Pesantren sebagai Ujung Tombak dalam Sejarah Perjuangan Bangsa
Tulisan dari Yahdi Rosyadi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pesantren sebagai Pusat Pendidikan dan Perjuangan
Dua tokoh besar yang sangat berjasa dalam sejarah Indonesia, Kiai Haji Ahmad Dahlan dan Kiai Haji Hasyim Asy’ari, adalah murid dari ulama-ulama besar yang mendalam ilmu agamanya. Keduanya menimba ilmu di pesantren yang berbeda, tetapi memiliki satu benang merah yang sama, yaitu semangat untuk menyebarkan dakwah dan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Kiai Haji Ahmad Dahlan adalah pendiri Muhammadiyah, sebuah organisasi yang mengusung pembaruan di bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial. Sementara itu, Kiai Haji Hasyim Asy’ari adalah pendiri Nahdlatul Ulama, yang lebih menekankan pada pentingnya menjaga tradisi Islam yang telah ada, serta pemberdayaan umat melalui pendidikan dan dakwah berbasis pesantren.
Pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, kedua organisasi ini bersatu untuk membebaskan negeri ini dari penjajahan. Nahdlatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945, yang mengajak umat Islam untuk berjihad melawan penjajahan Belanda. Muhammadiyah, dengan semangat yang sama, turut berperan dalam memperjuangkan kemerdekaan melalui berbagai bentuk perlawanan yang dikemas dalam Amanat Jihad pada 23 November 1946.
Pesantren, sebagai institusi pendidikan, memiliki peran yang sangat besar dalam perjuangan ini. Di masa penjajahan, pesantren menjadi benteng yang tidak hanya mendidik umat Islam dalam hal ilmu agama, tetapi juga dalam semangat perlawanan terhadap penjajahan. Banyak tokoh pejuang kemerdekaan yang lahir dari rahim pesantren, seperti Panglima Besar Jenderal Sudirman yang terkenal dengan keberaniannya dan keteguhannya meski dalam kondisi fisik yang lemah. Sebagai seorang lulusan pesantren, Jenderal Sudirman menunjukkan bahwa takwa dan keteguhan dalam beribadah dapat memberikan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi segala tantangan.
Perjuangan Ulama dan Santri dalam meraih Kemerdekaan
Pesantren bukan hanya tempat untuk mengajarkan ilmu agama, tetapi juga tempat lahirnya para pemimpin bangsa. Sejarah Indonesia mencatat bahwa banyak pahlawan bangsa yang berasal dari pesantren. Salah satu contohnya adalah Panglima Besar Jenderal Sudirman. Sebagai seorang yang sangat religius, beliau tak pernah meninggalkan shalat dan selalu menjaga wudhu, meskipun dalam keadaan yang sangat berat. Dedikasi beliau dalam menjaga agama dan melaksanakan ajaran Islam menjadi kekuatan moral yang menggerakkan perjuangan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan.
Namun, di zaman yang penuh dengan fitnah dan kemajuan teknologi informasi saat ini, seringkali pesantren dan para kiai menjadi sasaran kritik dan hinaan. Ironisnya, kritik tersebut seringkali datang dari mereka yang tidak pernah merasakan kerasnya kehidupan di pesantren. Mereka yang tidak pernah merasakan bangun tengah malam untuk tahajud, tidak pernah mencuci pakaian sendiri, atau tidak pernah mencium tangan seorang kiai sebagai tanda hormat.
Sebelum berkomentar tentang pesantren, sebaiknya kita menundukkan kepala dan merenung sejenak: berapa banyak alumni pesantren yang telah berkontribusi nyata untuk negeri ini? Banyak dari mereka yang mengajar di pelosok-pelosok daerah tanpa mengharapkan imbalan materi, atau mendirikan lembaga pendidikan yang tidak bergantung pada bantuan pemerintah. Mereka adalah orang-orang yang tidak mementingkan gelar atau status sosial, tetapi lebih mengedepankan adab, akhlak, dan pengabdian kepada umat.
Mereka yang sering dihina dan diremehkan inilah yang sesungguhnya telah memberikan fatwa jihad, membakar semangat perjuangan, dan memimpin umat untuk memerdekakan negeri ini. Saat banyak orang masih sibuk menghitung untung dan rugi, para kiai dan santri telah menumpahkan darah dan air mata demi kemerdekaan Indonesia.
Menjaga Persatuan dalam Perbedaan
Di tengah situasi yang penuh dengan provokasi dan kebencian, kita sebagai umat Islam harus menjaga lisan, komentar, dan hati kita. Rasulullah ﷺ mengingatkan kita dalam hadisnya untuk menghormati orang tua, menyayangi anak kecil, dan mengakui hak ulama. Menghormati ulama dan pesantren adalah bagian dari akhlak mulia yang diajarkan dalam Islam.
Marilah kita kembali meneladani adab yang baik—rendah hati dalam belajar, berlapang dada dalam perbedaan, dan selalu mengedepankan ukhuwah. Jangan biarkan perbedaan pandangan merusak ukhuwah Islamiyah yang telah diwariskan oleh para pendiri bangsa. Kita harus menjadi umat yang mencintai ilmu, menghormati ulama, dan berkontribusi nyata untuk kemajuan Indonesia, sebagaimana para kiai dan santri yang telah berkorban untuk kemerdekaan negeri ini.
Dengan meneladani perjuangan para ulama dan santri, serta menjaga persatuan umat, kita dapat membangun Indonesia yang lebih baik, lebih berkeadilan, dan dirahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

