Konten dari Pengguna

Tips Menjadi Guru Kesayangan Siswa

RF Wuland

RF Wuland

Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang suka menulis untuk merefleksikan dirinya.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari RF Wuland tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siswa diam bukan berarti mereka tidak tahu apa yang ingin mereka katakan, hanya saja mereka tidak memiliki keberanian untuk menyampaikan pendapat dan gagasan. Di sini fungsi dan peran guru yang harus paham situasi, yang terkadang terlupakan bahkan guru malah cenderung lebih berfokus kepada siswa yang aktif. Tulisan ini bukan bermaksud memojokkan guru. Hanya saja penulis juga pernah melakukan kesalahan ini.

Guru bukan hanya sebagai seorang yang mentransferkan ilmu dari dirinya ke peserta didik atau siswa. Guru pada zaman sekarang bukan lagi yang mendominasi kelas dan semua pusat harus padanya. Guru dewasa ini berperan menjadi fasilitator yang menjalankan alur kegiatan di kelas agar berjalan lancar.

Tugas guru sebagai fasilitator cenderung lebih berat dibanding hanya menyalurkan ilmu-ilmunya. Memang materi pembelajaran itu penting, tetapi metode pembelajaran lebih penting, dan semangat jiwa guru jauh lebih penting dari itu semua. Karena tugas fasilitator bagaimana membuat suasana kelas nyaman, kondusif, dan siswa merasa tidak terancam.

Guru merupakan orang yang disegani dan menjadi perhatian besar semua murid. Guru harus paham posisinya dan memperhatikan betul segala tindakannya. Ternyata ada kunci penting yang terkadang menjadi kekhilafan seorang guru, yaitu kepedulian. Setiap pembelajaran di kelas tidak bisa dipungkiri sedikit banyak pasti siswa dituntut untuk mengambil risiko. Entah itu risiko besar ataupun kecil semua tergantung kondisi mental setiap peserta didik.

Presentasi di depan kelas misalnya, beberapa dari siswa ada yang menganggap itu hal wajar dan biasa saja. Namun, beberapa yang lain tidak berani dan menganggap presentasi di kelas merupakan sesuatu yang menakutkan, mereka berpikir bagaimana nanti kalau dipermalukan, kalau ia tidak bisa, dan ditertawakan semua kelas.

Guru dituntut bisa membaca situasi dan mencairkan kebekuan yang ada di dalam kelas. Siswa akan berani menampilkan gagasan ide atau bahkan mengungkapkan perasaannya saat ia merasa dipedulikan. Kepribadian seorang guru memang merupakan hal penting dalam pembelajaran, akan tetapi itu belum memadai untuk mengkondisikan mental peserta didik.

Guru juga harus mempunyai strategi untuk mengkomunikasikan kepeduliannya kepada siswa mereka. Jika itu sudah terpenuhi, siswa tidak lagi berpikiran bagaimana nanti jika tidak ada yang memperhatikan, bagaimana nanti jika tidak bisa, dan ia ditertawakan. Karena itu semua luluh, saat ia percaya bahwa gurunya peduli padanya dan tidak akan meremehkan gagasan dan pendapatnya.

Berikut ini beberapa tips yang bisa dilakukan guru untuk mengkomunikasikan kepedulian kepada siswanya.

Pertama, humor. Ia memainkan peran untuk memecah kebekuan yang ada di kelas. Humor tidak hanya berlaku untuk jokes-jokes ala komedian, tetapi hanya sekadar menertawakan diri sendiri saat melakukan kesalahan di depan kelas dan tertawa bersama siswa sudah bisa memberantas sekat antara guru dan siswa.

Ilustrasi guru mengajar di kelas.

Kedua, jadilah orang yang sesungguhnya. Jangan terpaku saat menjadi guru dan meninggalkan kehidupan nyata. Tidak perlu takut untuk memasukkan kehidupan pribadi ke dalam pembelajaran dan beranikan diri untuk masuk kehidupan para siswa. Saat guru menceritakan hobi, makanan, atau pengalamannya jika sama seperti yang dirasakan murid hal ini cenderung membuat murid merasa lebih terhubung dan mau mendengarkannya.

Ketiga, ramah. Pastikan siswa merasa diterima dan nyaman di kelas. Belajarlah untuk menghafal nama-nama siswa, karena siapa pun pasti akan senang mendengar namanya disebut. Berikan waktu luang kepada siswa, misal dalam bentuk kelas tambahan bagi yang belum paham.

Jika ada siswa yang terlambat memasuki kelas jangan pasang wajah menunggu cemas akan keterlambatannya. Karena hal ini cenderung akan membuat suasana tegang sepanjang pelajaran. Sapa siswa tersebut dengan senyuman dan tanyakan alasan keterlambatannya.

Keempat, Peduli kepada siswa sebagai manusia bukan hanya sebatas peserta didik. Pahami latar belakang setiap siswa dan cari informasi seputar hobi, budaya, bagaimana cara mereka menghabiskan waktu. Jika guru juga mengetahui sedikit banyak tentang kesukaan siswa maka akan lebih mudah membuat pembelajaran diterima dengan mengilustrasikan kehidupan siswa dalam pembelajaran.

Kelima, Peka terhadap masalah pribadi siswa. Tidak semua siswa masuk kelas dalam keadaan hati yang baik-baik saja. Menjadi tugas terberat guru untuk memahami kondisi mental siswa, saat siswa shock mempunyai adik baru, putus cinta, ia merupakan anak terpendek di kelas, atau siswa anak broken home.

Perhatian ekstra ke anak yang sedang mempunyai masalah ini merupakan kepedulian yang dibutuhkan siswa untuk tetap bersemangat menuntut ilmu. Bagaimana jika mereka tidak mau bercerita? Setiap orang akan menceritakan masalahnya kepada orang yang ia percaya dan yakin bahwa ia peduli dengan tulus.

Keenam, kolaborasikan siswa untuk bisa bekerja sama. Siswa yang memiliki komunikasi yang baik sesama teman kelasnya, berkemungkinan kecil memiliki masalah sosial. Buatlah pembelajaran sedemikian mudah bagi siswa untuk saling berinteraksi, dengan berkelompok misalnya. Siswa lebih leluasa mendiskusikan pandangan mereka bersama siswa lainnya.

Ketujuh, evaluasi dan umpan balik berkelanjutan. Libatkan siswa dan orang tua untuk mengkoreksi progres siswa di kelas. Tidak hanya perihal yang negatif yang disampaikan kepada siswa dan orang tuanya. Beritakan juga progres dan peningkatan apa saja yang dicapai siswa. Jangan hanya selama satu dua kali dalam setahun setiap penerimaan rapor.

Coba untuk secara rutin tiap bulan atau berapa bulan sekali untuk memberitakan kinerja siswa kepada orang tua. Sehingga orang tua dan siswa paham yang telah mereka lakukan dan bagaimana memperbaikinya.

Kedelapan, menjaga diri sendiri. Tentukan apa yang bisa membuat anda sebagai guru nyaman, segar, dan terus berenergi, misalnya olahraga berenang, membeli buku favorit, menonton film, memasak, dan lain sebagainya. Jadwalkan waktu untuk me time.

Guru lebih siap memenuhi kebutuhan siswanya, jika ia memprioritaskan kesehatan emosionalnya selesai.

Semoga beberapa tips ini mampu membuat peserta didik kita nyaman di kelas. Lakukan ini dengan tulus, bahwasanya guru tidak hanya peduli kepada siswa atas dasar akademi saja, tetapi peduli kepada mereka sebagai manusia.