Dramawan: Perbedaan Arus Pemikiran dalam Sastra Drama

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta - Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Wulan Nur Suciawaty tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan bentuk sastra drama Indonesia terjadi ketika mulai berkembangnya bentuk teater Barat di Indonesia. Tahukah kalian bentuk sastra drama di Indonesia sudah ada di tahun 1926 hingga Indonesia merdeka, sastra drama Indonesia memiliki arus pemikiran yang berbeda mengikuti persoalan yang terjadi pada setiap zamannya. Maka dari itu, kita kupas bersama tentang pemikiran apa saja yang ada pada setiap perkembangannya?
Perkembangan bentuk sastra drama di mulai pada zaman penjajahan di tahun 1926-1949, lalu dibagi menjadi beberapa dasawarsa, yaitu zaman Pujangga Baru (1930-an), zaman Jepang (1942-1945), dan zaman setelah kemerdekaan Indonesia atau Revolusi (1945-1949). Kalian pasti pernah belajar sejarah Indonesia, bukan? Bagaimana para pahlawan membela dan berjuang dalam memerdekakan Indonesia. Banyak pertumpahan darah, banyak yang dikorbankan demi kedamaian Indonesia.
Sama halnya dengan para Sastrawan dan Dramawan. Mereka juga melewati zaman penjajahan, membela dan berjuang demi Indonesia dengan berkarya, dan mengisahkannya ke dalam sebuah naskah drama yang nantinya akan diperlihatkan sebagai sebuah kisah untuk mengingat perjuangan para pahlawan yang sesungguhnya.
Para dramawan dalam menerbitkan suatu naskah drama tak semudah yang kita pikirkan di zaman modern ini. Bagaimana susahnya dahulu saat zaman penjajahan mereka harus diam-diam. Diam-diam dalam artian ini adalah menceritakan kehidupan zaman penjajahan dan kejamnya para penjajah yang kala itu dikuasai oleh para penjajah tetapi harus dibatasi karena peraturan.
Pada tahun 1926, naskah drama pertama indonesia yang diterbitkan adalah naskah Bebasari karya Rustam Effendi. Pemikiran-pemikiran para dramawan dari tahun 1926-1949 menyampaikan pemikiran mereka pada naskahnya tentang hari depan bangsa, suatu bentuk perjuangan para golongan terpelajar dan cabang pemikiran kaum intelektual dalam membentuk negara dan bangsa Indonesia pada zaman penjajahan.
Bentuk Pemikiran Dramawan Zaman Pujangga Baru (1930-an)
Pada zaman Pujangga Baru ini, jika kita lihat drama-drama yang diterbitkan di pujangga baru. Dapat terlihat bahwa para sastrawan maupun dramawan mengisahkan tentang kehidupan saat penjajahan belanda dengan setting kerajaan kuno di Jawa. Jadi, kalian bisa bayangkan isi naskahnya akan berbau kerajaan. Seperti nama tokoh yang menggunakan nama kerajaan Jawa kuno. Pada naskah drama Sanusi Pane yang berjudul Kertajaya, menggunakan nama tokoh Raja Kertajaya alias Dandang Gendis dan Dewi Amisani.
Pemikiran para sastrawan dan dramawan di zaman ini, mengisahkan tentang seorang pimpinan yang lebih memetingkan dirinya sendiri dan mengorbankan rakyatnya, namun dipoles dengan setting kerajaan. Dan juga ada pemikiran tentang “demokrasi”. Ada Sanusi Pane, Armijn Pane, Muhammad Yamin, dan Ajirabas memasukkan zaman kerajaan Majapahit, Singasari, Kahuripan, Udayana Bali, Pajajaran dan Madura ke dalam naskah drama mereka.
Bentuk Pemikiran Dramawan Zaman Jepang (1942-1945)
Salah satu penjajah yang menjajah Indonesia adalah negara Jepang. Jika pada zaman Pujangga Baru para dramawan dengan pemikiran tentang “demokrasi”, berbeda dengan drama zaman Jepang yang para dramawan lebih kepada pemikiran tentang kesadaran akan harga diri dan kesatuan bangsa. Pada zaman ini, para seniman tidak boleh mengandung unsur propaganda Jepang di dalam naskah dramanya. Jadi, yang ditujukan dalam naskahnya harus tentang mengajak rakyat (rakyat Indonesia) agar mau berbakti kepada Jepang sebagai tugas mulia tanah air.
Jika dilihat bagaimana para seniman drama tidak boleh karyanya mengandung unsur propaganda Jepang, yang kala itu Indonesia sedang dijajah oleh Jepang dan dijadikan budak oleh Jepang. Ingin menyampaikan aspirasi, tetapi terhalang dengan peraturan. Jika melanggar, maka hukumannya penjara. Sangat terlihat bagaimana sulitnya para seniman drama dalam berkarya.
Hanya karya Hinatu Eitaroo dan Armijn Pane yang memasukkan pemikiran semurni-murninya tentang kesadaran akan harga diri dan kesatuan bangsa itu lebih diarahkan untuk kepentingan propaganda perang Jepang. Sedangkan dramawan lainnya tetap mengandung unsur propaganda, namun tertutupi dengan mutu seninya sehingga tersamar.
Bentuk Pemikiran Dramawan Setelah Kemerdekaan (1945-1949)
Lain halnya dengan zaman sebelumnya, di zaman setelah Kemerdekaan (zaman revolusi) ini pemikiran para seniman drama lebih tertarik kepada pemikiran tentang persoalan golongan Indo-Belanda, kedudukan Indonesia di zaman Kemerdekaan, persoalan tentang bagaimana mengisi Kemerdekaan, serta pandangan para kaum terpelajar Indonesia terhadap masalah Indo-Belanda, begitu Kemerdekaan dimaklumkan, dan Belanda meninggalkan Indonesia. Salah satu drama yang ditulis pada zaman ini, yaitu Antara Bumi dan Langit karangan Armijn Pane.
Dengan ini, kalian dapat mengetahui bahwa setiap tahun dan setiap zaman terus berganti dan berkembang, pemikiran-pemikirannya pun akan terus berubah sejalan dengan proses, kejadian, dan peristiwa yang dipersoalkan pada zaman tersebut. Kita tidak tahu ke depannya akan seperti apa, dan pemikiran seperti apa nantinya yang berkembang.
