Mengatasi Rasa Takut Mati ala Filsuf Epicurus

Mahasiswa kere yang kebetulan masuk UNPAD. Orang Sumedang yang kebetulan nggak jualan tahu. Anak kampung biasa yang kebetulan suka nulis. Bisa banget diajak ngobrol lewat instagram kalo kalian kebetulan punya akun instagram.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yaser Fahrizal Damar Utama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada hari kematian anda, keluarga, teman, kerabat, dan semua yang hadir akan merasa sedih. Beberapa akan menangis, bahkan mungkin ada yang sampai tak sadarkan diri. Namun, keesokan harinya, sebulan setelahnya, dan di tahun-tahun berikutnya, dunia akan berjalan seperti biasa.
Matahari akan terbit sesuai jadwalnya, burung akan tetap berkicau, dan komedi akan tetap mengundang gelak tawa. Sementara itu, anda sudah tiada lagi, hilang, dan dunia telah melupakan anda.
Manusia adalah makhluk yang penuh dengan hasrat, ambisi, dan impian. Kita menjalani hidup dengan segala suka dan duka, membangun hubungan, meraih pencapaian, dan terus mencari makna. Kita sering merasakan takut ketika dihadapkan pada sesuatu yang bisa mengakhiri semua itu (dibaca: kematian).
Kita sadar bahwa kematian akan datang, tapi kita tidak terus-menerus mengkhawatirkannya, kita bahkan lebih sering menyangkalnya. Kita semua berusaha untuk tidak mengingatnya terus-menerus dan menyimpannya di pinggiran kesadaran.
Namun, pada saat-saat tertentu, menyadari akan kepastian datangnya kematian seringkali membuat kita takut. Kita terbayang saat-saat kehilangan seseorang yang kita cintai, yang mengingatkan kita bahwa tak ada satu pun yang bisa lolos dari nasib ini.
Bahkan sekadar membicarakan kematian, seperti yang kita lakukan sekarang, bisa membawa anda pada perenungan mendalam tentang akhir hidup dan menghadirkan ketakutan yang sangat besar.
Rasa takut ini bukan tentang siapa yang akan melunasi hutang anda, bukan juga tentang bagaimana orang-orang yang anda cintai akan melanjutkan hidup tanpa anda, melainkan tentang fakta yang lebih fundamental, yaitu bahwa "anda" akan menjadi tiada.
Seorang filsuf bernama Thomas Nagel menyebut kematian sebagai "perampasan hak untuk berpengalaman". Selalu ada kehidupan yang bisa kita jalani lebih lama, dan terasa menyakitkan bila itu diambil begitu saja. Semua rencana dan impian yang sudah Anda siapkan semuanya akan sia-sia ketika kematian lebih dulu datang.
Secara psikologis, ketakutan ini bisa dipahami lewat teori Terror Management dari Ernest Becker dalam bukunya The Denial of Death, yang menyebutkan bahwa rasa takut mati adalah insting alamiah untuk bertahan hidup. Kematian mengancam eksistensi kita, sehingga mendorong kita untuk mencari makna yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Kematian Bukanlah Apa-Apa Bagi Kita
Rasa takut mati sering kali berubah menjadi kecemasan yang tidak produktif. Kita menjadi khawatir akan akhir yang tak terhindarkan, bahkan mungkin sampai menimbulkan ketakutan yang berlebihan. Inilah sesuatu yang ingin diubah oleh Epicurus.
Bagi Epicurus, kunci hidup bahagia adalah mencapai ketenangan batin (ataraxia), yaitu kondisi bebas dari rasa takut dan sakit.Ketika membicarakan kematian, Epicurus memiliki pandangan yang cukup revolusioner.
Dia berkata, "Kematian bukanlah apa-apa bagi kita, karena ketika kita hidup, kematian belum datang, dan ketika kematian datang, kita sudah tak ada lagi."
Dengan kata lain, menurut Epicurus, kematian adalah sebuah keadaan yang tidak perlu ditakuti karena pada dasarnya kita tidak akan pernah mengalaminya secara langsung. Ketakutan kita akan merasakan "ketiadaan" adalah sebuah ilusi —ilusi bahwa kita akan merasakan ketiadaan.
Logika Epicurus sebenarnya cukup sederhana. Sesuatu hanya bisa dianggap baik atau buruk ketika kita hidup dan bisa merasakannya. Sementara itu, ketika kematian datang, kita sudah tidak ada lagi di dunia ini untuk merasakan apa pun, baik itu kesenangan maupun kesengsaraan. Jadi takut mati itu tidak logis.
Anda tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya mati. Kematian adalah ketiadaan eksistensi, maka tidak ada yang bisa dibayangkan dari kekosongan. Jika Anda takut tertusuk pisau, tertembak peluru, atau terbakar api, wajar jika anda takut karena anda masih hidup dan akan merasakan sakit seandainya itu terjadi. Tapi kematian bukanlah sesuatu yang masuk akal untuk ditakuti, karena tidak ada rasa sakit dalam keadaan mati, sebab anda sebagai subjek sudah tidak ada untuk merasakan sakit apapun.
Dulu Tidak Ada, Nanti Tidak Ada, Sama Saja
Lucretius, seorang penyair yang juga pengikut Epicurus, memperkuat gagasan ini dengan "argumen simetri".
Coba pikirkan miliaran tahun sebelum Anda lahir. Coba ingat-ingat bagaimana rasanya sebelum Anda lahir. Bukan bagaimana keadaan dunia saat itu, tetapi bagaimana rasanya menjadi "anda" sebelum "anda" ada.
Anda akan menyadari bahwa eksistensi anda sebelum kelahiran tidak mungkin dibayangkan, apalagi dialami. Argumen simetri ini menyatakan bahwa ketiadaan pra-lahir adalah sama dengan ketiadaan pasca-kematian, karena keduanya melibatkan ketiadaan diri anda. Sama seperti Anda tidak takut pada ketidakberadaan anda sebelum lahir, secara logis anda tidak seharusnya takut pada ketidakberadaan anda setelah mati.
Seperti yang dikatakan oleh Vladimir Nabokov, "Akal sehat mengatakan kepada kita bahwa eksistensi kita hanyalah celah singkat di antara dua kekekalan dan kegelapan."
Dengan memahami bahwa kematian adalah sesuatu yang tidak terhindarkan, kita dapat menghadapi ketakutan kita terhadap akhir dari kehidupan. Epicurus, bersama dengan banyak pemikir lainnya, berargumen bahwa kita tidak perlu takut akan kematian. Argumen ini bukan untuk sepenuhnya menghilangkan rasa takut, melainkan untuk meringankannya dan memberi perspektif baru untuk menikmati hidup yang singkat di dunia ini.
Dengan tidak lagi dihantui oleh bayang-bayang akhir kehidupan, kita bisa lebih fokus pada realitas kita saat ini. Merenungkan kematian, pada akhirnya, justru membantu kita lebih menghargai hidup dan memusatkan perhatian pada apa yang benar-benar membuat hidup kita berharga.
