Konten dari Pengguna

Polyworking: Peluang atau Ancaman buat Perusahaan?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Saleha Nuroktaviani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Polyworking sebagai tren baru dalam dunia kerja. Sumber: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Polyworking sebagai tren baru dalam dunia kerja. Sumber: Shutterstock

Polyworking adalah istilah untuk karyawan yang mempunyai lebih dari satu pekerjaan, dan semakin marak di Indonesia. Banyak Gen Z dan milenial yang selain kerja di kantor, juga punya freelance, bisnis sampingan, atau content creator.

Pertanyaannya: Ini peluang atau ancaman buat perusahaan?

Sisi Peluangnya

Karyawan yang polyworking biasanya lebih kreatif dan punya jaringan luas. Mereka terbiasa mengatur waktu, multitasking, dan belajar cepat. Skill yang mereka dapat dari pekerjaan sampingan sering bisa dibawa ke pekerjaan utama, seperti kemampuan digital, marketing, atau problem solving.

Beberapa perusahaan yang bijak justru memanfaatkan peluang ini. Mereka memberi fleksibilitas, sehingga karyawan merasa dihargai dan lebih loyal.

Sisi Ancaman yang Harus Diwaspadai

Tapi ada risiko nyata, karyawan yang polyworking sering kelelahan, sehingga fokus di pekerjaan utama bisa menurun. Ada juga kemungkinan kebocoran data atau konflik kepentingan kalau pekerjaan sampingannya berhubungan dengan kompetitor.

Yang paling sering terjadi adalah penurunan produktivitas dan peningkatan absensi karena kelelahan.

Apa yang Harus Perusahaan Lakukan?

Pertama, jangan langsung melarang. Buat kebijakan yang jelas soal pekerjaan sampingan. Kedua, tingkatkan engagement karyawan dengan proyek yang menantang dan penghargaan yang adil. Ketiga, tawarkan fleksibilitas yang masuk akal, seperti hybrid working atau cuti kreatif.

Perusahaan yang mampu mengelola polyworking dengan bijak justru akan mendapat karyawan yang lebih inovatif dan tahan lama.

Penutup

Polyworking adalah realita baru di dunia kerja, bukan lagi bisa diabaikan. Perusahaan yang melihatnya sebagai peluang dan mengelolanya dengan baik akan unggul. Sebaliknya, yang menganggapnya ancaman semata berisiko kehilangan talenta terbaik.

Disusun oleh: Saleha Nuroktaviani