Film "Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah": Sebuah Pesan untuk Perempuan

Seorang pegawai. Kebetulan tidak main zuma saat bekerja.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Yasmine tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari Jumat kemarin, saya menonton film “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah” yang sedang tayang di bioskop. Sudah jelas, alasan terbesar saya menonton karena membaca judulnya saja tanpa babibu mencari tahu lebih dalam tentang film tersebut. Sepanjang filmnya diputar, tentu saja saya adalah bagian dari golongan penonton yang ikut menitikkan air mata dan suami saya di samping sibuk menyeka air mata saya yang jatuh seperti sedang merasa bersalah sebagai laki-laki. Sebenarnya, tujuan untuk menonton film tersebut bukan hanya karena ingin menjawab rasa penasaran dengan filmnya atau membuktikan apakah jalan ceritanya sama dengan pahit yang saya lihat di kehidupan kecil saya dahulu, tapi juga memberi peringatan tidak langsung kepada suami saya agar jangan menjadi laki-laki dan sifat jeleknya seperti di film tersebut.
Isi dan jalan filmnya sudah tertebak sesuai dengan judulnya, karena menurut saya latar belakang adanya perkataan “andai dulu tidak memilih untuk menikah” yang datang dari perempuan banyak terjadi di kehidupan nyata. Melihat lebih dalam berbagai scene yang ada pada film tersebut, tentu banyak pelajaran bagi perempuan dan keputusannya dalam mengiyakan ibadah seumur hidup.
Perempuan lebih banyak berkorban
Salah pilih pasangan, yang ada perempuan bisa kehilangan diri sendiri. Ada satu scene di film “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah” yang meminta si Ibu yang dimaksud dalam judul film tersebut, untuk mengorbankan salah satu pilihannya dengan dalih suaminya akan menjamin kehidupannya. Cih, wahai perempuan, kalau ada laki-laki yang datang dengan perkataan tersebut, jangan langsung percaya. Saran saya, pilihlah laki-laki yang memang mendukung atas pilihan yang kita mau, baik itu tentang karier, pendidikan, bahkan pilihan mempunyai anak atau tidak.
Banyak perempuan di luar sana yang mengorbankan karier dan pendidikannya untuk fokus kepada keluarga, apakah itu salah? Tentu saja tidak jika memang itu keinginan dari diri sendiri, tapi jika terpaksa lebih baik dipikirkan kembali. Masalah utama yang timbul setelah adanya tuntutan pengorbanan ialah hilangnya kebebasan memilih untuk menjalani hidup sebagai perempuan.
Tuntutan pengorbanan atas karier dan segala macam pilihan hidup perempuan disebabkan oleh adanya budaya patriarki yang mengakar pada kehidupan masyarakat hingga kini. Perempuan dituntut untuk bertanggungjawab penuh atas peran domestik seperti masalah dapur, urusan rumah tangga, serta kewajiban mengurus suami.
Menikah bukan jalan keluar permasalahan
Banyak orang di luaran sana menganggap pernikahan adalah penyelesaian masalah hidup. Seakan menikah adalah jalan keluar, seakan dengan menikah maka hidup selesai sampai di situ. Mungkin itu juga cara berpikir Alin, tokoh utama film tersebut, saat mempertimbangkan jalan keluar nasib hidupnya ketika beasiswa kedokterannya terancam dicabut. Jika jalan keluar yang dia ambil adalah menikah dengan pacarnya dan menyerah akan pendidikannya maka bisa saja jalan hidupnya hanya mengulang apa yang dialami oleh ibunya. Atau, jika dia tetap berjuang untuk pendidikannya maka mimpinya akan terwujud. Menikah merupakan satu langkah yang akan menentukan keberlanjutan kelangsungan hidup hingga akhir.
Menikah menentukan nasib wanita?
Santer terdengar katanya nasib perempuan akan terlihat setelah ia menikah, tapi kata mbak-mbak bijak di Instagram nasib wanita tidak akan ditentukan atas pernikahannya dengan syarat kebahagiaan diri sendiri jangan digantungkan kepada orang lain. Kedua pernyataan tersebut tidak ada yang salah menurut saya, karena kebahagiaan memang seharusnya tidak digantungkan kepada orang lain tetapi untuk urusan menikah ada benarnya juga menentukan nasib perempuan.
Menikah bukan kegiatan yang bisa dilakukan seorang diri, butuh peran dua orang di dalamnya. Sebetulnya bukan hanya nasib perempuan saja yang ditentukan atas pernikahan, tetapi laki-laki juga. Bedanya ialah dalam pernikahan banyak keputusan besar yang dapat merubah dari sisi lahir dan batin perempuan, contohnya keputusan untuk memiliki anak yang tentu saja berkaitan erat dengan kehidupan perempuan karena ia yang hamil dan melahirkan.
Mempertimbangkan banyak hal sebelum menikah merupakan langkah penting, karena lebih baik overthinking 3 hari 3 malam dibanding menyesal seumur hidup. Ada baiknya untuk memilih dengan betul bersama siapa hidup ini akan melangkah.
