World Mental Health Day: Arti Penting Pengakuan Lady Diana Alami Depresi-Bulimia

Putri Diana pernah secara terbuka menceritakan pengalamannya menghadapi depresi pascapersalinan dan bulimia di tengah kehidupannya sebagai anggota keluarga kerajaan Inggris.
Pengakuan tersebut ia sampaikan dalam wawancara bersama jurnalis Martin Bashir di program Panorama BBC pada November 1995.
Di balik citranya sebagai salah satu tokoh perempuan paling dikenal di dunia, Diana menghadapi pergulatan emosional yang tidak selalu terlihat oleh publik.
Ia juga menceritakan tekanan untuk mempertahankan citra sebagai Putri Wales yang sukses, meskipun kehidupan pribadinya tengah menghadapi persoalan.
Pengalaman Diana kembali relevan dalam peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh setiap 10 Oktober. Pada 2026, Organisasi Kesehatan Dunia mengangkat tema yang menekankan pentingnya mendengarkan pengalaman nyata orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental dan memastikan suara mereka ikut mendorong perubahan.
Alami Depresi Pascapersalinan
Diana menceritakan pengalamannya mengalami depresi pascapersalinan setelah melahirkan putra pertamanya, Pangeran William, pada 1982. Dalam wawancara Panorama yang disiarkan pada 20 November 1995, ia menggambarkan kondisi emosional yang dialaminya saat itu.
Diana mengatakan bahwa ia pernah bangun pada pagi hari dengan perasaan tidak ingin beranjak dari tempat tidur. Ia juga mengungkapkan perasaan tidak dipahami dan kondisi emosional yang sangat terpuruk.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu bagian penting dari pengakuannya mengenai kesehatan mental. Meski menjalani kehidupan yang tampak berkecukupan dan memperoleh perhatian luas dari publik, Diana tetap menghadapi kesulitan emosional dalam kehidupan pribadinya.
Pengalaman Diana juga mengingatkan bahwa kondisi sosial dan materi seseorang tidak selalu menggambarkan keadaan emosionalnya. Seseorang dapat terlihat baik-baik saja di hadapan orang lain, tetapi tetap membutuhkan dukungan ketika menghadapi persoalan kesehatan mental.
Idap Gangguan Makan alias Bulimia Selama Bertahun-tahun
Selain depresi pascapersalinan, Diana mengungkapkan bahwa ia mengalami bulimia selama beberapa tahun. Bulimia merupakan gangguan makan yang dapat melibatkan episode makan berlebihan, diikuti perilaku kompensasi yang berbahaya bagi kesehatan.
Dalam wawancara tersebut, Diana menggambarkan bulimia sebagai penyakit yang dirahasiakan. Ia menjelaskan bahwa kondisi itu berkaitan dengan harga diri yang rendah dan perasaan tidak berharga.
Diana juga menceritakan bahwa perilaku tersebut memberinya rasa nyaman untuk sementara waktu, tetapi kemudian diikuti perasaan negatif terhadap dirinya sendiri. Ia menggambarkannya sebagai pola yang merusak diri.
Ia turut menjelaskan bahwa rasa malu membuatnya sulit membicarakan bulimia kepada orang lain. Dalam wawancara itu, Diana merasa bahwa orang-orang lebih berfokus pada perilakunya dan menilainya sebagai tanda ketidakstabilan, alih-alih berusaha memahami persoalan yang mendasarinya.
Diana mengaitkan pengalaman bulimia tersebut dengan situasi dalam pernikahannya. Namun, keterangannya perlu dipahami sebagai pengalaman pribadi yang ia ceritakan, bukan sebagai dasar untuk menyimpulkan bahwa satu faktor tertentu merupakan penyebab tunggal gangguan makan yang dialaminya.
Pengakuan tersebut memperlihatkan bagaimana rasa malu dan stigma dapat membuat seseorang kesulitan mencari pertolongan. Gangguan makan merupakan persoalan kesehatan yang membutuhkan pemahaman dan dukungan, bukan penghakiman.
Tekanan untuk Mempertahankan Citra sebagai Putri Wales
Dalam wawancara yang sama, Diana mengakui bahwa ia merasa harus mempertahankan citra sebagai Putri Wales yang sukses di mata publik.
Tekanan tersebut hadir di tengah perhatian media yang besar terhadap kehidupan pribadinya. Pada saat bersamaan, Diana juga menghadapi persoalan dalam pernikahannya dengan Charles, yang saat itu merupakan Pangeran Wales.
Diana menceritakan bahwa ia dan Charles berusaha mempertahankan keadaan di hadapan publik karena tidak ingin mengecewakan masyarakat. Sementara itu, menurut pengakuannya, terdapat kecemasan dan persoalan di dalam kehidupan pribadi mereka.
Ia juga merasa bahwa perilaku yang terlihat dari luar kerap menjadi pusat perhatian, sedangkan persoalan di baliknya tidak selalu dipahami.
Kisah tersebut memberikan gambaran tentang kesenjangan antara citra publik dan pengalaman pribadi seseorang. Meski demikian, pengalaman Diana tidak dapat digunakan untuk menyimpulkan bahwa tekanan sebagai anggota keluarga kerajaan merupakan satu-satunya penyebab kondisi kesehatan mentalnya.
Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026: Pengalaman Nyata Perlu Didengar
Hari Kesehatan Mental Sedunia diperingati setiap 10 Oktober untuk meningkatkan kesadaran mengenai persoalan kesehatan mental dan mendorong dukungan bagi orang yang membutuhkannya.
Pada 2026, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengangkat tema yang dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi “Pengalaman Nyata Didengar: Suara Nyata, Perubahan Nyata.”
Tema ini menekankan bahwa pengalaman orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental perlu mendapat tempat dalam penyusunan kebijakan, layanan, dan keputusan yang memengaruhi kehidupan mereka.
Menurut WHO, mendengarkan pengalaman seseorang saja belum cukup. Mereka juga perlu dilibatkan secara bermakna dalam pengambilan keputusan, perancangan layanan, serta evaluasi dukungan kesehatan mental.
Pengalaman langsung dapat membantu mengidentifikasi hambatan yang mungkin tidak terlihat oleh orang yang tidak pernah mengalaminya.
Kisah Diana relevan dengan pesan tersebut karena memperlihatkan pentingnya ruang bagi seseorang untuk menceritakan pergulatannya tanpa takut dipermalukan atau disalahkan.
Namun, setiap orang memiliki pengalaman dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, keterbukaan seorang tokoh publik tidak dapat mewakili seluruh pengalaman orang yang hidup dengan kondisi kesehatan mental.
Mendengarkan dengan empati, menghindari stigma, dan mendukung seseorang untuk memperoleh bantuan yang tepat merupakan langkah penting dalam membangun lingkungan yang lebih peduli terhadap kesehatan mental.
