Konten dari Pengguna

Bakso dan Mi Ayam Mbak Merry

Wuryanti Sri

Wuryanti Sri

Ibu rumah tangga dan pemerhati pendidikan yang gemar menulis

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Wuryanti Sri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mie Ayam Bakso, Sumber : Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Mie Ayam Bakso, Sumber : Pexels

Sudah seminggu putri sulungku belum memberi kabar, setelah beberapa hari lalu kuminta mengajak adiknya agar bisa ikut kerja di pabrik tempat ia mengadu nasib setahun terakhir ini. Alasannya masih tetap sama. Pabrik belum bisa menerima karyawan baru gara-gara pandemi. Aku selalu merasa iba ketika melihat putri keduaku yang setiap hari membantuku berjualan bakso dan mi ayam tanpa mengenal lelah dan masih harus melayani ketiga adiknya.

Hari masih sore ketika kulihat stok bakso dan mi ayam di warung tampak menipis, para pelanggan masih berdatangan. Sempat terbesit mau masak lagi untuk jualan malam hari namun ragu. Aneka gorengan laris manis sejak siang hari diserbu para ABG yang lalu lalang kembali dari acara sepeda santai. Tak henti-hentinya aku bersyukur kepada-Nya yang telah memudahkan urusanku dan telah menambah rejeki keluargaku di hari itu.

Sebelum daganganku benar-benar habis dan ketika para pelanggan belum beranjak dari kursi, kulihat sebuah mobil hitam berhenti persis di depan warung. Dari nomor polisi aku tahu itu mobil Jakarta. Aku berpikir paling-paling orang kota yang mau menanyakan sebuah alamat.

Perhatianku kembali ke pelanggan yang satu persatu mulai meninggalkan warung setelah membayar sejumlah uang sesuai yang mereka makan. Saat konsentrasi pada rekapan pelanggan terakhir, kudengar seseorang mengucapkan salam, Assalamualaikum, dengan vokal bariton yang tak asing di telingaku. Aku angkat kepalaku yang sejak tadi tertuju pada layar kalkulator. Dia. Ya, seakan mimpi, dia datang ke rumahku?

*

Aku tak pernah menyangka diberi banyak anak oleh Yang Maha Kuasa. Tahun ke dua usai menikah dengan Mas Tedy yang duda dua anak, lahirlah putri pertamaku yang disusul tahun berikutnya lahir yang kedua, juga perempuan. Dua tahun setelah itu, lahir yang ke tiga masih perempuan juga. Rumahku menjadi semakin ramai dengan hadirnya dua jejaka tanggung, anak Mas Tedy yang ikut dengan kami setelah mamanya meninggal.

Lima anak sudah cukup membuatku sering keletihan karena kuasuh sendiri. Anak-anak yang belum dewasa dan kembang tumbuh di Jakarta, kebutuhan hidup keluarga kami bisa dibilang tidak sedikit. Syukurlah, sebagai kontraktor real estate, Mas Tedy punya penghasilan yang lebih dari cukup. Sampai pada suatu hari tempat ia bekerja tersandung masalah lalu berimbas pada keluarga.

Mas Tedy berhenti bekerja sebelum kami sempat menabung. Bersamaan dengan itu, aku justru hamil lagi yang keempat dan ternyata aku melahirkan anak kembar laki-laki dengan selamat. Roda ekonomi keluarga kami makin hari makin seret putarannya. Kedua putra tiriku drop out dari kampus dan memilih bekerja di pabrik tekstil.

Mereka terpaksa melakukan itu karena biaya untuk kuliah sudah kami alokasikan ke kebutuhan sehari-hari. Meski tak kenal lelah, Mas Tedy mencari pekerjaan lagi demi sekolah anak-anak, namun mencari kerja di Jakarta tak semudah membalikkan tangan.

Atas kesepakatan bersama, aku nekat pergi menjadi TKW di Hongkong. Mas Tedy bekerja serabutan sambil menemani anak-anak di rumah. Alhamdulillah ibuku masih ada sehingga bisa turut membantu merawat si kembar yang saat kutinggal berusia tiga tahun.

Harta benda kami habis terjual untuk makan. Dua mobil sudah lenyap, rumah juga sudah pindah ke rumah yang lebih sempit. Semua ini terpaksa kami lakukan termasuk melibatkan ibu dalam pengasuhan anak kami.

Hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Aku benar-benar merasakan itu. Betapa beratnya mencari sesuap nasi di tanah orang yang budayanya berbeda dengan di tanah air. Keuletan, kesabaran, dan ketahanan fisik sangat penting. Lengah sedikit saja bisa pulang tinggal nama.

Hampir setiap saat wajah anak-anakku selalu menari-nari di mataku dan membuatnya basah. Aku rela merantau jauh di negeri orang demi mereka agar bisa meraih cita-cita setinggi-tingginya. Merekalah yang membuatku kuat bertahan dalam badai, semangat mengejar mimpi-mimpi dan mereka pula yang membuatku tak pernah menyerah.

Hanya tiga tahun di rantau, pulang ke rumah dengan selamat adalah hal yang paling aku syukuri. Biarlah kepahitan dan kegetiran yang kualami hanya aku dan Allah yang tahu. Tidak lama di rumah kami pun memutuskan untuk pulang kampung saja.

Dengan modal yang ada, aku buka warung bakso dan mi ayam di rumah peninggalan orang tuaku. Kecuali dua jejakaku yang masih bekerja di pabrik tekstil, Mas Tedy dan kelima anakku, semua pindah penduduk ke kampung.

Mungkin karena terlalu tegang dan depresi, Mas Tedy terserang stroke tak mampu berjalan tanpa kursi roda. Sedangkan aku yang dulu katanya cantik dan seksi, kini berubah total menjadi kurus dan kelihatan lebih tua dari umurku yang sebenarnya.

*

Lamunanku sontak buyar kala terdengar lagi pemilik suara bariton minta minuman jeruk hangat dan mi ayam. Bambang Priyo Sigit, aku sangat ingat nama lengkapnya dan aku punya panggilan sayang Mas Priyo. Demikian juga dengannya, namaku yang semula Nur Komariyah dia panggil aku cukup dengan Merry saja seperti yang kutulis di tenda warungku.

Mas Priyo adalah masa laluku, cinta pertamaku. Aku sudah ikhlas tak berjodoh dengannya, meski untuk melupakannya tak mudah. Setiap kali bayangannya berkelebat, aku segera bercengkerama dengan anak-anakku. Cara ini terbukti jitu karena hadirnya anak-anakku adalah anugerah yang tak ternilai dan amanah yang kelak kupertanggungjawabkan.

Mas Priyo hanya minum jeruk hangat dan minta mi ayamnya dibungkus saja. Sambil menyiapkan mi aku tak berani menatap matanya saat menjawab satu dua pertanyaannya. Di dadaku serasa ada gemuruh tak beraturan. Ada rasa malu berjumpa dengannya dalam keadaan diriku yang sudah jauh berbeda. Namun aku bersyukur dia masih tetap kalem seperti dulu dan selalu tenang dalam bersikap.

Dia menanyakan Mas Tedy dan titip salam. Kukabarkan padanya bahwa suamiku sudah lama mengidap stroke. Sebaliknya kutanyakan juga kabar tentang istri dan putrinya. Katanya habis terpapar covid dan masih trauma jika ketemu dengan orang asing.

Sebelum pamit pulang Mas Priyo menyelipkan sebuah amplop putih di tanganku saat kuserahkan mi ayam bungkus yang mau dibawa pulang. Air mataku tak mampu kucegah lagi untuk tidak menetes. Lidahku kelu mau mengucapkan terima kasih saja aku tak mampu. Mobil hitam itupun berlalu dan aku masih bisa melihat tulisan Fortuner di bagian belakang.