Konten dari Pengguna

Belajar Melihat Dunia Lewat Parasite: Antara Si Kaya dan Si Bawah Tanah

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yehuda el Sebastian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Film bukan cuma hiburan. Kadang, film bisa jadi cermin yang menunjukkan wajah masyarakat yang sebenarnya. Parasite (2019) karya Bong Joon-ho adalah salah satu contohnya. Film ini membuat kita bertanya, siapa sebenarnya parasit di dunia sekarang ,orang miskin yang berjuang, atau mereka yang hidup terlalu nyaman sampai lupa untuk peduli?

Poster Film Korea Terbaik. Sumber: Kumparan/Imdb
zoom-in-whitePerbesar
Poster Film Korea Terbaik. Sumber: Kumparan/Imdb

Kisahnya sederhana. Keluarga Kim hidup di rumah semi-basement yang lembap, pengap, dan hanya bisa melihat setengah dunia lewat jendela kecil dekat jalanan. Hidup mereka berubah ketika anak laki-laki keluarga itu mendapat pekerjaan sebagai tutor di rumah keluarga Park, orang kaya yang tinggal di rumah megah di atas bukit. Perlahan, satu per satu anggota keluarga Kim masuk ke rumah itu dengan menyamar sebagai pekerja profesional. Awalnya tampak lucu dan cerdik, sampai akhirnya semuanya berantakan.

Yang menarik, sang sutradara tidak menuding siapa yang salah di film ini. Ia hanya memperlihatkan betapa jauhnya jarak antara dua dunia itu, dunia yang sama-sama ada di satu kota, tapi seperti terpisah oleh dinding tak terlihat. Satu rumah penuh cahaya dan taman indah, satu lagi gelap, lembab, dan setengah tenggelam di bawah tanah. Ketika hujan turun, keluarga Park menikmati pemandangan dari balik kaca, sementara keluarga Kim kebanjiran. Satu hujan, dua nasib.

Melihat Parasite, kita jadi teringat dengan realitas di sekitar. Di Jakarta misalnya, gedung-gedung tinggi berdiri berdampingan dengan gang sempit tempat orang-orang bekerja siang malam hanya untuk bertahan hidup. Ada yang bisa membeli waktu, ada yang bahkan tak punya waktu untuk bermimpi. Kesenjangan itu nyata, dan sering kali kita menutup mata karena terlalu nyaman di posisi aman.

Yang membuat film ini bermakna bukan cuma ceritanya, tapi kejujurannya. Bong Joon-ho berhasil membuat kita tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Keluarga Kim menipu, iya. Tapi apakah mereka benar-benar jahat? Mereka cuma ingin hidup layak, mendapatkan kesempatan yang seharusnya bisa mereka punya sejak awal. Dan keluarga Park, meski tidak pernah bermaksud jahat, hidup dalam ketidaktahuan yang tenang, tidak sadar bahwa kemewahan mereka bertumpu pada kerja orang lain yang mereka anggap sepele.

Pertanyaan yang tersisa kemudian: siapa sebenarnya parasitnya? Apakah mereka yang berjuang naik dari bawah, atau mereka yang terus mengambil tanpa merasa memberi? Film ini tidak memberi jawaban, tapi justru memberikan cermin ke wajah kita sendiri. Dalam sistem yang timpang, semua orang bisa jadi parasit tanpa sadar, termasuk kita yang merasa tidak terlibat apa-apa.

Di balik tragedi dan kekacauan yang menutup film ini, Parasite menyimpan pesan sederhana tapi penuh dengan makna: empati adalah kemewahan. Mereka yang kenyang mungkin bisa berbicara tentang moral dan etika, tapi bagi yang lapar, kadang bertahan hidup saja sudah jadi perjuangan moral itu sendiri.

Bong Joon-ho tidak hanya membuat film, ia memberi para penonton sebuah peringatan. Tentang betapa mudahnya kita menghakimi orang tanpa tahu posisi mereka. Tentang bagaimana dunia modern mengajarkan kompetisi tapi melupakan belas kasih. Dan tentang bagaimana, kadang, yang paling berbahaya bukanlah mereka yang tinggal di bawah tanah tapi mereka yang tinggal di atas, tanpa pernah mau melihat ke bawah.

Parasite bukan cuma film, tapi pengingat. Bahwa di tengah kehidupan yang serba cepat dan penuh lapisan sosial, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: di lantai berapa sebenarnya kita berdiri?