Konten dari Pengguna

Membedah Pasar Bisa Diciptakan: Manifesto Efek Rumah Kaca Melawan Arus Industri

Daffa Yazid Fadhlan

Daffa Yazid Fadhlan

Mahasiswa aktif Universitas Islam Negeri Jakarta dan bagian dari Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Journo Liberta.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Daffa Yazid Fadhlan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber foto: Pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber foto: Pexels.

Di tengah industri kreatif yang sering kali ditentukan oleh tren dan algoritma, gagasan tentang “pasar” biasanya dianggap sesuatu yang sudah ada lebih dulu. Para kreator (atau dalam hal ini adalah pencipta produk) kerap diminta menyesuaikan diri dengan selera pasar, mengikuti pola yang dianggap laku, dan menekan eksperimen yang dianggap terlalu berisiko.

Namun, lagu "Pasar Bisa Diciptakan" ciptaan Efek Rumah Kaca menawarkan pandangan yang berbeda. Alih-alih tunduk pada pasar, lagu yang rilis dalam album Sinestesia (2015) tersebut justru menyampaikan gagasan radikal anti mainstream.

Sejak awal liriknya, lagu ini menghadirkan semacam pernyataan sikap kritis.

“Kami mau yang lebih indah,

bukan hanya remah-remah,

sepah, sudahlah.”

Kalimat tersebut terasa seperti kritik terhadap kondisi yang serba setengah hati. “Remah-remah” dan “sepah” bisa dibaca sebagai simbol dari sesuatu yang tersisa, sesuatu yang kurang bernilai.

Dalam konteks budaya populer, ini bisa diartikan sebagai kejenuhan terhadap karya yang terasa dangkal, repetitif, dan sekadar mengikuti selera massal tanpa menawarkan gagasan baru.

Kemudian, lagu ini bergerak dari kritik menuju sikap yang lebih aktif.

"Kami hanya akan mencipta,

segala apa yang kami cinta.”

Di sini, proses kreatif diposisikan sebagai tindakan yang lahir dari keyakinan, bukan dari kalkulasi pasar semata. Kreativitas tidak lagi menunggu persetujuan publik terlebih dahulu. Ia lahir dari dorongan internal, dari kebutuhan khalayak umum.

Metafora yang muncul setelahnya semakin memperkuat gagasan tersebut.

"Menembus rimba dan belantara,

lalu membangun kota dan peradaban sendiri,"

Bait ini seolah menghadirkan gambaran tentang proses merintis dari nol. Seolah-olah para pencipta produk digambarkan sebagai penjelajah yang membuka wilayah baru. Jalan yang ditempuh mungkin tidak mudah, tetapi justru di situlah ruang baru bisa tercipta.

Dalam banyak kasus, audiens justru terbentuk seiring waktu ketika sebuah karya berhasil menemukan orang-orang yang merasa terhubung dengannya. Dengan kata lain, pasar tidak selalu mendahului karya, kadang justru karya yang melahirkan pasarnya sendiri.

Gagasan ini cukup relevan dengan perjalanan musik independen di Indonesia. Banyak musisi yang memulai kariernya tanpa dukungan industri besar, tanpa promosi masif, bahkan tanpa jaminan bahwa karyanya akan diterima luas.

Namun melalui komunitas kecil, konser sederhana, dan penyebaran dari mulut ke mulut, perlahan-lahan mereka membangun basis pendengar sendiri. Dari ruang kecil itu kemudian muncul ekosistem baru yang pada akhirnya diakui sebagai bagian dari industri.

Coba kita lihat lebih jauh.

“kami ingin lebih bergizi,

bukan hanya yang malnutrisi substansi,”

Dua penggal lirik ini menjadi kritik yang cukup tajam. Kata “malnutrisi” biasanya digunakan dalam konteks kesehatan, tetapi di sini dipakai sebagai metafora untuk menggambarkan karya yang miskin makna.

Lagu ini seolah menyindir budaya populer yang terkadang terlalu fokus pada popularitas dan sensasi, tetapi melupakan kedalaman gagasan. Dalam konteks yang lebih luas, pesan lagu ini tidak hanya berlaku bagi musisi. Ia juga bisa dibaca sebagai refleksi bagi siapa saja yang berkarya di bidang kreatif, termasuk penulis, seniman visual, hingga pembuat konten.

Dunia digital hari ini sering membuat orang merasa harus selalu mengikuti tren agar tetap relevan. Namun, lagu ini mengingatkan bahwa inovasi justru lahir ketika seseorang berani berjalan di luar jalur yang sudah ramai.

Lebih dari sekadar obrolan soal industri, Pasar Bisa Diciptakan layaknya sebuah surat terbuka bagi siapa saja yang masih ragu untuk berkarya. Sebuah produk yang memancarkan keyakinan bahwa pasar bukanlah penguasa yang harus selalu diikuti, melainkan ruang yang bisa dibentuk dan diretas lewat karya-karya yang jujur.