Konten dari Pengguna

Kaya Semakin Kaya, Miskin Semakin Miskin? Melihat Wajah Ketimpangan di Indonesia

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari yesi alysia ais tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kita bertanya, mengapa di tengah gedung-gedung tinggi dan perkembangan teknologi yang semakin pesat, masih ada masyarakat yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari? Di satu sisi, sebagian orang dapat menikmati berbagai kemudahan ekonomi. Namun di sisi lain, masih banyak masyarakat yang harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan dan penghasilan yang layak.

Indonesia memang terus mencatat pertumbuhan ekonomi. Namun, pertumbuhan tersebut belum sepenuhnya dirasakan secara merata. Perbedaan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, modal usaha, dan teknologi membuat kesempatan setiap orang menjadi tidak sama. Akibatnya, ketimpangan ekonomi masih menjadi tantangan yang perlu diperhatikan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Maret 2025 jumlah penduduk miskin di Indonesia mencapai sekitar 23,85 juta orang atau 8,47 persen dari total penduduk. Angka ini memang mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi tetap menunjukkan bahwa jutaan masyarakat masih hidup dalam keterbatasan. Selain itu, tingkat kemiskinan di perdesaan masih lebih tinggi dibandingkan perkotaan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan dan kesempatan ekonomi belum sepenuhnya merata.

gambaran kesenjangan di Indonesia

Ketimpangan juga terlihat dari nilai Gini Ratio Indonesia yang pada Maret 2025 berada di angka 0,375. Walaupun mengalami perbaikan dibandingkan periode sebelumnya, angka tersebut menunjukkan bahwa distribusi pendapatan dan pengeluaran masyarakat masih belum sepenuhnya seimbang.

Kemiskinan sebenarnya bukan hanya tentang kurangnya pendapatan. Kemiskinan juga berkaitan dengan akses terhadap pendidikan, kesehatan, teknologi, dan kesempatan untuk berkembang. Ketika seseorang tidak memiliki akses tersebut, peluang untuk meningkatkan taraf hidup menjadi lebih kecil.

Karena itu, mengurangi kemiskinan tidak cukup hanya melalui bantuan sosial. Masyarakat juga perlu mendapatkan kesempatan yang lebih luas melalui pendidikan yang berkualitas, lapangan kerja, akses modal, serta pemberdayaan UMKM. Dengan kesempatan yang lebih merata, pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

Pada akhirnya, keberhasilan ekonomi Indonesia tidak hanya diukur dari tingginya angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari seberapa banyak masyarakat yang dapat menikmati hasil pembangunan. Sebab, ekonomi yang kuat bukan hanya tentang bertambahnya angka, melainkan tentang hadirnya kesejahteraan yang dapat dirasakan bersama.