Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Tak Pernah Benar-Benar Sendiri? Membaca Kehidupan dengan Sosiologi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yahdi Rosyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana Belajar Ilmu Sosial di Kelas XI SMA IT Ar-Rahmah Cendekia Kota Tangerang. Dok. Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Suasana Belajar Ilmu Sosial di Kelas XI SMA IT Ar-Rahmah Cendekia Kota Tangerang. Dok. Istimewa

Mengapa Kita Tidak Pernah Benar-Benar Sendiri? Memahami Sosiologi dari Fakta Sosial hingga Imajinasi Sosial

Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat, hubungan antarindividu, serta berbagai aturan dan kebiasaan yang memengaruhi kehidupan manusia. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang perlu diajukan: apakah masyarakat benar-benar nyata?

Dalam kehidupan sehari-hari, yang dapat kita lihat secara langsung adalah individu. Kita melihat orang berjalan, berbicara, bekerja, belajar, dan berinteraksi. Sementara itu, masyarakat tidak dapat dilihat sebagai benda yang berdiri sendiri. Masyarakat hadir melalui hubungan, aturan, nilai, bahasa, dan kebiasaan yang dijalankan oleh individu-individu.

Perbedaan cara memahami kenyataan sosial inilah yang kemudian melahirkan beberapa pandangan dalam sosiologi. Ada sosiolog yang menempatkan individu sebagai pusat kajian, tetapi ada pula yang melihat masyarakat sebagai kenyataan yang memiliki kekuatan tersendiri.

Max Weber dan Individu sebagai Kenyataan Sosial

Max Weber memandang bahwa sesuatu yang benar-benar nyata dalam kehidupan masyarakat adalah individu. Masyarakat merupakan konsep yang digunakan untuk menjelaskan hubungan yang terbentuk di antara individu-individu.

Oleh karena itu, sosiologi tidak cukup hanya membicarakan masyarakat sebagai sesuatu yang abstrak. Sosiologi perlu mempelajari tindakan individu serta hubungan yang terjadi antara satu individu dengan individu lainnya.

Dalam pandangan ini, individu menjadi objek kajian sosiologi ketika tindakannya berhubungan dengan orang lain. Seseorang yang berbicara, bekerja, berpakaian, belajar, atau mengikuti aturan tertentu tidak bertindak dalam ruang kosong. Tindakannya selalu memiliki hubungan dengan lingkungan sosial.

Namun, hubungan sosial tidak selalu harus terjadi secara langsung. Bahkan ketika seseorang sedang sendirian, pikirannya tetap dapat dipengaruhi oleh pandangan, harapan, dan penilaian orang lain.

Émile Durkheim dan Fakta Sosial

Berbeda dengan Weber, Émile Durkheim berpendapat bahwa masyarakat benar-benar nyata. Menurutnya, sesuatu tidak harus terlihat atau berbentuk benda agar dapat dianggap nyata.

Durkheim memperkenalkan konsep fakta sosial. Fakta sosial merupakan cara bertindak, berpikir, dan merasakan yang berada di luar individu, tetapi mampu memengaruhi perilakunya.

Fakta sosial dapat dibedakan menjadi fakta sosial material dan nonmaterial. Fakta sosial material memiliki bentuk fisik yang dapat dilihat, seperti bangunan, organisasi, kelompok, dan kerumunan. Sementara itu, fakta sosial nonmaterial tidak memiliki bentuk fisik, seperti norma, moralitas, bahasa, kesadaran kolektif, dan sopan santun.

Walaupun tidak terlihat, fakta sosial nonmaterial dapat dirasakan melalui pengaruhnya terhadap kehidupan manusia. Norma kesopanan, misalnya, dapat membuat seseorang menurunkan suara ketika berbicara dengan orang yang lebih tua. Moralitas juga dapat membatasi tindakan seseorang agar tidak mengganggu kepentingan orang lain.

Dengan demikian, sesuatu dapat dianggap nyata bukan hanya karena dapat dilihat, tetapi juga karena memiliki pengaruh terhadap perilaku individu.

Fakta Sosial Memiliki Kekuatan Memaksa

Salah satu ciri fakta sosial adalah memiliki kemampuan memaksa. Kemampuan ini membuat individu mengikuti aturan, nilai, dan kebiasaan yang berlaku di masyarakat.

Kekuatan tersebut tidak selalu muncul dalam bentuk hukuman atau ancaman. Sering kali, individu mengikuti fakta sosial tanpa merasa sedang dipaksa.

Sebagai contoh, ketika seseorang melewati gang sempit dengan sepeda motor dan melihat banyak orang sedang duduk, ia mungkin memperlambat kendaraan atau mematikan mesin. Tidak selalu ada orang yang menyuruhnya melakukan hal tersebut. Namun, norma kesopanan membuatnya merasa perlu menghormati orang lain.

Contoh lainnya dapat ditemukan dalam kegiatan keagamaan. Seseorang yang melaksanakan salat dengan menghadap ke arah yang berbeda kemungkinan akan diingatkan oleh orang-orang di sekitarnya. Tindakan masyarakat tersebut menunjukkan bahwa aturan bersama memiliki kekuatan untuk mengarahkan perilaku individu.

Fakta sosial biasanya terasa memaksa ketika seseorang berusaha melawannya. Ketika individu menerima aturan tersebut, ia mungkin menjalankannya dengan sukarela. Namun, ketika menolak, ia dapat menerima teguran, penilaian, atau tekanan dari lingkungan sosial.

Fakta Sosial Berada di Luar Individu

Ciri berikutnya adalah fakta sosial bersifat eksternal atau berada di luar diri individu. Artinya, individu tidak dapat mengubahnya secara bebas karena fakta sosial dibentuk dan digunakan secara bersama-sama oleh masyarakat.

Bahasa merupakan salah satu contoh yang paling mudah dipahami. Seseorang tidak dapat menentukan sendiri arti suatu kata. Makna kata terbentuk melalui kesepakatan bersama.

Gerakan tubuh juga memiliki makna sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, mengangguk biasanya dipahami sebagai tanda setuju, sedangkan menggeleng berarti tidak setuju. Seorang individu tidak dapat mengubah makna tersebut secara sepihak tanpa menimbulkan kebingungan.

Bahasa bahkan dapat memengaruhi cara seseorang menggerakkan tubuh. Ketika orang Jawa mengatakan “monggo” atau “nyuwun sewu”, nada suara biasanya menjadi lebih halus dan tubuh sedikit menunduk. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa tidak hanya digunakan untuk menyampaikan pesan, tetapi juga mengarahkan sikap dan perilaku.

Bahasa merupakan milik masyarakat. Individu mempelajarinya, menggunakannya, dan menyesuaikan diri dengan aturan yang telah ada.

George Herbert Mead: “I” dan “Me” dalam Pikiran Manusia

George Herbert Mead menjelaskan bahwa pikiran manusia memiliki dua unsur, yaitu “I” dan “Me”.

“I” mewakili keinginan pribadi, spontanitas, dan kehendak individu. Sementara itu, “Me” mewakili nilai, aturan, serta harapan masyarakat yang telah masuk ke dalam pikiran seseorang.

Kedua unsur tersebut dapat terlihat ketika seseorang memilih pakaian. Secara fisik, ia mungkin memilih pakaian sendirian. Namun, keputusannya tetap mempertimbangkan tempat yang akan dikunjungi dan orang-orang yang akan ditemui.

Seseorang akan menggunakan pakaian yang berbeda ketika pergi ke acara resmi, berkunjung ke rumah teman, atau beristirahat di rumah. Meskipun orang lain tidak hadir secara langsung ketika pakaian dipilih, bayangan tentang penilaian mereka tetap berada di dalam pikiran.

Hal yang sama terjadi dalam kegiatan mandi. Mandi tampak sebagai kegiatan pribadi, tetapi keputusan untuk mandi juga berkaitan dengan kehidupan sosial. Seseorang menjaga kebersihan bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga agar orang lain merasa nyaman ketika berada di dekatnya.

Dari sudut pandang ini, manusia tidak pernah benar-benar sendirian. Masyarakat dapat tetap hadir melalui pikiran, pertimbangan, dan harapan yang telah tertanam dalam diri individu.

Masyarakat Bukan Sekadar Kumpulan Individu

Masyarakat tidak selalu dapat dipahami sebagai penjumlahan sederhana dari individu-individu yang ada di dalamnya.

Bayangkan beberapa orang yang masing-masing memiliki sifat penakut. Ketika sendirian, mereka mungkin tidak berani melakukan sesuatu. Namun, ketika berkumpul, mereka dapat berubah menjadi lebih berani.

Keberanian tersebut muncul karena adanya kekuatan kelompok. Individu merasa mendapat dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Fenomena serupa dapat dilihat dalam kelompok suporter sepak bola. Seseorang yang dalam kehidupan sehari-hari bersikap tenang dapat berubah menjadi lebih berani, keras, dan ekspresif ketika berada di tengah kelompok suporter.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa kelompok dapat menghasilkan perilaku baru yang tidak selalu terlihat ketika individu berada sendirian. Dengan kata lain, masyarakat memiliki sifat yang berbeda dari sifat masing-masing anggotanya.

Membongkar Hal yang Dianggap Biasa

Sosiologi tidak hanya mempelajari kehidupan masyarakat, tetapi juga mempertanyakan sesuatu yang selama ini dianggap biasa. Cara berpikir tersebut dikenal sebagai debunking motif.

Debunking motif merupakan usaha untuk membongkar kembali anggapan yang telah diterima masyarakat tanpa banyak pertanyaan.

Sebagai contoh, masyarakat sering menganggap laki-laki harus selalu kuat dan maskulin, sedangkan perempuan harus lembut dan feminin. Sosiologi mempertanyakan apakah sifat tersebut benar-benar muncul secara alami atau dibentuk melalui proses sosial.

Sejak kecil, anak perempuan sering diberikan boneka dan diajak melakukan kegiatan yang dianggap lembut. Anak laki-laki lebih sering diajak memperbaiki benda, bermain di luar rumah, atau melakukan kegiatan yang dianggap membutuhkan kekuatan.

Kebiasaan tersebut dapat memengaruhi pembentukan sikap anak. Karena itu, sifat maskulin dan feminin tidak hanya berkaitan dengan kondisi pribadi, tetapi juga dengan pendidikan, keluarga, lingkungan, dan kebiasaan masyarakat.

Imajinasi Sosiologis dan Masalah Pribadi

Konsep penting lainnya adalah sociological imagination atau imajinasi sosiologis. Konsep ini mengajak seseorang untuk menghubungkan pengalaman pribadi dengan keadaan sosial yang lebih luas.

Masalah yang terlihat sebagai persoalan individu dapat berkaitan dengan struktur ekonomi, budaya, lingkungan, atau hubungan sosial.

Sebagai contoh, tekanan ekonomi sering dianggap sebagai masalah pribadi. Namun, sosiologi melihat bahwa kemampuan seseorang menghadapi tekanan juga dipengaruhi oleh kekuatan hubungan sosialnya.

Individu yang hidup di lingkungan dengan solidaritas tinggi dapat memperoleh bantuan dari keluarga, tetangga, atau komunitas. Sebaliknya, individu yang hidup dalam lingkungan yang sangat individualistis mungkin harus menghadapi masalahnya sendirian.

Masalah yang sama dapat menghasilkan akibat yang berbeda karena kondisi sosial yang berbeda. Karena itu, sosiologi tidak hanya bertanya tentang apa yang terjadi pada individu, tetapi juga tentang masyarakat seperti apa yang mengelilinginya.

Selera sebagai Hasil Proses Sosial

Bahkan selera makanan yang sering dianggap sebagai urusan pribadi dapat dipengaruhi oleh lingkungan sosial.

Seseorang yang sejak kecil terbiasa mengonsumsi makanan tertentu akan memiliki selera yang berbeda dari orang yang tumbuh dalam keluarga dan lingkungan lain. Pergaulan, kebiasaan keluarga, serta keadaan ekonomi ikut membentuk makanan yang dianggap enak.

Dengan demikian, lidah juga mengalami proses pendidikan sosial. Selera tidak sepenuhnya lahir dari diri individu, tetapi berkembang melalui pengalaman dan kebiasaan dalam masyarakat.

Penutup

Sosiologi membantu manusia memahami bahwa kehidupan pribadi selalu berhubungan dengan kehidupan sosial. Cara berbicara, berpakaian, memilih makanan, bersikap, dan mengambil keputusan dipengaruhi oleh masyarakat.

Max Weber menekankan pentingnya memahami tindakan dan hubungan antarindividu. Émile Durkheim menunjukkan bahwa masyarakat memiliki fakta sosial yang dapat mengarahkan dan membatasi perilaku individu. George Herbert Mead menjelaskan bahwa masyarakat juga hadir di dalam pikiran manusia melalui hubungan antara “I” dan “Me”.

Melalui debunking motif dan imajinasi sosiologis, kita belajar untuk tidak menerima kenyataan sosial begitu saja. Sesuatu yang terlihat alami, biasa, atau pribadi sering kali memiliki hubungan dengan norma, budaya, kelompok, dan struktur sosial yang lebih luas.

Pada akhirnya, sosiologi mengajak kita melihat kehidupan sehari-hari dengan lebih jernih. Hal-hal kecil yang tampak sederhana ternyata menyimpan cerita besar tentang bagaimana masyarakat bekerja dan bagaimana manusia dibentuk oleh dunia sosialnya.