep growth mindset menjelaskan bahwa kemampuan seseorang dapat berkembang melalui proses belajar, latihan, dan usaha yang dilakukan secara konsisten. Artinya, perkembangan bukan hanya tentang hasil akhir, tetapi juga tentang bagaimana seseorang terus bertumbuh selama proses itu.

Sayangnya, proses adalah bagian yang paling jarang diperlihatkan. Kita melihat seseorang saat berhasil wisuda, tetapi tidak melihat malam-malam ketika ia harus begadang menyelesaikan tugas. Kita melihat seseorang diterima bekerja, tetapi tidak melihat puluhan lamaran yang sebelumnya ditolak. Kita melihat bisnis yang berkembang, tetapi tidak melihat berapa kali pemiliknya hampir menyerah.

Justru yang muncul di hadapan kita hanyalah hasil akhirnya saja. Sementara kita sedang menjalani bagian yang tidak pernah dipublikasikan siapa pun yaitu proses. Itulah sebabnya kita sering merasa tertinggal.

Bukan karena kita benar-benar diam, tetapi karena kita membandingkan proses milik sendiri dengan hasil akhir milik orang lain. Padahal, setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. Dimana tidak semua orang harus lulus di usia yang sama, tidak semua orang harus langsung mendapatkan pekerjaan impian, dan tidak semua orang harus menemukan tujuan hidupnya pada usia dua puluh tahun.

Ada yang tumbuh lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Dan keduanya sama-sama sedang berjalan. Sering kali, kita terlalu sibuk mencari bukti bahwa diri kita sedang berkembang. Padahal, bukti itu mungkin sudah ada, hanya saja bentuknya tidak selalu besar. Karena bisa juga perihal berani meminta maaf lebih dulu, lebih tenang menghadapi masalah, tidak lagi mudah membandingkan diri dengan orang lain, mulai berani mengatakan “tidak” pada hal-hal yang menguras energi, belajar menerima bahwa kita tidak harus sempurna, semua itu adalah progres.

Hanya saja, progres seperti ini tidak bisa dihitung dengan angka. Lazy Ambitious tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar pencapaian sebanyak mungkin. Justru lebih mengajak kita memahami bahwa ambisi yang sehat tidak selalu diukur dari seberapa banyak hasil yang berhasil dikumpulkan, tetapi dari keberanian untuk tetap melangkah, bahkan ketika belum ada siapa pun yang menyadarinya. Karena pada akhirnya, pertumbuhan bukan selalu tentang melompat jauh. Kadang, pertumbuhan hanya berarti kita memilih untuk tidak berhenti hari ini.

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari perubahan yang besar, sampai lupa menghargai perubahan-perubahan kecil yang sebenarnya sedang membentuk diri kita. Padahal, bukan karena progres itu tidak ada..Kita saja yang terlalu sering melihat ke depan, hingga lupa sesekali menoleh ke belakang untuk menyadari bahwa diri kita hari ini sudah mampu melewati banyak hal yang dulu terasa mustahil.

Menjadi Lazy Ambitious bukan berarti puas berada di tempat yang sama. Melainkan memahami bahwa tidak semua progres harus terlihat setiap hari. Sebab, pertumbuhan yang paling bermakna sering kali terjadi secara perlahan, diam-diam, dan baru benar-benar terasa ketika kita menyadari bahwa ternyata kita sudah berjalan sejauh ini.

References:

Dweck, C. S. (2006). Mindset: The New Psychology of Success. Random House.