Membaca Radikalisme Cinta dalam Dekapan Majelis Lidah Berduri

Mahasiswa aktif Universitas Islam Negeri Jakarta dan bagian dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Journo Liberta.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Daffa Yazid Fadhlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam sejarah peradaban manusia, cinta sering kali diartikan sebagai bunga, cokelat, atau puisi manis yang mendayu. Tak ada yang salah dengan hal tersebut. Akan tetapi, perasaan purba ini juga memiliki sisi gelap yang kerap memicu kehancuran massal.
Kita bisa melihat fenomena di mana obsesi seseorang terhadap pasangannya memicu perilaku destruktif yang mengerikan. Cinta, dalam dosis yang ekstrem, tidak lagi membangun kehidupan tetapi justru melahapnya hidup-hidup.
Fenomena mencintai yang "habis-habisan" sering kali kita temui dalam romansa sehari-hari, di mana seseorang rela kehilangan jati diri demi menyenangkan pasangannya. Namun, Majelis Lidah Berduri melalui lagu "7 Hari Menuju Semesta" membawa konsep pengabdian ini ke level yang jauh lebih gelap, puitis, dan sedikit mengerikan.
Senin: Ritual Penyerahan Diri yang Viseral
Lagu dibuka dengan latar waktu hari Senin yang cerah, sebuah kalimat pembuka yang menipu telinga karena terdengar begitu damai. Kontras segera menghantam ketika narator mengajukan permintaan yang bernuansa sadomasokistik.
"Belah dadaku,
Renggut hatiku,
Makan jantungku."
Ia tidak meminta ciuman hangat, melainkan memohon agar pasangannya melukai dada dan merenggut hatinya. Permintaan spesifik untuk "makan jantungku" mengingatkan kita pada ritual pengorbanan kuno atau ekaristi yang terpelintir.
Sang tokoh "aku" rela memosisikan dirinya sebagai objek konsumsi bagi pasangannya. Hal ini dilakukan semata-mata demi membuktikan validitas perasaannya yang konon tak tergoyahkan dalam suka maupun duka.
"Sampai kematian memisahkan,
Memisah jiwa raga kita."
Sumpah setia yang biasanya sakral dalam pernikahan diletakkan bersandingan dengan imaji tubuh yang terkoyak. Kematian disebut bukan sebagai akhir yang menyedihkan, melainkan batas absolut dari penyatuan jiwa raga mereka.
Selasa: Giliran Sang Penakluk
Memasuki hari Selasa, dinamika kuasa dalam lagu ini mulai bergeser bagaikan pendulum. Jika hari sebelumnya adalah tentang penyerahan diri secara total, maka Selasa adalah momen tentang pengambilalihan kendali.
"Izinkanlah,
Kumelukaimu,
Izinkanlah,
Kupetakan tubuhmu."
Narator mengindikasikan bahwa jika waktu berpihak padanya, giliran dialah yang akan mendominasi. Ia meminta izin untuk membalas melukai dan melakukan pemetaan terhadap tubuh pasangannya.
Istilah "kupetakan" di sini sangat kental dengan nuansa kolonialisme, layaknya penjelajah yang menandai wilayah jajahan baru. Tubuh pasangan kini dipandang sebagai teritori yang harus dieksplorasi batas-batasnya dan dikuasai sepenuhnya.
Cinta dalam fase ini tidak lagi setara, melainkan berubah menjadi transaksi luka yang saling berbalas. Siklus kekerasan ini dianggap sebagai konsekuensi logis dari interaksi dua entitas yang saling memangsa satu sama lain.
Rabu: Politik Dominasi dan Metafora Global
Puncak kengerian lirik lagu ini justru meledak pada hari Rabu, saat langit digambarkan kelabu. Di sinilah Majelis Lidah Berduri menunjukkan kepiawaiannya dalam mencampuradukkan urusan ranjang yang intim dengan geopolitik dunia yang keras.
Sang narator menuntut perintah mutlak untuk merebut segalanya tanpa keraguan sedikit pun. Bagi mereka, cinta diterjemahkan sebagai aksi aneksasi atau perampasan hak milik pihak lain secara paksa.
"Katakanlah jika,
Aku Israel, kau Palestina."
Bagian paling provokatif muncul ketika perbandingan politik digunakan secara eksplisit melalui metafora Israel dan Palestina. Konflik militer-politik kedua pihak ini kerap digambarkan sebagai genosida terhadap rakyat Palestina, sehingga baris tersebut menjadi sangat berani dan sarat makna tentang ketimpangan kuasa antara penindas dan tertindas.
"Jika aku Amerika,
Kau seluruh dunia."
Tidak berhenti di situ, skala metafora diperluas lagi dengan menempatkan narator sebagai "Amerika" dan pasangannya sebagai "seluruh dunia". Ini menggambarkan hegemoni satu pihak yang merasa berhak mengatur tata kelola kehidupan pasangannya.
Ketimpangan ini menegaskan bahwa dalam konsep cinta versi mereka, kesetaraan hanyalah mitos belaka. Bahkan dalam kematian pun terdapat hierarki, di mana eksistensi sang pasangan dianggap jauh lebih besar daripada narator itu sendiri.
Kamis hingga Minggu: Kiamat Kecil yang Disengaja
Empat hari terakhir dalam minggu itu tidak lagi memiliki narasi yang terpisah-pisah, melainkan dilebur menjadi satu babak akhir. Waktu seolah dipadatkan untuk satu tujuan apokaliptik: penghancuran semesta.
"Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu,
Pepatkan seluruh semesta,
Kamis, Jumat, Sabtu, Minggu,
Jika kau menginginkannya."
Pepatkan seluruh semesta dapat diartikan sebagai memadatkan atau meratakan hingga habis tak bersisa. Dunia di luar hubungan mereka dianggap gangguan yang harus dihancurkan demi eksistensi cinta mereka berdua.
Semesta harus runtuh agar ruang bagi ego mereka menjadi satu-satunya hal yang tersisa di dunia ini. Obsesi ini digambarkan meluas ke segala sisi, menciptakan efek mantra yang hipnotik dan mendesak.
Tindakan ini menunjukkan bahwa rasionalitas telah sepenuhnya menguap, digantikan oleh naluri purba untuk mengisolasi diri. Mereka menciptakan kiamat kecil mereka sendiri, di mana hanya ada "kau dan aku" di tengah ketiadaan.
Refleksi Atas Radikalisme Cinta
Majelis Lidah Berduri tidak sedang merayakan kekerasan, melainkan sedang melakukan autopsi terhadap konsep kepemilikan dalam hubungan. Mereka menunjukkan bahwa garis batas antara "mencintai" dan "menguasai" sering kali sangat tipis dan kabur.
Lagu ini menjadi pengingat keras bahwa romantisme yang berlebihan bisa bermutasi menjadi fasisme dalam skala mikro. Tanpa sadar, kita sering memperlakukan pasangan sebagai properti, bukan sebagai manusia yang merdeka.
Melalui metafora yang brutal, kita diajak menyelami betapa mengerikannya jika cinta kehilangan logika. Siapa pun yang mendengarnya dipaksa berkaca, apakah kita sedang tulus mencintai atau justru menjajah pasangan kita secara perlahan.
Baca juga: Mengenal Joseph Pulitzer, dari Imigran Hungaria hingga Tokoh Besar Dunia Pers
