Konten dari Pengguna

Kerling Mata Wanita Bercadar

Y Thendra BP

Y Thendra BP

Penyair, Jurnalis Independen, dan Peracik Minuman Teh Telur

clock
comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Y Thendra BP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kerling Mata Wanita Bercadar
zoom-in-whitePerbesar

(Foto Istimewa)

Jaman Sheila On 7 masih hits, di kampus daerah Ring Road Barat, Jogja, yang kantinnya rame dengan buku berbagai macam ideologi terbuka di atas meja di samping teh anget dan es jeruk, saya dan seorang kawan kadang-kadang suka iseng memperhatikan dandanan mahasiswa masuk kampus. Yang berjilbab u can see dan ganjen, kami tebak-tebakan ukuran BH-nya. Yang Gondes (Gondrong Ndeso) berkaos oblong Che Guevara dan bersandal jepit, kami nyelutuk:

"Besok pagi kamerad kita itu akan melakukan revolusi kayaknya."

"Kalau tidak hujan tapi."

Pada suatu siang, angin mengayun lembut daun-daun ketapang di parkiran, dan beberapa helai daun melayang jatuh di atas jok motor Grand 97 ceper. Itu saya saksikan dari kantin yang terbuka menghadap ke gedung Fisipol yang baru selesai dibangun.

Di siang yang berangin itu, melintaslah tiga mahasiswi bercadar. Pandangan saya beralih dari daun ketapang yang berayun kepada para mahasiswi bercadar tersebut. Macam Tiga Magi dari Timur saja mereka menyedot perhatian saya.

"Serius tenan kowe memperhatikan cewek bercadar kuwi, Su!" tegur kawan saya sesama pemerhati sosial dandanan. Tangannya mengenggam Nokia 3310 anyar. Beberapa hari ini dia merasa kegantengan dewe karena benda itu.

"Yang sebelah kiri ayu, Le!"

"Kok ngerti kowe? Jilbab-ne dalam, bercadar meneh."

"Kerling matane kuwi, lho, tadi tak tangkap dan tak simpan."

"Trus piye? Naksir? Paling ntar ketemu kowe menghadap ngalor, cahe ngidul. Ngobrolne ngalor ngidul."

"Ra urusan!"

Sejak menangkap kerling mata mahasiswi bercadar itu, bila beli buku ke shopping saya beli juga buku pengetahuan tentang Islam, dan tak lupa buku Tuntunan Salat Lengkap yang best seller. Habis mau apalagi, jangankan mobil atau motor, Nokia 3310 saja saya nggak punya. Jadi modal saya, yah kata-kata. Toh dengan kata-kata "berisi", batu direbus bisa empuk, hehe....

Namun, sampai muncul kasus pelarangan mahasiswi bercadar masuk kampus baru-baru ini di sebuah kampus di Jogja, saya belum pernah punya kesempatan untuk ngobrol bersama wanita bercadar yang punya kerling mata yang indah itu. Dan, entah di mana dia sekarang.