Mengenal Facelift, Tindakan Medis yang Tak Boleh Dilakukan Sembarangan
·waktu baca 4 menit

Kasus yang menyeret eks finalis Puteri Indonesia 2024 sebagai tersangka dugaan tindakan medis ilegal facelift belakangan menyita perhatian publik. Ia diduga tak punya latar belakang tenaga kesehatan yang memadai hingga menyebabkan luka serius dan cacat permanen pada korban.
Peristiwa ini jadi pengingat bahwa prosedur kecantikan, terutama yang invasif, bukan hal yang bisa dilakukan sembarangan. Ada standar medis, kompetensi, dan sistem yang harus dipenuhi demi keselamatan pasien.
Di tengah tren perawatan estetik yang makin populer, banyak dari kita masih menganggap prosedur seperti facelift sebagai pendukung penampilan. Padahal, di balik hasil akhir yang terlihat natural, ada proses medis yang kompleks dan berisiko.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa facelift bukan sekadar treatment biasa. Prosedur ini termasuk tindakan invasif yang harus dilakukan oleh tenaga medis berkompeten, dengan fasilitas dan standar yang jelas. Mulai dari alat, tim medis, hingga proses sebelum dan sesudah tindakan, semuanya berperan besar dalam menentukan keamanan dan hasil akhir.
Facelift termasuk prosedur kecantikan invasif
Dalam dunia medis, facelift termasuk ke dalam kategori prosedur kecantikan invasif yang dilakukan melalui tindakan operasi. Prosedur ini menggunakan instrumen bedah untuk masuk ke dalam jaringan tubuh dan memperbaiki struktur wajah dari dalam.
Tidak hanya kulit, tetapi juga ada proses manipulasi terhadap lapisan lemak dan otot untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal. Ini yang membuat facelift berbeda dari perawatan kecantikan biasa yang sifatnya non-invasif.
Proses ini membutuhkan ketelitian tinggi karena menyangkut banyak struktur penting pada wajah. Setiap langkah dalam prosedur harus dilakukan dengan perhitungan yang matang.
Kesalahan kecil saja bisa berdampak besar pada hasil maupun kondisi pasien. Oleh karena itu, tindakan ini tidak bisa dilakukan tanpa keahlian medis yang memadai.
Risiko tinggi, butuh keahlian khusus
Sebagai prosedur invasif, facelift memiliki risiko yang tidak sedikit dan perlu dipahami sejak awal. Area wajah memiliki banyak pembuluh darah dan saraf yang saling terhubung, sehingga membutuhkan penanganan yang sangat hati-hati.
Jika tidak dilakukan dengan teknik yang tepat, risiko seperti perdarahan, infeksi, hingga gangguan saraf bisa terjadi. Bahkan, komplikasi seperti kerusakan jaringan juga menjadi salah satu hal yang perlu diwaspadai.
“Risiko facelift cukup banyak. Oleh karena itu, facelift merupakan salah satu operasi terbesar dan penting yang di bidang bedah plastik. Risiko pertama di wajah itu banyak aliran darah, banyak pembuluh darah dan banyak jalur saraf. Jadi harus sangat hati-hati, harus sangat menguasai anatomi wajah agar tidak mencederai, melukai saraf atau pembuluh darah pada wajah,” jelas dr. Alexander Perkasa Hendropriyono, Sp. B.P.R.E., M.Ked.Klin saat dihubungi kumparanWOMAN melalui sambungan telepon.
Saking rumitnya, prosedur facelift tidak hanya melibatkan satu dokter, melainkan satu tim medis yang bekerja secara terkoordinasi. Dokter bedah plastik bertugas sebagai operator utama yang melakukan tindakan operasi. Selain itu, ada dokter anestesi yang bertanggung jawab memastikan kondisi pasien tetap stabil selama proses berlangsung. Peran ini sangat penting karena berkaitan langsung dengan keselamatan pasien.
Tidak hanya itu, ada juga perawat anestesi dan perawat bedah yang membantu jalannya prosedur. Mereka memastikan semua alat siap digunakan dan proses operasi berjalan sesuai standar. Setiap anggota tim memiliki peran yang tidak bisa digantikan satu sama lain. Kolaborasi inilah yang menjadi kunci keberhasilan sebuah tindakan operasi.
Selain tenaga medis, fasilitas dan alat yang digunakan juga menjadi faktor penting dalam prosedur facelift. Operasi harus dilakukan di ruang yang steril dengan standar medis yang ketat. Hal ini bertujuan untuk mencegah risiko infeksi dan memastikan prosedur berjalan dengan aman. Lingkungan yang tidak memenuhi standar bisa meningkatkan risiko komplikasi.
Instrumen yang digunakan pun beragam, mulai dari alat bedah dasar hingga teknologi yang lebih canggih. Semua alat harus dalam kondisi steril dan berkualitas tinggi. Selain itu, penggunaan obat-obatan seperti anestesi, antibiotik, dan pereda nyeri juga harus sesuai standar medis. Semua komponen ini saling mendukung untuk menjaga keselamatan pasien selama prosedur facelift berlangsung.
