Konten dari Pengguna

Guru Yang Hebat Tidak Harus Galak

Rijwan Maulana

Rijwan Maulana

Saya adalah seorang mahasiswa Semester 1 universitas Pamulang Jurusan sistem informasi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Rijwan Maulana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

guru yang sedang mengajar source: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
guru yang sedang mengajar source: pixabay

Dulu, saya sempat berpikir bahwa guru yang baik adalah guru yang galak. Mungkin karena saya sering melihat guru yang bersikap tegas dengan nada bicara tinggi, raut wajah serius, dan tidak segan memberi hukuman ketika murid melakukan kesalahan. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa sikap galak bukanlah ukuran dari kualitas seorang guru.

Saya pernah diajar oleh seorang guru yang sangat tenang dan bersahaja. Beliau tidak pernah membentak, tidak mudah marah, dan selalu menyampaikan pelajaran dengan sabar. Meskipun demikian, kelas beliau tetap berjalan dengan tertib, dan para murid justru lebih menghormatinya — bukan karena takut, melainkan karena rasa hormat yang tumbuh secara alami.

Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa kewibawaan seorang guru tidak selalu datang dari sikap keras. Guru yang mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman dan aman justru lebih mudah mendapatkan perhatian serta rasa hormat dari murid-muridnya. Apalagi di era sekarang, pendekatan yang terlalu keras justru bisa berdampak negatif bagi semangat belajar siswa.

Guru yang hebat bukan hanya mereka yang pandai mengajar, tetapi juga yang mampu memahami karakter murid-muridnya. Mereka tahu kapan harus bersikap tegas, dan kapan harus mendengarkan. Mereka menyadari bahwa setiap murid memiliki latar belakang dan cara belajar yang berbeda.

Bagi saya pribadi, guru yang paling berkesan bukanlah yang paling pintar secara akademis, tetapi yang paling mampu membangun hubungan yang baik dengan murid. Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal mentransfer ilmu, tapi juga soal membentuk karakter dan menyentuh hati.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan hanya soal mentransfer ilmu, tapi juga soal membentuk karakter dan menyentuh hati.

Tentang Penuli:

Rijwan adalah mahasiswa Universitas Pamulang yang tertarik pada isu-isu pendidikan dan sosial. Ia senang menulis sebagai cara untuk berbagi pandangan dan pengalaman.