Belajar Bahasa Sunda Jangan Salah Pilih Mentor

Yaser Fahrizal Damar Utama
Mahasiswa kere yang kebetulan masuk UNPAD. Orang Sumedang yang kebetulan nggak jualan tahu. Anak kampung biasa yang kebetulan suka nulis. Bisa banget diajak ngobrol lewat instagram kalo kalian kebetulan punya akun instagram.
Konten dari Pengguna
30 Oktober 2021 11:17 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Yaser Fahrizal Damar Utama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jangan sampai anda malu di tongkrongan karena menggunakan bahasa sunda yang salah. (Sumber Ilustrasi : Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Jangan sampai anda malu di tongkrongan karena menggunakan bahasa sunda yang salah. (Sumber Ilustrasi : Pixabay)
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
“Maneh kapan ke Jatinangor ser? Aing udah nyampe nih” begitu ujar seorang kawan yang baru sampai ke Jatinangor dari kota halamannya.
ADVERTISEMENT
Sudah hampir tiga tahun lamanya sejak pertama kali saya diterima sebagai mahasiswa Universitas Padjadjaran yang terletak di kawasan pendidikan Jatinangor. Sebagai anak USA (Urang Sunda Asli) yang berasal dari perkawinan silang antara Bandung dan Sumedang, saya merasa akan baik-baik saja berkuliah di sini. Saya berpikir tidak akan merasakan culture shock yang berarti, karena lokasinya yang memang di wilayah cekungan Bandung Raya yang notabenenya masih dalam lingkup tatar pasundan, ternyata tidak semudah itu.
Hari pertama saya bertemu dengan kawan-kawan satu jurusan, saya sudah menjadi bahan tertawaan teman-teman se-angkatan karena menggunakan kata “aku-kamu” sebagai kata ganti orang pertama dan kedua. Awalnya saya bingung, apa yang salah dengan kata-kata saya itu. Ternyata bagi teman-teman saya yang banyak berasal dari wilayah Jabodetabek, kata “aku-kamu” dianggap terlalu lembut, terlalu intim dan hanya digunakan oleh sepasang manusia yang sedang memadu kasih.
ADVERTISEMENT
Setelah kejadian itu, saya mulai berhati-hati dan memilah kata ganti apa yang cocok digunakan, tergantung dengan siapa saya bicara. Beberapa kawan coba saya beri pengertian bahwa di Bandung penggunaan kata “aku-kamu” tidak seintim itu, dan mereka bisa mengerti. Namun ada juga yang tetap merasa tidak nyaman dengan kata-kata itu sehingga saya mulai coba untuk beradaptasi dengan menggunakan “gue-elu” meski itu terasa asing dan aneh di lidah saya yang terbiasa disentuh karedok dan lalapan daun singkong ini.
Sekitar satu bulan masa perkuliahan berlalu, kawan-kawan non-USA mulai merasa ingin belajar bahasa sunda. Mungkin salah satu alasan mereka adalah agar tidak ada yang bisa mengghibah mereka di depan muka menggunakan bahasa sunda, atau apa pun itu yang pasti mereka ada keinginan untuk mempelajari bahasa sunda.
ADVERTISEMENT
Kata ganti "aing-maneh" menjadi kata-kata yang mulai sering digunakan oleh mereka. Saya melihat mereka sangat antusias menggunakan kata-kata itu seolah menjadi kebiasaan baru di tempat nongkrong. Beberapa kalimat sederhana juga dengan cepat mereka pahami seperti, “Kumaha damang?” (Apa Kabar?), “Geus dahar can?” (Sudah makan belum).
Saya merasa bangga dan sangat senang melihat kawan-kawan saya ingin belajar bahasa sunda. Namun ada beberapa hal yang mengganggu pikiran saya, “Dari mana mereka belajar bahasa sunda? Kenapa bahasanya kasar? Apa perlu saya bawakan blender?”
Pernah ada satu kejadian yang membuat muka saya merah merona bukan karena jatuh cinta, tetapi karena malu. Di tempat makan sederhana yang dipenuhi mahasiswa dengan uang bulanan pas-pasan seperti saya itu, teman saya bertanya dengan suara keras “Ser heunc*t beureum itu artinya apa?” Sontak saja mata saya melirik kiri dan kanan takut ada orang lain yang mendengarnya.
ADVERTISEMENT
Awalnya saya merespons dengan bertanya dari mana dia tahu kata-kata tersebut dan dilanjutkan dengan memberi penjelasan dengan suara yang pelan, bahwa kata-kata itu artinya adalah kemaluan wanita. Sekalipun dalam budaya komunikasi masyarakat sunda ada istilah “cawokah” yang artinya guyonan atau candaan yang berbau seksualitas, dan itu memang dianggap lumrah dalam masyarakat sunda, tetapi tetap saja kata-kata yang digunakan tidak sevulgar itu dan tidak digunakan secara serampangan pula.
Saya mulai mengerti mengapa bahasa sunda yang mereka gunakan pertama kali itu sangat kotor dan kasar, bukan karena mereka menginginkannya, tetapi itulah yang mereka dapatkan dari mentor-mentornya (teman-temannya).
Kawan-kawan non-USA yang sedang ingin belajar bahasa sunda itu seperti orang yang lapar dengan semangat menggebu untuk belajar, wajar jika apa pun kosa kata bahasa sunda yang baru mereka dapatkan akan diterima dengan lahap. Sayangnya teman-teman USA banyak memberikan hidangan yang tidak bergizi dan bahkan tidak baik untuk disantap.
ADVERTISEMENT
Jika memang ingin belajar bahasa sunda, pastikan anda memilih mentor yang tepat. Setidaknya cobalah untuk cross check ke lebih dari satu orang terdekat anda untuk memastikan apakah kosa-kata yang anda dapatkan sudah benar maknanya dan penempatannya sebelum menggunakannya. Bila perlu, cobalah beli kamus saku bahasa sunda, meskipun memang kamus saku bahasa sunda terkadang agak sulit dipahami karena bahasa sunda memiliki banyak dialek yang mungkin saja tidak sesuai dengan bahasa sunda di tempat domisili anda tinggal.
Teruntuk teman-teman USA ku, tidak apa jika memang ingin bercanda sesekali dengan teman-teman yang sedang belajar bahasa sunda, tetapi jangan sampai terlalu lama. Jangan sampai mereka berinteraksi dengan masyarakat dalam kondisi “dijahili”. Jangan buat mereka malu saat beli nasi goreng malah bilang “Bu, aing hayang lolodok sangu goreng saporsi!” (lolodok artinya makan, tetapi hanya digunakan jika subjeknya hewan)
ADVERTISEMENT