Mengapa Manusia Membenarkan Kesalahannya?

Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yeona Arsilenda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memahami Perilaku Moral melalui Psikologi dan Islam
Pernahkah kita melihat seseorang melakukan sesuatu yang sebenarnya ia tahu salah, tetapi tetap melakukannya karena merasa memiliki alasan yang dapat diterima? Misalnya, seseorang melanggar aturan karena menganggap orang lain juga melakukan hal yang sama. Atau seseorang menganggap kesalahannya tidak terlalu besar karena merasa tidak ada pihak yang dirugikan secara langsung.
Hal semacam ini menunjukkan bahwa mengetahui mana yang benar dan salah tidak selalu membuat seseorang bertindak sesuai dengan pengetahuannya.
Pemberitaan tentang dugaan korupsi yang kembali menjadi perhatian publik juga mengingatkan kita pada persoalan tersebut. Di balik pembicaraan tentang aturan dan kerugian negara, ada pertanyaan yang menarik untuk dilihat dari sisi psikologi: mengapa seseorang bisa mengetahui bahwa suatu tindakan salah, tetapi tetap melakukannya?
Ketika kesalahan terasa bisa dibenarkan
Dalam psikologi, terdapat istilah moral disengagement, yaitu proses ketika seseorang membenarkan tindakan yang bertentangan dengan nilai moralnya. Dengan kata lain, seseorang dapat mencari alasan agar tindakannya terasa lebih dapat diterima, meskipun sebenarnya ia mengetahui bahwa tindakan tersebut salah.
Hikmah dan Marastuti (2020) meneliti hubungan moral disengagement dan kepemimpinan etis dengan intensi korupsi pada 100 pegawai negeri sipil di beberapa instansi pemerintahan di Yogyakarta. Hasil penelitian mereka menunjukkan bahwa moral disengagement secara signifikan memprediksi niat untuk melakukan korupsi, dengan kontribusi sebesar 13%.
Temuan ini memperlihatkan bahwa cara seseorang membenarkan tindakannya berkaitan dengan niatnya untuk melakukan korupsi. Namun, penelitian tersebut mengukur niat, bukan memastikan bahwa seseorang benar-benar melakukan korupsi. Angka 13% juga bukan berarti 13% kasus korupsi disebabkan oleh moral disengagement.
Dalam kehidupan sehari-hari, pembenaran semacam ini bisa terlihat ketika seseorang berkata, “Orang lain juga melakukannya,” atau, “Aku hanya melakukannya sedikit.” Alasan tersebut dapat membuat seseorang merasa bahwa tindakannya tidak terlalu bermasalah.
Tentu saja, contoh sederhana ini tidak bisa disamakan begitu saja dengan korupsi. Namun, contoh tersebut membantu kita memahami bagaimana seseorang dapat mencari alasan untuk mengurangi rasa bersalah atau menganggap kesalahannya masih bisa dimaklumi.
Artinya, persoalan moral bukan hanya tentang mengetahui aturan. Cara seseorang memandang tindakannya juga dapat memengaruhi keputusan yang ia ambil.
Memahami diri manusia melalui psikologi Islam
Jika psikologi kontemporer membantu menjelaskan bagaimana seseorang dapat membenarkan kesalahannya, bagaimana kita memahami persoalan tersebut melalui psikologi Islam?
Skinner (2019), dalam kajiannya tentang tradisi dan konsep dasar psikologi Islam, membahas model diri manusia yang mencakup qalb, aql, dan nafs. Model ini berangkat dari pemikiran Islam tradisional dan ditawarkan sebagai kerangka konseptual untuk memahami manusia, bukan sebagai hasil eksperimen yang secara khusus meneliti perilaku korupsi.
Dalam model tersebut, qalb tidak hanya merujuk pada hati secara fisik, tetapi juga pada dimensi spiritual manusia yang berkaitan dengan hubungan kepada Tuhan dan fitrah. Sementara itu, aql berkaitan dengan kemampuan berpikir dan memahami. Adapun nafs dijelaskan sebagai daya hidup yang juga berkaitan dengan dorongan naluriah manusia.
Ketiga konsep ini mengajak kita melihat bahwa manusia tidak hanya terdiri atas kemampuan berpikir. Ada pula dimensi spiritual dan berbagai dorongan yang menjadi bagian dari kehidupannya.
Nafs sendiri tidak tepat jika langsung dianggap sebagai sesuatu yang selalu buruk. Dorongan dalam diri merupakan bagian dari manusia. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dorongan tersebut memengaruhi pilihan dan tindakan seseorang.
Melalui kerangka ini, psikologi Islam menawarkan cara untuk membicarakan manusia secara lebih menyeluruh, termasuk hubungan antara pikiran, dorongan, dan kehidupan spiritualnya.
Ketika akal digunakan untuk mencari pembenaran
Kemampuan berpikir tidak selalu membuat seseorang mengambil keputusan yang benar. Terkadang, seseorang justru menggunakan pikirannya untuk mencari alasan yang mendukung keinginannya.
Sebagai contoh, seseorang mungkin mengetahui bahwa suatu tindakan merugikan orang lain, tetapi kemudian mencari alasan agar tindakannya terasa wajar. Ia lebih berfokus pada alasan yang menguntungkan dirinya daripada mempertimbangkan apakah tindakannya memang benar.
Jika dilihat melalui psikologi kontemporer, hal ini dapat dibahas menggunakan konsep moral disengagement. Sementara itu, model Skinner mengajak kita melihat persoalan diri manusia melalui hubungan antara qalb, aql, dan nafs.
Kedua pendekatan tersebut memiliki dasar dan cara penjelasan yang berbeda. Penelitian tentang moral disengagement memberikan temuan empiris mengenai kaitannya dengan intensi korupsi, sedangkan model Skinner merupakan kerangka konseptual dari tradisi pemikiran Islam. Keduanya dapat menjadi bahan refleksi untuk memahami perilaku moral, tetapi tidak membuktikan bahwa seseorang melakukan kesalahan karena kondisi qalb, aql, atau nafs tertentu.
Mengetahui yang benar belum tentu cukup
Dari pembahasan ini, kita dapat melihat bahwa mengetahui suatu tindakan itu salah tidak selalu berarti seseorang akan menghindarinya. Ada kalanya seseorang memahami aturan, tetapi tetap mencari pembenaran ketika aturan tersebut bertentangan dengan keinginannya.
Karena itu, membicarakan perilaku moral tidak cukup hanya dengan menanyakan apakah seseorang mengetahui mana yang benar dan salah. Kita juga perlu memahami bagaimana ia mengambil keputusan, menilai tindakannya sendiri, dan mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain.
Psikologi Islam memberikan ruang untuk merefleksikan persoalan tersebut melalui pemahaman tentang diri manusia, termasuk qalb, aql, dan nafs. Sementara itu, penelitian psikologi kontemporer membantu kita memahami salah satu proses yang dapat membuat seseorang membenarkan tindakan yang bertentangan dengan nilai moralnya.
Meski demikian, perilaku manusia tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu konsep. Lingkungan, kesempatan, sistem pengawasan, dan kondisi sosial juga perlu diperhatikan, terutama ketika membicarakan persoalan korupsi.
Pada akhirnya, memahami diri sendiri dapat dimulai dari pertanyaan sederhana: ketika melakukan kesalahan, apakah kita sungguh-sungguh berusaha memahami mengapa tindakan itu salah, atau justru sibuk mencari alasan agar kesalahan tersebut terasa wajar?
Sebab, mengenali mana yang benar dan salah merupakan langkah awal. Tantangan berikutnya adalah menjadikan nilai tersebut sebagai pertimbangan dalam tindakan kita sehari-hari.
