Cashless Society: Benarkah Uang Tunai Akan Segera Ditinggalkan?

Saya seorang mahasiswi, jurusan pendidikan ekonomi di Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari yesi alysia ais tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
“Aduh, baterai HP tinggal 5 persen.” Kalimat sederhana ini mungkin sekarang terasa lebih mengkhawatirkan daripada lupa membawa uang tunai. Pasalnya, semakin banyak aktivitas sehari-hari yang bisa dilakukan hanya dengan smartphone, termasuk membayar makanan, berbelanja, hingga menggunakan transportasi.
Perubahan kebiasaan tersebut menjadi salah satu tanda berkembangnya cashless society, yaitu kondisi ketika masyarakat semakin terbiasa melakukan transaksi tanpa menggunakan uang tunai. Dulu, sebelum pergi keluar rumah, kita mungkin akan memastikan dompet dan uang tunai sudah dibawa. Sekarang, yang diperiksa bisa jadi justru saldo rekening, aplikasi pembayaran, atau baterai smartphone. Kehadiran QRIS, mobile banking, dan berbagai layanan pembayaran digital membuat transaksi menjadi lebih praktis. Bahkan, pembayaran digital kini tidak hanya ditemukan di pusat perbelanjaan, tetapi juga semakin mudah ditemui pada berbagai usaha kecil dan UMKM. Perkembangan tersebut terlihat dari data Bank Indonesia. Pada triwulan I 2026, volume transaksi pembayaran digital mencapai 14,82 miliar transaksi, tumbuh 37,69 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Transaksi QRIS bahkan tumbuh 116,43 persen secara tahunan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa pembayaran digital semakin menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat. Apakah Uang Tunai Akan Hilang? Melihat cepatnya perkembangan pembayaran digital, muncul pertanyaan: apakah suatu saat uang tunai benar-benar akan ditinggalkan? Belum tentu. Cashless society tidak berarti masyarakat harus sepenuhnya berhenti menggunakan uang tunai. Dalam kehidupan sehari-hari, uang tunai masih memiliki fungsi, terutama ketika seseorang tidak memiliki akses ke layanan digital, mengalami kendala jaringan, atau berada di tempat yang belum menyediakan pembayaran non-tunai. Jadi, perubahan yang terjadi lebih tepat dilihat sebagai pergeseran kebiasaan pembayaran, bukan penghapusan uang tunai secara langsung.
Praktis, tapi Ada Hal yang Perlu Diperhatikan Pembayaran digital memang memberikan kemudahan. Kita tidak perlu mencari uang pas atau menerima kembalian karena transaksi dapat dilakukan hanya dengan beberapa langkah. Namun, kemudahan tersebut juga bisa membuat pengeluaran terasa lebih ringan. Saat membayar dengan uang tunai, kita dapat melihat uang secara langsung berkurang dari dompet. Sementara ketika melakukan pembayaran digital, prosesnya hanya berupa scan atau beberapa kali klik.
Karena itu, penggunaan pembayaran digital tetap perlu diimbangi dengan kebiasaan mengatur keuangan. Jangan sampai kemudahan bertransaksi justru membuat kita lebih mudah melakukan pembelian tanpa mempertimbangkan kebutuhan. Selain pengelolaan keuangan, keamanan juga penting. Bank Indonesia mencatat bahwa perkembangan transaksi digital perlu diikuti dengan penguatan manajemen risiko dan keamanan siber.
Perkembangan cashless society menunjukkan bahwa cara masyarakat menggunakan uang sedang berubah. Uang yang sebelumnya berada di dompet kini semakin sering berpindah melalui layar smartphone. Bank Indonesia juga terus memperluas ekosistem pembayaran digital. Hingga April 2026, QRIS telah digunakan oleh 63 juta pengguna dan lebih dari 45 juta merchant, dengan mayoritas merchant merupakan UMKM. Artinya, pembayaran digital bukan lagi sekadar tren sesaat. Teknologi sudah menjadi bagian dari perkembangan sistem pembayaran dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Namun, bukan berarti uang tunai akan langsung menghilang. Untuk saat ini, keduanya masih dapat digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi. Mungkin beberapa tahun lalu kita sering bertanya, “Bawa uang tunai nggak?” Sekarang, pertanyaannya bisa saja berubah menjadi: “HP kamu masih ada baterainya, kan?”
