SDM Rendah Menurut Perspektif Filsafat Sistem

Peneliti Sapa Institut
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yeni Herliana Yoshida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sering kali kita mendengar, melihat, dan membaca mengenai istilah SDM rendah terutama di media sosial. Atau mungkin kita sendiri yang sering mengucapkan istilah tersebut? Lalu apa itu sebenarnya SDM rendah? Ada hal menarik yang jika dibedah dari perspektif filsafat sistem mengenai istilah SDM rendah. Dalam filsafat sistem, cara pandang kita terhadap semua hal yang ada dimuka bumi ini harus jelas dalam melihat polanya dan hubungan timbal baliknya. Berpikir sistem artinya berpikir menyeluruh yang didasarkan pada totalitas dan interrelasional. Sebelum mendefiniskan SDM rendah secara utuh, dalam filsafat sistem kita harus membedahnya terlebih dahulu dari mulai apa itu sumber, apa itu daya, apa itu manusia, dan apa itu rendah. Sehingga menjadi satu definisi yaitu SDM rendah.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sumber diartikan sebagai titik asal atau reservoir dari sesuatu yang memiliki potensi untuk menghasilkan atau menyediakan. Maka dapat disimpulkan bahwa kata “sumber” tidak selalu berarti benda. Lalu kata “daya” dalam KBBI memiliki beberapa arti yaitu dapat dipahami sebagai kapasitas atau kemampuan untuk menghasilkan efek, tindakan atau hasil. Selanjutnya kata “manusia”, dalam mendefinisikannya kata “manusia” memiliki beberapa level ilmiah. Menurut Smithsonian Institution secara biologis manusia diartikan sebagai organisme dari Homo Sapiens, yaitu spesies tempat seluruh manusia yang hidup saat ini berada. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mendefiniskan manusia sebagai human capital yaitu memiliki pengetahuan, keterampilan, kompetensi, dan semua hal yang melekat pada individu yang relevan bagi aktivitas ekonomi untuk meningkatkan standar hidup. Namun, manusia tidak sama dengan sumber daya.
Ketika digabungkan sumber dan daya maknanya bukan lagi sekedar “asal” dan “kemampuan”. Tetapi sumber daya diartikan sebagai sesuatu yang memiliki potensi daya guna yang dapat dimobilisasi untuk mencapai kepentingan dan tujuan tertentu. Lalu jika digabungkan semuanya apa itu sumber daya manusia? Sumber daya manusia adalah keseluruhan potensi dan kapasitas yang melekat pada individu yang meliputi pengetahuan, keterampilan, kompetensi, dan pengalaman yang dapat dikembangkan untuk menghasilkan nilai untuk mencapai tujuan.
Selanjutnya kita definisikan apa itu rendah. Secara konseptual, rendah berarti berada pada tingkat yang lebih kecil, kurang, atau di bawah standar/pembanding. Kata “rendah” selalu membutuhkan pertanyaan seperti, rendah dibandingkan apa? Maka jika dikaitkan dengan SDM, apa yang dimaksud dengan SDM rendah? SDM rendah, yaitu kondisi ketika tingkat kapasitas manusia pada level tertentu berada pada tingkat yang lebih kecil dibandingkan standar atau populasi pembanding yang digunakan. Istilah SDM rendah sebaiknya dipahami sebagai penilaian terhadap dimensi kapasitas tertentu yang berada di bawah standar atau kelompok pembanding yang relevan, bukan sebagai label mutlak terhadap keseluruhan kualitas seorang manusia. Contohnya, seseorang bisa memiliki literasi digital yang rendah, tetapi mempunyai keterampilan sosial yang baik. Orang lain bisa berpendidikan tinggi, tetapi kesulitan mengelola konflik.
Faktor-faktor yang menjadikan SDM tersebut berada pada posisi rendah yaitu dapat diukur dari dimensi pendidikan, seperti rata-rata lama sekolah, kualitas pembelajaran dan capaian pendidikan. Dimensi pengetahuan seperti literasi, numerasi, pengetahuan teknis dan pengetahuan digital. Dari dimensi keterampilan berbeda dengan dimensi pendidikan. OECD mendefinisikan keterampilan sebagai kemampuan untuk menerapkan pengetahuan dan menggunakan know-how untuk menyelesaikan tugas dan memecahkan masalah. Contohnya seseorang bisa berpendidikan tinggi tetapi memiliki keterampilan tertentu yang levelnya dibawah standar (rendah). Selanjutnya dimensi kesehatan, menurut World Bank kesehatan sebagai komponen penting human capital karena kondisi kesehatan memengaruhi manusia untuk belajar dan bekerja secara produktif. Karena itu kualitas SDM tidak bisa hanya diukur dari ijazah. Serta yang terakhir yaitu dimensi kesempatan menggunakan kemampuan. UNDP secara eksplisit menekankan bahwa pembangunan manusia bukan hanya mengenai pembentukan kemampuan, tetapi juga kesempatan untuk menggunakan kemampuan tersebut.
Dalam filfasat sistem ada pendekatan yang dinamakan open system dan close system. Open system selalu terbuka terhadap pengaruh atau informasi dari luar seperti lingkungan, bacaan, tontonan, dan perilaku yang secara terus menerus melakukan pertukaran informasi. Sedangkan close system selalu tertutup atau terisolasi dari lingkungannya dan hanya melihat juga mencontoh apa yang ada didalam close system tersebut. Singkatnya, open system melakukan pertukaran dengan lingkungan, sedangkan close system secara ideal tidak melakukan pertukaran tersebut.
Lingkungan yang membatasi akses terhadap informasi, pengalaman, dialog, dan umpan balik dapat menghambat perkembangan kapasitas individu. Dalam analogi sistem, kondisi tersebut dapat dipahami sebagai terbatasnya pertukaran antara individu dan lingkungannya. Namun, keterbatasan pertukaran informasi tidak serta-merta membuktikan bahwa seseorang memiliki kapasitas SDM yang rendah.
Dalam perspektif filsafat sistem, kualitas sumber daya manusia tidak dapat dilepaskan dari hubungan antara individu dan lingkungannya. Kapasitas manusia berkembang melalui proses belajar, pengalaman, akses terhadap informasi, interaksi sosial, dan umpan balik dari lingkungan. Oleh karena itu, lingkungan yang membatasi proses-proses tersebut dapat menghambat perkembangan kemampuan individu. Namun, keterbatasan lingkungan tidak serta-merta menentukan rendahnya kapasitas setiap orang yang berada di dalamnya.
Hubungan tersebut juga dapat dilihat melalui kemampuan scenario building, yaitu proses menyusun berbagai kemungkinan masa depan berdasarkan kondisi saat ini, ketidakpastian, dan potensi perubahan. Kualitas skenario yang dihasilkan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, kemampuan berpikir kritis, serta akses terhadap informasi yang relevan. Meskipun pendidikan tinggi tidak secara otomatis menjamin kemampuan menyusun skenario yang baik, sebagaimana keterbatasan pendidikan formal tidak otomatis menunjukkan ketidakmampuan seseorang dalam berpikir antisipatif.
Maka, istilah “SDM rendah” perlu digunakan secara hati-hati. Penilaian terhadap kapasitas manusia membutuhkan indikator yang jelas, standar pembanding yang relevan, dan pemahaman terhadap kondisi sistemik yang memengaruhinya. Perspektif filsafat sistem mengajak kita untuk tidak hanya mempertanyakan keterbatasan individu, tetapi juga menelaah bagaimana lingkungan, institusi, dan pola interaksi sosial turut membentuk kapasitas tersebut. Pertanyaan pentingnya bukan semata-mata siapa yang memiliki SDM rendah, melainkan kapasitas apa yang belum berkembang, faktor apa yang menghambatnya, dan bagaimana sistem dapat mendukung pengembangannya.
