Resensi Buku Animal Farm: Semua Hewan sama Derajatnya, Tapi Benarkah?

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Soisal dan Politik Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Yemima Angelica Wijaya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Membaca Kembali Animal Farm dan Ironi Sebuah Kesetaraan
Identitas Buku
Judul: Animal Farm
Penulis: George Orwell
Alih bahasa: Djokolelono
Editor: Tanti Lesmana
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun terbit: 2021
Jumlah halaman: 128 halaman
Genre: Fiksi, satire politik
Sinopsis
Animal Farm bercerita tentang para hewan di sebuah peternakan yang hidup di bawah kekuasaan manusia. Mereka merasa diperlakukan tidak adil dan akhirnya melakukan pemberontakan untuk menciptakan kehidupan yang lebih bebas dan setara.
Setelah berhasil mengusir manusia, para hewan membangun aturan baru yang disebut Tujuh Sila. Salah satu yang paling penting berbunyi, “Semua hewan sama derajatnya.”
Awalnya, kehidupan di peternakan berjalan sesuai cita-cita tersebut. Namun, perlahan kekuasaan mulai terkonsentrasi pada kelompok babi. Napoleon kemudian mengambil alih kepemimpinan dan mulai menggunakan kekuasaan, ketakutan, serta propaganda untuk mengendalikan hewan-hewan lainnya.
Aturan yang awalnya dibuat untuk menjamin kesetaraan pun perlahan berubah.
Resensi
Hal yang paling menarik bagi saya dari Animal Farm adalah ironi di balik Sila ke-7: “Semua hewan sama derajatnya.” Awalnya, para hewan percaya bahwa setelah terbebas dari manusia, mereka akan hidup dalam kesetaraan. Namun, seiring berjalannya waktu, kekuasaan justru kembali terkonsentrasi pada segelintir pihak.
Animal Farm juga menarik karena berkaitan erat dengan Revolusi Rusia 1917 dan perkembangan Uni Soviet. Napoleon menggambarkan Joseph Stalin, sementara Snowball berkaitan dengan Leon Trotsky.
Yang paling menarik adalah bagaimana Tujuh Sila yang awalnya menjadi dasar kesetaraan perlahan diubah dan dipelintir. Melalui Squealer dan propaganda, sesuatu yang salah dapat dibuat seolah-olah benar. Dari sini, Orwell menunjukkan bahwa kekuasaan tidak selalu harus menghapus aturan. Cukup dengan mengubah maknanya, ketidakadilan bisa terlihat seperti sesuatu yang wajar.
Pada akhirnya, Animal Farm membuat saya mempertanyakan satu hal. Apa jadinya ketika mereka yang awalnya memperjuangkan kesetaraan justru menjadi pihak yang menikmati kekuasaan?
Kekurangan
Menurut saya, salah satu kekurangan Animal Farm adalah simbol-simbol sejarahnya tidak selalu mudah dipahami jika pembaca belum mengetahui konteks Revolusi Rusia dan perkembangan Uni Soviet.
Beberapa karakter dan peristiwa terasa jauh lebih bermakna setelah mengetahui latar sejarah di baliknya. Karena itu, pembaca yang hanya mengikuti ceritanya sebagai kisah fabel mungkin akan melewatkan sebagian pesan politik yang ingin disampaikan Orwell.
Selain itu, karena ceritanya relatif singkat, beberapa perubahan dalam kehidupan para hewan terasa berlangsung cukup cepat. Namun, justru karena singkat, pesan yang disampaikan Orwell terasa padat dan mudah diingat.
Kesimpulan
Animal Farm bagi saya bukan hanya cerita tentang hewan yang berhasil menggulingkan manusia. Buku ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah cita-cita tentang kesetaraan dapat berubah ketika kekuasaan mulai mengambil alih.
Kalimat “Semua hewan sama derajatnya” pada akhirnya menjadi ironis karena kesetaraan yang dulu diperjuangkan justru perlahan kehilangan maknanya. Dan mungkin, di situlah kekuatan terbesar buku ini.
Kita sering berpikir bahwa perubahan akan otomatis menghasilkan kehidupan yang lebih baik. Padahal, perubahan hanya menjadi berarti jika nilai yang diperjuangkan tetap dijaga setelah kekuasaan berpindah tangan.
Sebab, mengganti siapa yang berkuasa belum tentu berarti menghilangkan ketidakadilan.
Rating: 9/10
