Bahaya Meningkatnya Kasus Pernikahan Dini di Indonesia

Mahasiswi Akademi Komunikasi Radya Binatama Jurusan Broadcasting
Konten dari Pengguna
5 Februari 2023 10:00
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Yasintha NW tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Cincin.Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Cincin.Foto: Shutter Stock
Pernikahan dini adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan pernikahan yang dilakukan oleh seseorang sebelum usia yang dianggap sebagai usia normal untuk menikah.
Pernikahan dini merupakan masalah yang cukup serius di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), angka pernikahan pada usia 18 tahun di Indonesia terjadi sebanyak 20 dari 1.000 pernikahan.
Pernikahan dini dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, sosial, dan ekonomi. Pada perempuan, pernikahan dini dapat menyebabkan risiko kematian ibu dan bayi yang lebih tinggi, serta masalah kesehatan reproduksi seperti infeksi saluran reproduksi dan kehamilan di luar nikah. Pada laki-laki, pernikahan dini dapat menyebabkan masalah kesehatan mental dan masalah sosial seperti perceraian.
Pola asuh orang tua di zaman modern sangat berbeda dengan zaman dahulu, perkembangan teknologi dan perubahan sosial telah mempengaruhi cara orang tua mendidik anak-anak mereka.
Orang tua saat ini lebih cenderung memberikan kebebasan dan memberikan pilihan yang lebih banyak kepada anak-anak mereka dibandingkan dengan zaman dahulu.
Ilustrasi Orang Tua Mengasuh Anak.Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Orang Tua Mengasuh Anak.Foto: Shutter Stock
Namun, juga ada beberapa permasalahan yang muncul dari pola asuh orang tua zaman modern ini, seperti kurangnya pengawasan dan kontrol dari orang tua terhadap anak-anak mereka.
Seperti yang kita ketahui akhir-akhir ini banyak berita yang memberitakan bahwa banyak remaja di beberapa daerah di Indonesia seperti kediri dan ponorogo meminta dispensasi untuk melakukan pernikahan.
Mengapa hal ini dapat terjadi? Apakah orang tua sudah menerapkan pola asuh yang benar? Apakah anak Indonesia sudah mendapatkan edukasi seksual yang cukup?
Di Indonesia, pernikahan remaja masih dianggap masalah yang cukup serius. Menurut data dari Kementerian Sosial, pada tahun 2018, sekitar 14% dari seluruh pernikahan di Indonesia adalah pernikahan remaja, dengan usia rata-rata pasangan yang menikah adalah 19 tahun untuk perempuan dan 21 tahun untuk laki-laki.
Ilustrasi Remaja Tertekan.Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Remaja Tertekan.Foto: Shutter Stock
Dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, pasangan yang ingin menikah harus berusia minimal 16 tahun bagi perempuan dan 19 tahun bagi laki-laki.
Namun, dengan persetujuan orang tua dan pengadilan, pernikahan dapat dilakukan pada usia yang lebih muda. Hal ini menyebabkan banyak pernikahan remaja yang dilakukan tanpa persetujuan dari pihak yang berwenang atau dengan persetujuan yang tidak sesuai dengan aturan yang berlaku.
Save the Children juga pernah menyampaikan bahwa angka perkawinan anak di Indonesia no-2 tertinggi di ASEAN.
Ilustrasi Pernikahan. Foto: Eddie Cheever/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Pernikahan. Foto: Eddie Cheever/Shutterstock
Banyak faktor yang dapat menyebabkan anak-anak di Indonesia meminta dispensasi pernikahan dini, di antaranya adalah:
  • Tekanan sosial: di beberapa daerah di Indonesia, pernikahan dini masih dianggap sebagai hal yang wajar dan diharapkan.
  • Masalah ekonomi: beberapa anak yang tinggal di daerah yang miskin mungkin merasa pernikahan dini adalah cara untuk meninggalkan kondisi ekonomi yang sulit.
  • Pendidikan: anak-anak yang tidak mendapat pendidikan yang cukup mungkin lebih rentan terhadap pernikahan dini.
  • Masalah kesehatan reproduksi: anak-anak yang tidak mendapat pendidikan yang cukup tentang kesehatan reproduksi mungkin lebih rentan terhadap pernikahan dini.
  • Masalah perlindungan anak: beberapa anak mungkin mengalami kesulitan dalam mendapatkan perlindungan dari pemerintah atau masyarakat, dan pernikahan dini mungkin dianggap sebagai solusi untuk masalah ini.
Ilustrasi Uang.Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Uang.Foto: Shutter Stock
Masalah ekonomi dapat menjadi faktor utama yang membuat anak-ana di Indonesia melakukan pernikahan dini karena kemiskinan yang meluas dapat menyebabkan orang tua merasa tidak mampu untuk memberikan dukungan keuangan yang cukup untuk anak-anak mereka.
Mereka mungkin merasa bahwa dengan menikahkan anak-anak mereka secepat mungkin, mereka dapat mengurangi beban ekonomi keluarga.
Selain itu, di beberapa daerah di Indonesia, ada budaya yang menganggap pernikahan dini sebagai hal yang wajar dan dapat menjamin keselamatan dan masa depan anak perempuan. Namun, pernikahan dini dapat menyebabkan masalah kesehatan, pendidikan, dan sosial bagi perempuan yang mengalami pernikahan dini.
Pemerintah dan berbagai organisasi swasta telah berupaya untuk mengatasi masalah ini melalui berbagai program, seperti pendidikan seksual dan program untuk meningkatkan kesadaran tentang risiko pernikahan remaja.
Namun, masalah ini masih tetap ada dan memerlukan perhatian dan dukungan dari berbagai pihak untuk dapat teratasi. Peran orang tua merupakan bagian yang sangat penting dalam mengatasi masalah ini. Dengan pola asuh yang baik diharapkan pernikahan remaja ini dapat berkurang.
Ilustrasi Melangkah.Foto: Shutter Stock.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Melangkah.Foto: Shutter Stock.
Pola asuh yang baik sangat penting bagi anak usia remaja karena ini adalah masa di mana anak-anak mulai membentuk identitas diri mereka dan membuat keputusan yang akan mempengaruhi masa depan mereka.
Pola asuh anak balita dengan anak remaja tentu memiliki perbedaan. Beberapa hal penting lain yang perlu diperhatikan dalam pola asuh bagi anak usia remaja adalah:
  1. Keterbukaan: Orang tua harus memberikan dukungan emosional dan keterbukaan dalam komunikasi, sehingga anak-anak dapat berbicara dengan orang tua tentang masalah yang mereka hadapi dan meminta bantuan jika diperlukan.
  2. Pendidikan: Orang tua harus memberikan pendidikan tentang kesehatan reproduksi, seksualitas, dan kesehatan mental agar anak-anak dapat membuat keputusan yang bijak dan menghindari masalah yang berhubungan dengan kesehatan.
  3. Memberikan kebebasan: Orang tua harus memberikan kebebasan yang cukup kepada anak-anak, sehingga anak-anak dapat belajar dari pengalaman sendiri dan mengembangkan kepercayaan diri.
  4. Pendidikan Karier: Orang tua harus memberikan pendidikan tentang karier yang tepat agar anak-anak dapat membuat keputusan yang baik untuk masa depan mereka.
  5. Pendidikan Finansial: Orang tua harus memberikan pendidikan tentang keuangan yang tepat agar anak-anak dapat belajar tentang manajemen uang dan membuat keputusan yang bijak dalam hal keuangan.
Ilustrasi Dukungan Emosional.Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Dukungan Emosional.Foto: Shutter Stock
Pola asuh orang tua sangat penting dalam mencegah pernikahan dini karena dapat mempengaruhi perkembangan anak dan pilihan yang diambil oleh mereka di masa depan.
Beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mencegah pernikahan dini adalah dengan memberikan pendidikan tentang kesehatan reproduksi sehingga mereka dapat memahami risiko yang terkait dengan pernikahan dini dan menghindari pernikahan yang tidak diinginkan.
Dukungan emosional juga merupakan hal yang penting, anak akan merasa aman dan nyaman untuk berbicara tentang masalah yang mereka hadapi dan meminta bantuan jika diperlukan.
Pola asuh orang tua yang baik dapat membantu anak-anak untuk menghindari pernikahan dini dan membuat pilihan yang tepat untuk masa depan mereka.