Konten dari Pengguna

Meme Indonesia sebagai Komunikasi High-Context di Ruang Digital Global

Yemima

Yemima

Mahasiswa Universitas Airlangga

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yemima tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar media digital. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Gambar media digital. Foto: Shutterstock

Pernahkah kalian melihat kolom komentar seorang artis atau influencer luar negeri yang dibanjiri komentar berbahasa Indonesia yang bila dilihat-lihat hal tersebut terasa random, absurd, dan bahkan terkadang terkesan rude? Fenomena “serbuan” netizen Indonesia sebenarnya bukan hal baru. Menurut pakar komunikasi digital Firman Kurniawan, kebiasaan ini berakar dari budaya berkumpul dan mengobrol yang kemudian dibawa ke dunia digital (CNN Indonesia, 2021).

Tidak bisa dipungkiri, di era digital ini, internet telah menjadi salah satu ruang penting bagi masyarakat untuk berkomunikasi, berbagi jokes maupun melemparkan candaan, dan mengeluarkan pendapat, bahkan hal tersebut dapat dilakukan secara anonim. Masyarakat kini dengan mudah mengekspresikan diri dan melontarkan candaan atau meme yang sebenarnya hanya untuk “lucu-lucuan” semata. Meskipun begitu, jokes atau meme yang kita anggap lucu belum tentu lucu bagi orang lain, terutama pengguna media sosial non-Indonesia, karena terdapat perbedaan budaya.

Meme atau jokes masyarakat Indonesia kebanyakan berupa internal jokes, sehingga memahami konteks menjadi sangat penting. Meskipun begitu, internal jokes sebenarnya memiliki fungsi sosial, yaitu sebagai candaan yang dapat membuat penggunanya merasa dekat dan dalam satu identitas yang sama. Saat netizen Indonesia berkomentar ramai-ramai di akun media sosial luar negeri, mereka sering kali sedang mengenali sesama orang Indonesia melalui selera humor mereka yang sama. Humor semacam ini adalah cara kita merasa memiliki kelompok meski berada di ruang digital milik orang lain. Namun, bahasa yang dipakai didominasi bahasa informal dan slang yang artinya tidak akan ditemukan jika dicari secara harfiah di internet. Bahkan sesama orang Indonesia pun terkadang sulit memahaminya karena adanya perbedaan budaya, gap usia, dan bubble pergaulan yang berbeda. Lalu, bagaimana jika jokes Indonesia ini membanjiri kolom komentar orang luar negeri yang bahkan tidak mengerti arti harfiah dari bahasanya?

Dalam perspektif komunikasi verbal, perbedaan cara menyampaikan pesan dapat dijelaskan melalui konsep low-context dan high-context communication (Hall, 1976). Pada budaya low-context, pesan disampaikan secara langsung dan eksplisit, sehingga makna terutama terletak pada kata-kata yang diucapkan. Sebaliknya, pada budaya high-context, banyak makna tersirat dalam konteks, hubungan sosial, dan isyarat nonverbal, sehingga pesan verbal sering kali tidak langsung atau halus. Memahami kedua gaya ini penting agar komunikasi lintas budaya tidak menimbulkan salah tafsir.

Cuitan V-tuber Jepang mengenai jokes "hai antek-antek asing" di X

Kebanyakan meme atau jokes Indonesia termasuk kategori high-context, karena untuk memahaminya kita perlu mengetahui budaya Indonesia, slang, atau konteks tertentu. Contohnya meme “hei antek-antek aseng,” Jika diterjemahkan secara harfiah, kalimat ini tentu terdengar kasar. Padahal, itu hanyalah candaan internal masyarakat Indonesia sebagai bentuk ironi atas ucapan seorang presiden. Namun, bagi orang luar yang tidak memahami konteksnya, ucapan ini bisa dianggap menghina. Dengan kata lain, maknanya sangat bergantung pada konteks dan latar belakang, dan tidak sesuai dengan terjemahan harfiah di internet.

Komentar netizen Indonesia yang membanjiri TikTok artis K-Pop dan balasan kreator K-pop terhadap komentar tersebut

Contoh lain terlihat pada komentar yang membanjiri kolom komentar artis K-pop, seperti “udah fomo ga bener lagi,” “boleh fomo, asal bisa” dan “pro banget dek, problem.” Jika diterjemahkan secara literal, komentar-komentar ini terkesan kasar dan menghina. Bahkan, salah satu kreator sampai membalas dengan “I don’t have FOMO.” Padahal dalam perspektif orang Indonesia, komentar tersebut hanyalah candaan sarkastik tanpa maksud menghina. Netizen Indonesia menuliskannya sebagai seruan dan menganggapnya lucu. Namun, pengguna internasional belum tentu memahami maksudnya karena mereka tidak paham dengan konteksnya. Mereka mungkin menganggapnya kasar, tidak sopan, atau meremehkan, sehingga makna asli candaan itu hilang. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya konteks dalam penggunaan jokes atau meme.

Bahasa juga menjadi faktor penting dalam memahami humor internet, karena tidak semua hal yang diterjemahkan sesuai dengan makna aslinya. Kebanyakan meme menggunakan slang, sarkasme, wordplay, dan unsur lain yang terhubung dengan budaya dan bahasa tertentu. Terjemahan hanya memberi tahu arti literal, bukan makna yang dimaksud, sedangkan meme sangat bergantung pada konteks dan budaya.

Lalu, apa yang bisa kita dilakukan? Sebelum berkomentar di akun internasional, kita harus bertanya pada diri sendiri: apakah candaan ini tetap bisa dipahami tanpa konteks Indonesia? Jika tidak, mungkin lebih baik dinikmati bersama sesama netizen Indonesia. Di sisi lain, pengguna internasional juga perlu menyadari bahwa komentar yang tampak kasar belum tentu bermaksud buruk. Hal ini kembali lagi pada saling memahami dan belajar akan culture masing-masing dapat mencegah kesalahpahaman.

Pada akhirnya, meme atau jokes memiliki banyak latar belakang dan konteks di dalamnya, tidak hanya gambar atau tulisan semata. Humor Indonesia cenderung high-context, sedangkan banyak pengguna internasional terbiasa dengan komunikasi low-context yang menyampaikan makna secara eksplisit. Perbedaan inilah yang membuat candaan kita bisa dipahami secara literal, dianggap kasar, atau kehilangan makna aslinya. Karena itu, kita perlu lebih berhati-hati saat melontarkan candaan di ruang digital lintas budaya. Memahami konteks dan budaya menjadi hal yang penting agar humor tetap menjadi hiburan dan bukan sumber kesalahpahaman.

Referensi:

CNN Indonesia. (2021, 25 Maret). Hobi meriung, netizen RI bisa jadi warga super power internet. https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20210325144517-185-622057/hobi-meriung-netizen-ri-bisa-jadi-warga-super-power-internet

Lamino, P., & Diaz, J. (2025). Intercultural competencies: Understanding high- vs. low-context cultures (Publication No. WC475). University of Florida, Institute of Food and Agricultural Sciences Extension. https://ask.ifas.ufl.edu/publication/WC475