Kesalahpahaman Lintas Budaya Akibat Terjemahan Otomatis di Media Sosial

Undergraduate Student of English Language and Literature at Airlangga University.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yemima Andreana Chrisneyta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Media sosial, terutama Twitter/X, menjadi tempat bagi banyak orang dengan latar negara dan bahasa yang berbeda untuk berkumpul dan berinteraksi dengan satu sama lain. Perbedaan bahasa yang dulu menjadi hambatan utama bagi banyak orang untuk berkomunikasi satu sama lain kini dapat diatasi dengan adanya fitur auto translation atau penerjemah otomatis.
Pengguna dapat membaca unggahan dalam bahasa asing tanpa harus menguasai bahasa tersebut terlebih dahulu. X bahkan mulai memperluas penerjemahan otomatis yang ditenagai oleh Grok pada 2026 untuk membuat unggahan dalam berbagai bahasa lebih mudah menjangkau pengguna global.
Namun, kemudahan tersebut tidak selalu berarti bahwa pesan yang diterima memiliki makna yang sama dengan pesan aslinya. Ketika sebuah terjemahan mengubah makna, teknologi yang seharusnya menjadi jembatan komunikasi justru dapat menjadi sumber kesalahpahaman.
Salah satu contoh nyata adalah interaksi di suatu postingan berbahasa Korea di X. Seorang pengguna X asal Korea membuat unggahan tentang sebuah iklan seorang idol dan menuliskan caption yang harmless. Namun, penerjemah otomatis X menghasilkan terjemahan dengan arti yang berbeda jauh dan memiliki arti yang tidak pantas.
Oleh karena itu, pengunggah harus memberikan klarifikasi bahwa teks aslinya sama sekali tidak memiliki maksud seksual untuk menghindari kesalahpahaman. Sementara itu, pengguna X lain yang tidak mengerti bahasa Korea mengatakan bahwa mereka ingin menonaktifkan fitur penerjemah ini karena terlalu sering membuat salah paham.
Masalah seperti ini muncul karena penerjemahan bukan sekadar mengganti kata-kata dari satu bahasa dengan kata-kata dari bahasa lain. Bahasa sangat erat kaitannya dengan budaya dan konteks.
Menurut House (2016), penerjemahan harus dipahami sebagai komunikasi lintas bahasa dan budaya; artinya, penerjemah perlu mempertimbangkan tidak hanya kata-katanya, tetapi juga konteks tempat kata-kata tersebut digunakan. Jika konteks diabaikan, hasil terjemahan mungkin dapat dipahami secara tata bahasa, namun tetap menyampaikan pesan yang keliru.
Salah satu penyebab hal ini adalah karena bahasa tidak selalu memiliki padanan kata yang persis sama. Sebuah kata atau ungkapan bisa memiliki beberapa makna yang berbeda, tergantung pada situasinya. Bahkan kalimat sederhana pun bisa membingungkan jika diterjemahkan tanpa mempertimbangkan konteks aslinya.
Hal ini terutama sering terjadi pada bahasa informal, bahasa gaul, lelucon, dan ungkapan yang digunakan di media sosial. Sistem penerjemahan mungkin mengenali kata-kata secara terpisah, namun gagal memahami apa yang sebenarnya ingin disampaikan oleh penuturnya.
Ungkapan idiom dan humor menghadirkan tantangan yang jauh lebih besar. Sebagai contoh, beberapa orang sering menggunakan ungkapan yang memiliki makna di luar arti kata-kata penyusunnya. Jika sebuah idiom diterjemahkan kata demi kata, hasilnya mungkin tampak aneh atau sama sekali tidak bermakna bagi orang-orang dengan bahasa lain.
Humor juga bisa menjadi hal yang sulit karena lelucon sering kali bergantung pada pengetahuan budaya lokal. Sebuah lelucon yang mudah dipahami oleh penutur bahasa Korea, misalnya, mungkin tidak memberikan efek yang sama jika diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Inggris. Tanpa konteks budaya, penerima pesan bisa saja salah menangkap maksud pembicara.
Inilah kenapa cultural knowledge sama pentingnya dengan pengetahuan bahasa. Katan dan Taibi (2021) menekankan pentingnya memahami suatu budaya sebelum menerjemahkan bahasa yang berasal dari budaya tersebut.
Karya mereka menyajikan penerjemahan sebagai bentuk mediasi budaya, di mana orang-orang membantu mentransfer makna di antara berbagai perspektif budaya yang berbeda. Dengan kata lain, penerjemahan yang baik tidak hanya tentang "Apa arti kata-kata ini?" tetapi juga, "Apa yang dimaksud oleh orang ini dalam situasi tertentu tersebut?"
Masalah ini menjadi semakin nyata di media sosial karena informasi menyebar dengan sangat cepat. Unggahan dengan terjemahan yang keliru dapat dibagikan ulang, diambil tangkapan layarnya, dan dibahas oleh ribuan orang sebelum penulis aslinya sempat memberikan penjelasan.
Orang-orang yang hanya melihat versi terjemahannya bisa saja membentuk opini berdasarkan informasi yang sebenarnya tidak pernah disampaikan. Konteks budaya aslinya dapat dengan mudah hilang begitu unggahan tersebut berpindah dari satu komunitas bahasa ke komunitas bahasa lainnya.
Hal ini bukan berarti teknologi penerjemahan adalah hal yang tidak berguna. Sebaliknya, penerjemahan otomatis telah membuat komunikasi lintas bahasa menjadi lebih mudah diakses daripada sebelumnya. Teknologi ini dapat membantu orang memahami informasi dasar, berkomunikasi saat bepergian, serta mengakses konten dari negara lain.
Masalah muncul ketika orang berasumsi bahwa teknologi penerjemahan otomatis selalu akurat. Untuk komunikasi sehari-hari, kesalahan kecil mungkin hanya menimbulkan kebingungan. Namun, jika pesan tersebut menyangkut topik sensitif, humor, hubungan, bisnis, atau komunikasi publik, kesalahan penerjemahan dapat berdampak jauh lebih serius.
Menurut pendapat saya, salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan orang adalah menganggap penerjemahan sekadar sebagai proses sederhana menerjemahkan kata demi kata. Seorang penerjemah—atau pengguna alat penerjemah otomatis—perlu mempertimbangkan situasi, hubungan antarpenutur, dan latar belakang budaya di balik pesan tersebut. Hal ini sangat penting terutama saat berkomunikasi secara daring, di mana sering kali hanya tersedia sedikit konteks.
Pembaca pun memiliki tanggung jawab tersendiri. Ketika sebuah kalimat hasil terjemahan tampak sangat aneh, menyinggung perasaan, atau sama sekali tidak sesuai dengan konteksnya, ada baiknya mempertimbangkan kemungkinan bahwa terjemahan tersebut keliru. Alih-alih langsung menghakimi penulis pesan aslinya, pembaca sebaiknya memeriksa bahasa aslinya atau mencari klarifikasi jika memungkinkan. Meluangkan waktu beberapa detik untuk melakukan pengecekan dapat mencegah kesalahpahaman yang jauh lebih besar.
Pada akhirnya, penerjemahan harus dipandang sebagai jembatan antarbudaya, bukan sekadar mesin yang mengubah satu rangkaian kata menjadi rangkaian kata lainnya. Jika jembatan tersebut dibangun tanpa mempertimbangkan konteks dan budaya, kesalahpahaman dapat dengan mudah terjadi.
Contoh dari media sosial memperlihatkan bagaimana satu kesalahan penerjemahan dapat mengubah total cara sebuah pesan dipahami. Seiring dengan semakin seringnya komunikasi lintas budaya terjadi, kecermatan dalam penerjemahan bukan hanya soal menggunakan kata-kata yang tepat, melainkan juga tentang menghargai makna, konteks, dan budaya yang melatarbelakangi kata-kata tersebut.
