Kumparan Logo

Tips Memulai Perjalanan Sustainable Fashion ala Desainer Adrie Basuki

kumparanWOMANverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi perempuan memilih pakaian. Foto: MMD Creative/shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perempuan memilih pakaian. Foto: MMD Creative/shutterstock

Di tengah pesatnya industri fesyen, konsep sustainable fashion hadir sebagai ajakan untuk lebih aware akan dampak pakaian yang dikenakan terhadap lingkungan.

Menurut United Nations Environment Programme (UNEP), industri fesyen dan tekstil menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil setiap tahunnya secara global. Industri ini juga menyumbang sekitar 2–8 persen emisi gas rumah kaca global, serta sekitar 9 persen mikroplastik yang mencemari lautan setiap tahun.

Melihat kondisi tersebut, menerapkan prinsip sustainable fashion menjadi salah satu langkah untuk mengurangi dampak industri fesyen terhadap lingkungan. Namun, masih ada anggapan bahwa membeli produk yang berlabel berkelanjutan sudah cukup untuk menerapkan sustainable fashion. Padahal, prinsip keberlanjutan juga berkaitan dengan bagaimana kita memilih, menggunakan, hingga merawat pakaian.

Adrie Basuki, Circular Fashion Designer. Foto: Dok. Adrie Basuki

Adrie Basuki, Circular Fashion Designer mengatakan, menjalani prinsip sustainable fashion bukan berarti terus-menerus membeli produk yang menerapkan prinsip keberlanjutan.

Sebenarnya, kalau sustainable fashion diterapkan dengan membeli satu barang berkelanjutan setiap hari atau setiap minggu, itu sama saja bohong,” ujar Adrie kepada kumparanWOMAN saat ditemui.

Lalu, bagaimana cara memulai perjalanan sustainable fashion yang lebih tepat?

Tips memulai perjalanan sustainable fashion

Ilustrasi memilih pakaian. Foto: Shutterstock

Adrie mengatakan, langkah pertama yang bisa dilakukan untuk memulai sustainable fashion adalah memiliki capsule collection, yakni kumpulan pakaian versatile yang mudah dipadupadankan. Menurutnya, prinsip keberlanjutan juga berarti memastikan pakaian dapat digunakan dalam jangka waktu yang panjang.

“Kalau bisa memang punya namanya capsule collection. Jadi, koleksi ini akan banyak bisa dipakai di segala jenis occasion. Nanti tinggal dipadupadankan dengan barang-barang lain,” jelas Andrie.

Dengan begitu, desainer yang terkenal dengan kain marble-nya ini menjelaskan bahwa kamu sudah mulai menerapkan prinsip sustainable fashion. Selain itu, saat membeli pakaian, kamu perlu memahami kebutuhan dan gaya personal agar setiap item yang dimiliki tetap relevan sepanjang waktu dan tidak cepat bosan dikenakan.

Paling penting tahu kamu siapa, kemudian tahu yang cocok sama kamu apa, dan setiap pakaian yang kamu beli itu sudah bisa bayangkan, akan dipakai di kesempatan mana aja dengan gaya apa,” ujar Adrie.

Mengapa pakaian yang menerapkan prinsip keberlanjutan cenderung mahal?

Ilustrasi sustainable fashion. Foto: Shutterstock

Satu permasalahan yang kerap mengganjal ketika seseorang ingin memulai perjalanan sustainable fashion adalah harga. Pasalnya, produk fesyen yang menerapkan prinsip keberlanjutan biasanya dibanderol lebih tinggi dibandingkan produk fast fashion.

Adrie menjelaskan, harga tersebut sebanding dengan proses produksi yang lebih panjang dan pengerjaan yang masih banyak dilakukan secara manual.

“Kenapa kain sustainable itu mahal? Karena proses pembuatannya jauh lebih panjang. Kemudian rata-rata masih menggunakan tangan. Jadi, tentunya harga labor cost-nya juga tinggi,” ujar Adrie.

Ia menambahkan, di luar soal harga, membeli produk sustainable juga berarti membeli cerita di baliknya. Di saat yang sama, hal tersebut juga menjadi bentuk apresiasi terhadap jerih payah para pengrajin yang terus berupaya menjaga praktik fesyen berkelanjutan tetap hidup di Indonesia.

Kamu sudah mulai menerapkan prinsip sustainable fashion, Ladies?