Kenyal, Manis, Penuh Makna: Cerita Mochi dari Jepang

Profesi saya saat ini seorang mahasiswa dari universitas Andalas. Tujuan saya membagikan informasi-informasi unik dan menarik untuk pembaca dan juga ini merupakan sebagian dari tugas saya di beberapa mata kuliah.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang tidak tahu makanan dari tepung ketan ini? Mochi merupakan salah satu makanan tradisional Jepang yang sudah banyak dikenali berbagai negara. Makanan ini berasal dari tepung ketan yang ditumbuk hingga halus dan kenyal dan untuk teksturnya itu unik serta lembut tapi elastis.
Di balik kesederhanaannya, mochi ini terdapat makna budaya yang mendalam. Mochi itu bukan sekadar makanan saja, tapi juga merupakan simbol tradisi, filosofi hidup, dan sebagai identitas masyarakat Jepang yang diwariskan lintas generasi serta menjadi bagian penting dalam berbagai perayaan di Jepang.
Secara sejarahnya, mochi sudah lama dikonsumsi sejak zaman Heian (794-1185). Hadirnya mochi sendiri tidak sebagai santapan biasa, tapi juga sebagai persembahan yang dipercayakan membawa keberuntungan dan kemakmuran. Salah satu momen paling populer untuk menikmati mochi adalah ketika perayaan Tahun Baru Jepang atau Oshogatsu. Di antara banyak mochi, ada salah satu yang terkenal yaitu Kagami Mochi (dua lapisan mochi bundar yang ditumpuk), biasanya diletakkan di rumah sebagai persembahan untuk kesejahteraan keluarga. Tradisi ini menunjukkan bagaimana makanan sederhana bisa memiliki makna spiritual yang besar.
Proses pembuatan mochi tradisional dikenal dengan “mochitsuki”. Proses pembuatannya dilakukan dengan cara menumbuk beras ketan menggunakan palu kayu besar (kine) di dalam lesung (usu). Kegiatan itu biasanya dilakukan secara berkelompok dengan nyanyian sebagai bentuk kode untuk menjaga tempo dalam penumbukan adonannya. Selain menghasilkan adonan mochi yang elastis tersebut, mochitsuki juga menciptakan suasana kebersamaan dan kerja antar anggota masyarakat di Jepang. Walaupun, tahun berganti mochi yang juga bisa diproduksi oleh mesin modern agar lebih cepat dan praktis, untuk tradisi mochitsuki tetap dipertahankan dalam acara khusus ataupun festival. Hal ini menunjukkan kalau nilai budaya yang terkandung dalam proses pembuatan mochi lebih dari sekadar hasil akhir yang berupa makanan, melainkan juga terdapat pengalaman sosial yang mempererat hubungan antara individu.
Mengenai mochi, makanan tradisional ini juga memiliki bentuk beragam. Seperti, daifuku merupakan mochi yang isi dalamnya terdapat pasta kacang merah manis (anko), sedangkan Ichigo Daifuku menambahkan potongan stroberi segar di dalamnya. Dan ada pula Yatsuhashi yang berasal dari Kyoto yang berbentuk segitiga dan aromanya seperti kayu manis. Serta Sakura Mochi merupakan mochi yang berwarna merah muda yang dibungkus daun sakura asin, biasanya disajikan saat musim semi. Keberagamannya itu memperlihatkan bagaimana mochi tidak hanya dipertahankan dalam bentuk tradisional, tapi juga terus beradaptasi dengan selera dan kebutuhan zaman.
Lebih jauh, mochi juga menjadi simbol kebersamaan. Proses mochitsuki yang dilakukan secara kolektif memperlihatkan pentingnya kerja sama dan solidaritas dalam masyarakat. Dengan demikian, mochi bukan hanya makanan, tetapi juga sarana untuk memperkuat ikatan sosial dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap tradisi.
Mochi mengandung filosofi yang mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jepang. Kesederhanaannya yaitu bahan dasar melambangkan penghargaan terhadap hal-hal kecil dalam kehidupan. Proses penumbukan yang membutuhkan tenaga dan kesabaran mencerminkan nilai ketekunan. Selain itu, kebiasaan orang Jepang menyajikan mochi itu pada momen-momen tertentu, seperti Tahun Baru atau festival musiman lainnya. Hal ini menunjukkan penghargaan terhadap bagaimana bumi mempengaruhinya dan juga tentang waktu.
Mochi itu bukan sekadar makanan, tapi bisa juga mencerminkan nilai kesederhanaan, ketekunan dan juga penghargaan terhadap musim serta momen tertentu. Dengan mengenal mochi ini, kita tidak hanya tahu rasa dari makanan tradisional itu, tapi juga bisa paham tentang nilai-nilai budayanya yang ada di dalam setiap gigitan mochi itu.
Wulandari, Mahasiswa Universitas Andalas.
