Konten dari Pengguna

Menilik Kondisi Terkini Kesenian Braen Desa Rajawana

Adinna Islah Perwita

Adinna Islah Perwita

Seorang dosen muda di Universitas Amikom Purwokerto yang tertarik menulis tentang komunikasi, media, gender dan gaya hidup.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Adinna Islah Perwita tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gapura Syeikh Mahdum Husen di Desa Rajawana. Sumber: Dokumentasi Pribadi (8/5/2026)
zoom-in-whitePerbesar
Gapura Syeikh Mahdum Husen di Desa Rajawana. Sumber: Dokumentasi Pribadi (8/5/2026)

Selain dikenal sebagai sentra knalpot, Purbalingga juga dikenal memiliki tradisi budaya yang kental dengan nuansa spiritual. Salah satunya Braen, kesenian yang berasal dari Desa Rajawana, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga.

Braen adalah kesenian vokal yang bertujuan untuk memanjatkan doa dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Secara historis, Braen pertama kali dilakukan pada abad ke-15 ketika masa kepemimpinan Syeikh Mahdum Husen berkonflik dengan Kerajaan Pajajaran. Peperangan tersebut membuat Ibu Syeikh Mahdum Husen yang bernama Rubiyah Bekti mengajak para perempuan setempat untuk memanjatkan doa keselamatan. Itulah mengapa Braen dilakukan oleh para perempuan dan dipimpin oleh seorang yang diberi gelar Rubiyah.

Ketika pentas, Rubiyah akan menabuh terbang atau rebana, kemudian diiringi oleh vokal kelompok secara bersama-sama. Mereka melantunkan syair yang terdiri dari kurang lebih 120 bait. Waktu pementasannya beragam, seperti pada perayaan Idulfitri dan Iduladha, upacara kematian hari ke-1000, hajatan hingga peringatan empat/tujuh bulan ibu hamil.

Selain sebagai komunikasi spritual, Braen juga sebagai penjaga harmonisasi sosial. Dengan dipentaskannya Braen, dapat mengundang masyarakat untuk berkumpul dan menciptakan interaksi sosial yang hangat. Sayangnya, kesenian ini perlahan mulai sepi peminat.

Sri Hutami, Rubiyah ke-14 di Desa Rajawana. Sumber: Dokumentasi Pribadi (8/5/2026).

Rubiyah Sri Hutami, generasi ke-14 yang menjadi pemimpin Braen menegaskan bahwa Braen merupakan kesenian peninggalan leluhur Rajawana yang sudah seharusnya dipelihara. Namun saat ini, pihaknya cukup sulit untuk mengajak para remaja menghadiri maupun mementaskan Braen.

"Saya mohon jangan melihat musiknya, tapi lihat makna syairnya dan manfaatnya. Mari hadiri dan belajar bersama-sama," pesan Rubiyah Sri Hutami kepada para generasi. Memang, jika dilihat dari keanggotaannya, Braen di Rajawana memiliki 20 orang anggota yang didominasi oleh usia dewasa akhir dan lanjut usia.

Lunturnya minat remaja terhadap kesenian lokal acapkali disebabkan oleh masuknya budaya global. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Dewi et al. (2024), dari 33 responden remaja terdapat 39,4 persen responden yang menyukai budaya lokal dan 60,6 persen menyukai budaya luar. Alasannya pun beragam, mulai dari anggapan bahwa budaya luar lebih menarik dan modern, irama musik luar dianggap lebih enak didengar, atau sekadar mengikuti tren agar tidak ketinggalan zaman.

Melihat kondisi tersebut, jika tidak diantisipasi dengan upaya pelestarian dan regenerasi secara serius, kesenian seperti Braen dikhawatirkan akan ditinggalkan dan kehilangan penerus di masa depan. Berbagai jalan seperti mengemas budaya lokal dengan cara modern dan kreatif, memanfaatkan media sosial untuk promosi budaya, menggabungkan unsur tradisional dengan tren masa kini, mengadakan festival, pertunjukan, atau konten yang menarik bagi anak muda perlu dilakukan. Terakhir, yang tidak kalah penting adalah menanamkan rasa cinta budaya sejak dini melalui lingkungan dan pendidikan.