Yusuke Takahashi: Ciptakan Busana Rajut Fungsional & Sustainable Bersama CFCL

Bagi Yusuke Takahashi, Founder dan Creative Director CFCL, pakaian tidak hanya harus fungsional, tetapi juga penuh makna. Di tengah gempuran garmen yang berakhir jadi polutan Bumi, Yusuke ingin menghadirkan item fashion apik dengan langkah yang berkelanjutan.
Inilah yang diungkap oleh Yusuke dalam wawancara eksklusif bersama kumparanWOMAN. Brand fashion luxury yang didirikan pada 2020, bernama Clothing For Contemporary Life—disingkat CFCL—hadir di Indonesia membawa angin baru bagi lanskap mode Tanah Air.
CFCL adalah jenama mode Jepang yang berfokus pada penggunaan material recycle dan ramah lingkungan, kemudian diolah dengan metode yang sustainable.
Di CFCL, Yusuke mengomandoi penggunaan teknologi bernama 3D computer-programmed knitting technology. Pada dasarnya, teknologi ini memungkinkan pembuatan kain rajut dari benang ramah lingkungan menggunakan komputer.
“Jadi, perajutan menggunakan komputer tidak melibatkan proses pengguntingan dan penjahitan. Kami bisa menciptakan pakaian langsung dari benangnya. Jadi, kami bisa menciptakan pakaian dengan rantai pasok yang sangat pendek,” jelas Yusuke ketika ditemui di Selera Keraton, Jakarta Pusat, Rabu (2/9).
Dengan metode ini, CFCL mampu menciptakan pakaian dengan limbah fashion seminimal mungkin. Berkat komitmen brand terhadap keberlanjutan lingkungan dan sosial, transparansi, serta akuntabilitasnya, jenama ini juga menjadi brand pakaian Jepang pertama yang menerima sertifikasi B Corporation Certification.
Menilik Pakaian Lansiran Yusuke Takahashi untuk CFCL
Selaras dengan cara penciptaan, artikel pakaian dan aksesori CFCL hadir dalam material rajutan yang ditahbiskan dengan nama Knit-Ware.
Knit-Ware CFCL berbeda dengan pakaian rajut yang biasa ditemui di pasaran. Jika biasanya rajutan identik dengan sweater tebal untuk dikenakan di cuaca dingin, atau setidaknya kardigan untuk menghangatkan lengan, pakaian rajut CFCL punya desain berbeda.
Sebut saja pakaian CFCL dalam koleksi terbarunya, Vol. 12. Yusuke membawa twist menarik dalam jenis-jenis pakaian basic. Blus rajut dibuat asimetris, sehingga bisa dipakai dengan berbagai cara; dress elegan berstruktur bergelombang dengan material elastis, sehingga bisa dikenakan oleh perempuan dengan berbagai ukuran tubuh; dress elegan dengan material rajut yang menyerupai suede; rok asimetris dengan bahan rajut bertabur glitter; dan masih banyak lagi.
CFCL menjadi rumah bagi pakaian rajut dengan siluet unik, refined, dan elegan; membuktikan bahwa knitwear tidak harus selalu simpel dan seragam.
Dalam merancang pakaian CFCL, Yusuke memadukan berbagai jenis benang. Contohnya adalah recycled polyester yang dipadukan dengan benang organik seperti katun, New Zealand wool, Inner Mongolian cashmere, sampai benang acetate. Perpaduan ini menciptakan hasil akhir rajutan yang berbeda-beda, disesuaikan dengan siluet akhir pakaian yang turut beragam.
“Bahan rajut identik dengan sweater atau pakaian kasual untuk musim dingin, jadi sangat mudah untuk membuat sweater dengan rajutan. Namun, tantangan kami di sini adalah mendesain sesuatu yang berbeda, seperti gaun elegan untuk acara malam menggunakan bahan rajut. Hal ini cukup sulit,” ungkap Yusuke.
Inilah mengapa, dia bermain dengan perpaduan benang. “Bahan polyester, misalnya, dipadukan dengan katun untuk menciptakan kemeja. Baju ini akan cocok untuk musim panas. Terkadang, saya mengombinasikan wol dengan acetate atau sutra.”
Di Indonesia, CFCL tersedia di ritel luxury Masari secara offline dan online. Aksesori, tas rajut, dan artikel pakaiannya dipasarkan mulai dari Rp 3,6 juta.
Ingin Ciptakan Pakaian dengan Makna
CFCL hadir di 2020, saat dunia sudah lelah dengan limbah tekstil yang menumpuk. Belum lagi berlimpahnya pakaian jadi yang kurang fungsional dan tanpa tujuan, bak tiket langsung menuju tempat pembuangan akhir. Melihat industri fashion kian carut marut, Yusuke ingin membawa kontribusi hijau.
“Industri fashion punya banyak sekali masalah. PBB menyebut industri ini sebagai industri paling polutif kedua di dunia, ditambah dengan meningkatnya fast fashion. Banyak sekali pakaian yang tersedia di dunia melebihi jumlah perusahaan; banyak sekali pakaian tanpa makna,” tegas sang desainer.
“Itulah mengapa, saya memutuskan untuk menciptakan pakaian dengan makna.”
Eks desainer Issey Miyake Men ini mendirikan CFCL usai banyak pertimbangan. Selain karena kondisi industri fashion dunia, kelahiran putrinya juga menjadi dorongan.
“Saya berkuliah desain fashion. Saat masih menjadi seorang mahasiswa, saya ingin membangun brand sendiri di kemudian hari. Lalu, saat putri saya lahir, saya kembali berpikir keras soal pekerjaan dan masa depan saya. Mungkin, saya harus lebih jujur dengan perasaan saya. Barulah saya memutuskan untuk mendirikan CFCL,” ucap lulusan Bunka Fashion Graduate University ini.
Baginya, CFCL menjadi ruang untuk menciptakan pakaian mewah untuk masyarakat.
“Dulu, Issey Miyake mengajarkan saya tentang ‘why’, mengapa kami menciptakan suatu pakaian. Ini adalah pakaian untuk masyarakat yang lebih baik. Jadi, ini adalah ide utama saya yang sangat penting: Kami harus menciptakan pakaian untuk masyarakat,” tutupnya.
