Konten dari Pengguna

Menjadi Anak Bungsu, Ketika Kita Selalu Dianggap Belum Cukup Dewasa

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hilyatun nissa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
dokumentasi pribadi

Banyak orang menganggap menjadi anak bungsu itu enak karena lebih dimanja dan diperhatikan. Padahal, menurut saya, menjadi anak bungsu juga punya tantangan tersendiri.

Terkadang, meskipun usia terus bertambah, kita masih dianggap sebagai anak kecil yang belum cukup dewasa untuk menentukan pilihan sendiri. Padahal, kita juga punya pemikiran, keinginan, dan impian yang ingin diwujudkan. Ada kalanya kita ingin mencoba sesuatu sendiri, tetapi orang tua masih merasa khawatir karena menganggap kita belum mampu.

Saya mengerti bahwa orang tua bersikap seperti itu karena ingin melindungi anaknya. Mereka tentu ingin anaknya selalu baik-baik saja. Namun, menurut saya, anak bungsu juga perlu diberi kesempatan untuk belajar mandiri dan bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.

Menjadi dewasa memang membutuhkan proses. Kita tidak selalu benar, tetapi dari kesalahan dan pengalaman, kita bisa belajar menjadi lebih baik. Kita juga perlu belajar menghadapi masalah, menyampaikan pendapat, dan mengambil keputusan dengan bijak.

Menurut saya perhatian orang tua memang penting, tetapi kepercayaan juga tidak kalah penting. Ketika anak mulai bertambah dewasa, ada baiknya orang tua memberikan ruang agar anak bisa belajar memahami kehidupan dengan caranya sendiri.

Pada akhirnya, menjadi anak bungsu bukan berarti akan selalu menjadi anak kecil. Kami juga sedang tumbuh, belajar, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih dewasa. Terkadang, kami hanya ingin didengar, diberi kesempatan, dan dipercaya bahwa kami juga bisa.