Konten dari Pengguna

Terjebak ‘Situationship’: Saat Banyak Pilihan Bikin Takut Berkomitmen

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Syifa Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto oleh Максим  dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-koneksi-keterkaitan-hubungan-11966989/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Максим dari Pexels: https://www.pexels.com/id-id/foto/tangan-koneksi-keterkaitan-hubungan-11966989/

“Kita ini sebenarnya apa, sih?”

Pertanyaan keramat ini mungkin menjadi momok yang paling dihindari oleh banyak pasangan muda zaman sekarang. Jalannya mirip orang pacaran: hampir setiap hari bertukar kabar, jalan bareng di akhir pekan, bahkan saling berbagi cerita rahasia yang paling dalam. Namun, ketika giliran ditanya soal kejelasan status, jawabannya selalu mengambang: “Ya, jalani aja dulu, nggak usah buru-buru pakai label.”

Selamat datang di era Situationship sebuah fenomena hubungan romantis modern di mana dua orang saling terikat secara emosional (dan terkadang fisik), tetapi tanpa adanya komitmen, kesepakatan, atau status yang jelas.

Mengapa hubungan abu-abu seperti ini justru semakin menjamur? Mengapa komitmen yang jelas terkesan menjadi hal yang begitu menakutkan bagi generasi masa kini? Jika dibedah dari sudut pandang psikologi, biang keroknya ternyata ada di dalam saku kita masing-masing: dating apps dan ilusi pilihan tanpa batas.

1. Ilusi ‘Pilihan Tanpa Batas’ di Balik Layar Smartphone

Dulu, ruang lingkup kita untuk bertemu jodoh sangat terbatas kalau bukan teman sekolah, rekan kerja, ya paling banter dikenalkan oleh teman. Namun, kehadiran aplikasi kencan (dating apps) mengubah segalanya secara radikal. Hanya dengan modal mengusap layar ke kanan (swipe right), kita disajikan dengan ribuan calon pasangan potensial yang tampaknya “siap pilih”.

Secara psikologis, kondisi ini menciptakan sebuah jebakan kognitif. Schwartz (2004) dalam bukunya The Paradox of Choice menjelaskan bahwa ketika manusia dihadapkan pada terlalu banyak pilihan, otak kita bukannya merasa senang, melainkan justru mengalami kelumpuhan dalam mengambil keputusan (analysis paralysis). Kita menjadi takut untuk memilih satu orang secara berkomitmen, karena menganggap bahwa mengunci diri pada satu pilihan berarti “menutup pintu” bagi ribuan pilihan menarik lainnya yang belum kita swipe.

2. Terjebak Psikologi ‘Maximizing Behavior’ dan FOMO

Di sinilah kepribadian kita diuji. Dalam psikologi, ada istilah yang disebut Maximizing Behavior sebuah kecenderungan perilaku di mana seseorang selalu terobsesi untuk mencari opsi yang paling sempurna dan paling maksimal. Schwartz (2004) membedakan tipe ini dengan satisficer: orang yang puas dengan pilihan yang “cukup baik”, versus maximizer orang yang terus mencari yang “terbaik dari semua yang mungkin”.

Ketika seorang maximizer menjalin hubungan harian yang santai (alias situationship), mereka mungkin merasa cocok dengan pasangannya saat ini. Namun, di balik kepalanya, muncul bisikan psikologis akibat FOMO (Fear of Missing Out): “Bagaimana kalau di luar sana sebenarnya ada orang yang lebih lucu, lebih mapan, atau lebih memahami aku daripada dia?”

Akibatnya, hubungan tanpa status menjadi jalan ninja yang dirasa paling aman. Situationship memfasilitasi kebutuhan emosional seseorang untuk ditemani dan dicintai, tanpa perlu membayar “harga” berupa komitmen. Hubungan ini menjadi tempat singgah yang nyaman, sembari mata mereka tetap melirik ke luar untuk mencari tahu apakah ada opsi yang “lebih baik” di tikungan berikutnya.

3. Ketakutan akan Kerentanan Emosional (Fear of Vulnerability)

Berkomitmen dalam sebuah hubungan menuntut sesuatu yang sangat mahal dalam psikologi: kerentanan emosional (vulnerability). Brown (2012) dalam Daring Greatly mendefinisikan vulnerability sebagai “ketidakpastian, risiko, dan paparan emosional” kondisi yang tidak nyaman namun justru menjadi inti dari semua pengalaman manusia yang bermakna, termasuk cinta dan keintiman.

Ketika kita meresmikan status pacaran atau pernikahan, kita secara sadar menurunkan benteng pertahanan kita. Kita memberikan orang tersebut kekuatan untuk mengenal sisi terburuk kita, sekaligus kekuatan untuk menyakiti atau mengecewakan kita di masa depan.

Bagi banyak orang dewasa muda yang tumbuh di era yang serba tidak pasti, investasi emosional ini terasa terlalu berisiko. Situationship menawarkan sebuah ilusi kendali penuh. Karena tidak ada status yang mengikat, mereka merasa bisa pergi kapan saja tanpa harus melewati drama perpisahan yang menguras air mata. Sayangnya, mereka lupa bahwa meski tanpa status, rasa sakit hati saat situationship berakhir sering kali rasanya tetap sama hancurnya.

Kesimpulan: Keberanian untuk Berhenti ‘Memilih’

Situationship pada akhirnya adalah cerminan dari kecemasan psikologis kolektif kita terhadap ketidakpastian. Kita mendambakan keintiman, tetapi di saat yang sama kita lumpuh oleh rasa takut kehilangan kesempatan lain.

Namun, psikologi juga mengajarkan kita tentang hedonic treadmill konsep yang pertama kali diperkenalkan Brickman dan Campbell (1971), selama kita terus berlari mengejar yang lebih sempurna tanpa henti, kita tidak akan pernah benar-benar mendarat dan merasakan kedalaman sebuah hubungan. Seperti berlari di atas treadmill, kita terus bergerak tapi tidak pernah tiba di mana pun.

Komitmen bukanlah sebuah penjara yang membatasi kebebasanmu, melainkan sebuah keputusan berani untuk berhenti mencari, mulai membangun, dan menemukan kedamaian pada orang yang telah memilih untuk tinggal di sisimu.

Jadi, sampai kapan mau bertahan di hubungan yang abu-abu?