Konten dari Pengguna

Lamine Yamal, Palestina, dan Kota yang Dibentuk oleh Pembungkaman

Daffa Yazid Fadhlan

Daffa Yazid Fadhlan

Mahasiswa aktif Universitas Islam Negeri Jakarta dan bagian dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Journo Liberta.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Daffa Yazid Fadhlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

(Sumber foto: Pexels)
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber foto: Pexels)

Banyak cara manusia untuk menyatakan keberpihakannya terhadap sesuatu. Ada yang turun ke jalan, menulis panjang lebar, dan ada pula yang cukup mengangkat selembar kain agar seluruh dunia tahu di sisi mana ia berdiri.

Itulah yang dilakukan Lamine Yamal saat parade juara FC Barcelona beberapa waktu lalu. Di tengah lautan manusia yang merayakan gelar La Liga, ia berdiri di atas bus terbuka sambil memegang bendera Palestina.

Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya gestur spontan anak muda yang larut dalam euforia juara. Namun di Barcelona, kota yang terlalu akrab dengan sejarah perlawanan, simbol seperti itu nyaris mustahil dibaca sebagai sesuatu yang sederhana.

Sejarah Panjang Perjuangan Rakyat Catalan

Untuk memahami mengapa bendera Palestina di Barcelona terasa berbeda, kita perlu mundur jauh ke belakang. Bahkan jauh sebelum sepak bola menjadi agama baru di Eropa.

Catalunya pernah menjadi wilayah dengan identitas politik yang kuat. Mereka memiliki bahasa, tradisi, dan sistem pemerintahan sendiri saat masih berada dalam struktur Mahkota Aragon.

Semua bermula pada 11 September 1714 saat Barcelona jatuh ke tangan pasukan Raja Philip V dari Bourbon setelah dikepung selama 14 bulan dalam Perang Suksesi Spanyol. Akibat kekalahan itu, Raja Felipe V memberlakukan Nueva Planta Decrees, serangkaian kebijakan yang secara perlahan mencabut berbagai lembaga tradisional, aturan hukum, serta hak otonomi yang selama ini dimiliki Catalunya. Sejak saat itu, kekuasaan politik semakin dipusatkan di Madrid, sementara ruang gerak Catalunya untuk mengatur dirinya sendiri kian menyempit.

Kekalahan ini mengakhiri institusi dan hak istimewa Catalunya, yang kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Nasional Catalunya atau La Diada. Ironisnya, itu bukan perayaan kemenangan, melainkan peringatan atas kekalahan.

Luka itu semakin dalam pada era Francisco Franco setelah Perang Saudara Spanyol (1936-1939). Selama Perang tersebut, Catalunya menjadi salah satu basis utama pendukung Republik Spanyol. Posisi itu membuat mereka berada di garis depan perlawanan terhadap pasukan Nasionalis yang dipimpin Francisco Franco.

Ketika Franco melancarkan ofensif besar-besaran pada awal 1939, aksi tersebut berujung pada jatuhnya Barcelona pada 26 Januari 1939, sekaligus menandai runtuhnya salah satu benteng terakhir kubu Republik.

Kekalahan itu memicu gelombang pengungsian besar-besaran. Sekitar 200 ribu warga sipil dan tentara Republik meninggalkan tanah mereka, berjalan melintasi perbatasan menuju Prancis demi menghindari represi rezim baru.

Franco segera mencabut Statuta Otonomi Catalunya. Hak-hak politik daerah dihapus, sementara pemerintahan dipusatkan secara ketat dari Madrid.

Tidak berhenti di ranah politik, represi juga menyasar identitas budaya. Bahasa Catalan dilarang digunakan di sekolah, media, hingga ruang publik, sementara simbol-simbol budaya lokal ditekan secara sistematis.

Bagi banyak warga Catalan, masa itu bukan hanya periode kekalahan politik, melainkan juga masa ketika identitas mereka dipaksa untuk bersembunyi. Menjadi Catalan berarti harus hidup dengan rasa waswas, bahkan untuk sekadar berbicara dalam bahasa sendiri.

Selain itu, represi tersebut juga menelan banyak korban politik. Ribuan intelektual, aktivis, dan tokoh Republik dipenjara, diasingkan, bahkan dieksekusi, termasuk Presiden Catalonia, yakni Lluís Companys, yang ditangkap di Prancis lalu dieksekusi oleh rezim Franco pada 1940.

Di titik ini, menjadi Catalan bukan cuma identitas budaya. Ia berubah menjadi tindakan perlawanan.

Ironisnya, upaya menghapus identitas Catalan justru melahirkan efek sebaliknya. Semakin ditekan, kesadaran kolektif sebagai bangsa justru semakin menguat, dan dari sanalah benih-benih tuntutan otonomi hingga kemerdekaan terus hidup sampai hari ini.

Dalam konteks seperti inilH FC Barcelona lahir sebagai simbol. Klub ini memang bermain sepak bola, tetapi bagi warga Catalonia, Barcelona selalu lebih dari itu.

Slogan “Més que un club” tidak lahir dari ruang rapat divisi pemasaran. Ia lahir dari sejarah panjang tentang kebutuhan untuk tetap terlihat ketika identitas sedang ditekan.

Pada masa Franco, stadion Camp Nou menjadi salah satu sedikit ruang di mana orang-orang bisa berkumpul tanpa terlalu banyak dicurigai. Mendukung Barcelona menjadi cara paling aman untuk mengatakan, “kami masih ada.

Itulah sebabnya setiap simbol yang muncul di Barcelona selalu punya gema yang lebih panjang. Termasuk ketika seseorang mengangkat bendera Palestina.

Palestina dan Luka yang Terus Diulang

Tentu saja, Palestina dan Catalunya bukan cerita yang sama. Menyamakan keduanya secara mentah justru merusak konteks sejarah masing-masing.

Palestina bicara tentang kolonialisme, pendudukan, dan konflik yang belum selesai sejak Nakba (1948). Ratusan ribu warga Palestina terusir dari rumah mereka, dan trauma itu diwariskan hingga hari ini.

Bagi rakyat Palestina, kehilangan rumah bukan metafora. Itu pengalaman nyata yang hidup dalam setiap generasi.

Namun justru di titik itulah resonansi itu muncul. Ketika sebuah bangsa merasa identitasnya terus dipertanyakan, mereka akan memahami bahasa penderitaan bangsa lain tanpa perlu banyak penjelasan.

Mungkin Lamine Yamal tidak sedang memikirkan semua sejarah ini saat mengangkat bendera Palestina. Bisa jadi ia hanya mengikuti suara nuraninya.

Namun, sejarah sering bekerja dengan cara yang aneh. Ia menempel pada tempat, simbol, dan momen-momen kecil yang tidak direncanakan.

Ketika seorang pemain muda Barcelona mengangkat bendera Palestina di jalanan Barcelona, itu bukan hanya tentang Palestina. Itu juga tentang kota yang tahu rasanya hidup bersama luka sejarah.

Barcelona memahami apa artinya memori kolektif, dan Palestina hidup di dalamnya setiap hari.

Sepak Bola Tidak Pernah Benar-Benar Netral

Banyak orang berharap sepak bola tetap steril dari politik. Mereka ingin stadion hanya berisi gol, sorak-sorai, dan statistik.

Sayangnya, manusia tidak pernah datang ke stadion sebagai makhluk kosong. Mereka membawa sejarah, keyakinan, dan nurani mereka masing-masing.

Karena hal ini, sepak bola sering menjadi panggung paling jujur untuk melihat manusia apa adanya. Di sana, kegembiraan dan keberpihakan bisa berdiri berdampingan.

Gestur kecil Yamal mungkin hanya berlangsung beberapa detik. Namun bagi banyak orang, ia menjadi pengingat bahwa solidaritas sering lahir dari kemampuan manusia untuk mengingat luka, bahkan luka yang bukan miliknya sendiri.

Dan mungkin, di zaman ketika terlalu banyak orang memilih aman dengan diam, keberanian paling sederhana memang cukup berupa selembar bendera yang diangkat tinggi-tinggi. Di kota yang sudah terlalu lama tahu bahwa ingatan adalah bentuk lain dari perlawanan.