Konten dari Pengguna

Excited: dari Elektron hingga Emosi Manusia

Tantri Aryani Hayati

Tantri Aryani Hayati

Profil ini hadir untuk membawa fisika keluar dari ruang kuliah dan mengalihkannya menjadi pengetahuan publik, karena setiap orang berhak menikmati keajaiban fisika. Medical Physics-Universitas Diponegoro

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Tantri Aryani Hayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber: dokumen pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber: dokumen pribadi

Pernahkah kamu merasa berdebar ketika kamu memiliki janji temu di akhir pekan mendatang dengan pasanganmu? Atau, tidak sabar menunggu waktu berlibur di pulau tropis dengan angin pantai sepoi-sepoi yang sudah kamu rencanakan jauh-jauh hari? Mungkin sesederhana menunggu paket yang kamu pesan lewat online shop berhasil membuatmu bolak-balik mengecek status pengiriman di ponselmu?

Hal-hal di atas mungkin sudah tidak asing bagimu, karena itu hanya sebagian kecil dari kompleksnya peristiwa psikologis yang sering kamu sebut dengan perasaan excited. Menunggu sesuatu dengan perasaan antusias, semangat, berdebar, tidak sabar, dan senang.

Namun, bagaimana hal itu bisa terjadi? Menariknya, rangkaian perasaan tersebut tidak hanya terjadi pada level psikologis saja, tetapi juga mencerminkan pola yang sangat mirip dengan fenomena fisika yang akan kubahas dalam tulisanku kali ini.

Eksitasi Emosional dalam Psikologi

Dalam disiplin ilmu psikologi, excited adalah bentuk emosi positif yang ditandai oleh adanya aktivasi fisiologis dan rasa senang. Emosi ini terdiri dari tiga bentuk:

  1. Excited antisipatoris (anticipatory excitement), misalnya “Aku tidak sabar untuk bertemu denganmu.”

  2. Excited imersif (immersive excitement), misalnya “Konser musik rock itu benar-benar menegangkan dan menggugah.”

  3. Excited hasil (outcome excitement), yaitu rasa excited yang muncul setelah melihat hasil atau pencapaian tertentu, misalnya “Aku benar-benar excited saat memenangkan 2 tiket.”

(Ruijuan Wu, 2024)

Nah, peristiwa ini sangat menarik karena memiliki kemiripan dengan sesuatu yang terjadi dalam dunia skala mikroskopis, yakni atom. Dibalik sensasi berdebar, lonjakan perasaan, kesenangan, dan antusiasme terhadap berbagai hal, terdapat konsep fisika yang menggunakan istilah yang sama, yaitu excited.

Meski kamu tidak dapat melihat fenomena fisis ini secara langsung seperti apa yang terjadi dalam fenomena fisiologis dan psikologis yang aku sebutkan tadi, serta dalam konteks yang jauh berbeda, akan tetapi proses yang berlangsung di dalam atom sebenarnya menunjukkan pola yang sangat mirip. Dalam kata lain, manusia dan atom di dunia ini sama-sama dapat mengalami peristiwa excited. Dan dari sinilah aku akan menggeser cerita kecil dari dunia emosi menuju ke bagaimana fisika memainkan peranannya.

Ketika Elektron Naik Level: Eksitasi dalam Fisika

Dalam dunia mikroskopis, kita mengenal atom sebagai unit terkecil dari suatu unsur kimia yang masih memiliki sifat unsur tersebut.

Semua benda yang kamu lihat, tubuh manusia, udara, air, batu, bahkan bintang sekalipun tersusun dari atom.

Atom sendiri tersusun atas:

1. Inti atom (nucleus)

  • Berisi proton (bermuatan positif) dan neutron (tidak bermuatan).

  • Hampir seluruh massa atom berada di inti.

2. Elektron

  • Partikel bermuatan negatif.

  • Bergerak mengelilingi inti pada daerah tertentu yang disebut orbit atau tingkat energi.

Atom bisa dibayangkan sebagai sistem miniatur yang terdiri dari inti padat bermuatan positif dan netral, serta elektron-elektron ringan yang bergerak mengelilinginya. Dari unit terkecil inilah seluruh dunia fisik terbentuk. Sebagai analogi, jika terdapat gedung besar, atom adalah bata penyusunnya. Meskipun sangat kecil, cara bata disusun dan sifat setiap bata menentukan bentuk dan kegunaan gedung tersebut.

Dari struktur atom di atas, elektron-elektron inilah yang memiliki “kebebasan” bergerak dan berpindah-pindah tingkat energi. Nah, perpindahan elektron ke berbagai tingkat energi inilah yang disebut dengan eksitasi.

Eksitasi mengacu kepada perpindahan elektron dari tingkat energi rendah ke tingkat energi yang lebih tinggi. Peristiwa ini terjadi karena elektron mendapatkan sumber energi yang cukup untuk menyebabkan dia berpindah dari kondisi stabil (ground state) ke kondisi tereksitasi (excited state). Energi tersebut bisa saja berasal dari cahaya, panas, medan magnet/listrik, ataupun tumbukan partikel. Jadi, bisa dibilang sebenarnya kondisi tereksitasi ini adalah kondisi di mana atom menjadi tidak stabil. (Satz, H. 2020)

Namun, elektron tidak selamanya akan berada dalam kondisi excited. Ia akan selalu mencari cara agar dapat kembali ke kondisi stabil, dan selama kembali ke kondisi stabil tersebut, elektron melepaskan kembali energinya dalam bentuk foton ataupun panas.

Menarik Hubungan Kesamaan antara Emosi Manusia dan Atom

Nah, kalau kamu perhatikan, peristiwa yang terjadi pada manusia ketika ia merasa excited secara emosional dengan elektron yang tereksitasi memiliki kemiripan konsep yang bisa dikaitkan meski ranahnya jauh berbeda. Manusia merasakan emosi positif berupa excitement ketika mereka mendapatkan rangsangan seperti sesuatu yang menyenangkan dan membuat tubuh memberikan respons fisiologis di mana tubuh akan memasuki kondisi aktivasi di luar kondisi stabilnya. Misalnya saja detak jantung menjadi lebih cepat, aktivitas otak meningkat, frekuensi bernapas menjadi lebih sering, hingga merasakan sensasi kupu-kupu dalam perut.

Menarik, bukan? Respons tubuh yang aku sebutkan tadi sangat mirip dengan yang terjadi pada elektron. Ketika mendapatkan energi, ia akan mengalami perpindahan tingkat energi dan menyebabkan kondisinya menjadi tidak stabil atau excited. Pada titik ini, peristiwa fisika, biologis, dan psikologi bertemu pada prinsip yang sama, yaitu respons terhadap energi. Elektron menyerap energi dan naik tingkat, manusia menerima rangsangan emosional dan meningkat aktivasi fisiologisnya.

Namun, hal tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Elektron akan selalu kembali ke kondisi dasar (ground state) dengan melepaskan energinya dalam bentuk foton atau panas, begitu pula manusia. Setelah peristiwa yang membuatnya merasa excited/rangsangannya berlalu, ia akan membuang energi dan kembali ke kondisi stabil melalui penurunan aktivitas fisiologisnya, seperti merasa lega/puas, atau kembali tenang, detak jantung menurun, pernapasan stabil, aktivitas otak mereda, dan sensasi kupu-kupu di perut pun hilang seiring tubuh kembali pada keadaan dasarnya.

Dengan kata lain, baik manusia maupun elektron sama-sama menunjukkan fenomena naiknya energi akibat adanya rangsangan, diikuti usaha untuk kembali ke kondisi stabil. Pada manusia, energi itu tampak sebagai luapan emosi positif. Pada elektron, ia muncul sebagai perubahan tingkat energi dan pelepasan foton. Dua dunia yang tampak tidak berkaitan ini ternyata diikat oleh satu prinsip universal: setiap sistem merespons energi dengan cara meningkatkan aktivasi sebelum kembali mencari keseimbangan.

Jadi, lain kali ketika kamu merasa excited menunggu sesuatu yang kamu suka, ingatlah bahwa di dunia mikroskopis, elektron-elektron kecil juga sedang merasakan excited “versi mereka”. Bedanya hanya skala, polanya tetap sama. Dari manusia hingga atom, semesta punya cara yang unik untuk berdebar.

Sampai jumpa di tulisanku berikutnya!