Konten dari Pengguna

Emas Meroket, Rupiah Kehilangan Wibawa?

Yeni oktaviani

Yeni oktaviani

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi di Universitas Pamulang Yang Tertarik Pada Isu Ekonomi, Bisnis dan Pendidikan

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yeni oktaviani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: https://www.freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: https://www.freepik.com

Harga emas sempat mencatat rekor baru pekan ini. Data Antam menunjukkan bahwa pada 10 September 2025 harga emas berada d Rp2.074.000 per gram, lalu naik ke Rp2.095.000 per gram pada 11 September 2025. Tren positif berlanjut hingga puncaknya pada 17 September 2025 di Rp2.115.000 per gram naik Rp41.000 hanya dalam sepekan. Namun, per 18 September 2025, harga emas kembali turun tipis ke Rp2.098.000 per gram. Fluktuasi ini menunjukkan bahwa pasar emas masih sangat sensitif terhadap dinamika global maupun kebijakan moneter.

Fenomena emas yang sempat meroket bukan sekadar kabar gembira bagi penabung emas, melainkan juga sinyal keresahan ekonomi. Dalam literatur moneter, emas dikenal sebagai safe haven asset tempat pelarian ketika nilai mata uang melemah atau ketidakpastian ekonomi meningkat. Pertanyaannya, apakah pergerakan harga emas ini pertanda bahwa rupiah mulai kehilangan wibawa di mata masyarakat?

Jika menilik data makro, inflasi tahunan Agustus 2025 masih terkendali di 2,31% aman dalam target Bank Indonesia (1,5–3,5%). Namun, kurs rupiah menghadapi tekanan. Per 17 September 2025, nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp16.466 per dolar AS, lebih lemah dibanding beberapa pekan sebelumnya. Tekanan kurs inilah yang memperkuat dorongan masyarakat untuk mengalihkan aset mereka dari rupiah ke emas.

Kenaikan (dan penurunan cepat) harga emas dipengaruhi berbagai faktor yaitu pelemahan rupiah, ekspektasi inflasi jangka panjang, hingga keputusan The Fed yang memicu ketidakpastian pasar global. Namun, yang paling penting adalah kepercayaan publik terhadap rupiah. Jika masyarakat lebih nyaman menyimpan kekayaan dalam bentuk emas ketimbang rupiah, maka stabilitas mata uang nasional sedang diuji.

Sejarah teori moneter memberi gambaran jelas. Fisher (1911) menegaskan daya beli uang bergantung pada kestabilan jumlah uang beredar. Keynes (1936) menambahkan bahwa masyarakat menyimpan uang untuk berbagai motif, termasuk speculative motive terlihat ketika investor cepat melepas emas demi keuntungan sesaat. Friedman (1968) menekankan bahwa inti kebijakan moneter adalah menjaga kepercayaan terhadap mata uang. Jika rupiah dilepaskan demi emas, maka kepercayaan itu tengah rapuh.

Dalam situasi ini, pemerintah dan Bank Indonesia dituntut responsif. Pengendalian inflasi, stabilisasi kurs, dan komunikasi publik yang meyakinkan menjadi kunci menjaga persepsi positif terhadap rupiah. Emas boleh berkilau, tetapi rupiah harus tetap berdiri sebagai simbol utama kestabilan ekonomi Indonesia.

Solusi bagi Masyarakat:

1. Tabungan jangka panjang artinya Emas tetap relevan sebagai simpanan, tetapi jangan panik ikut-ikutan menjual saat harga berfluktuasi.

2. Diversifikasi aset artinya kombinasikan emas dengan instrumen lain seperti tabungan rupiah, deposito, obligasi ritel, atau reksa dana.

3. Kebutuhan likuidita yaitu Siapkan dana tunai darurat agar tidak terpaksa menjual emas di saat harga turun.

Dengan strategi bijak, emas dapat berfungsi sebagai pelindung nilai, rupiah tetap dijaga sebagai alat transaksi, dan masyarakat lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi global.

Referensi:

Fisher, I. (1911). The Purchasing Power of Money. New York: Macmillan.

Keynes, J. M. (1936). The General Theory of Employment, Interest and Money. London: Macmillan.

Friedman, M. (1968). The Role of Monetary Policy. American Economic Review, 58(1), 1–17.

PT Antam. (2025). Harga Emas Logam Mulia Antam, 10–18 September 2025.

BPS. (2025). Inflasi Indonesia Agustus 2025.

Bank Indonesia. (2025, 17 September). Kurs Transaksi BI.

Bloomberg Technoz. (2025, 18 September). Emas Antam Melemah Ikuti Tren Global Pasca Keputusan The Fed.