Konten dari Pengguna

Ekstremisme di Afrika Sub-Sahara: Tantangan SDGs untuk Pembangunan Berkelanjutan

Yessy Putri Natasya

Yessy Putri Natasya

Mahasiswa Hubungan Internasional di Univeristas Kristen Indonesia

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yessy Putri Natasya tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Made with AI
zoom-in-whitePerbesar
Made with AI

Peran SDGs: Membangun Solusi Holistik untuk Mencegah Ekstremisme

Afrika Sub-Sahara telah menjadi panggung utama bagi pertumbuhan ekstremisme global. Faktor pendorong yang mendasarinya, seperti yang diungkapkan dalam laporan terbaru dari PBB, menyoroti pergeseran signifikan dalam motivasi bergabungnya individu dengan kelompok-kelompok ekstremis di wilayah ini.

Menurut laporan UNDP, sebanyak 92 persen dari mereka yang bergabung dengan entitas ekstremis di delapan negara Afrika memiliki motivasi utama: pencarian mata pencaharian yang lebih baik. Kebutuhan akan penghidupan yang layak dan kekurangan opsi ekonomi yang memadai telah menjadi katalis bagi peningkatan angka rekrutmen. Faktor-faktor agama, yang dahulu dianggap sebagai penggerak utama, kini semakin redup dalam mempengaruhi keputusan mereka.

Pentingnya laporan ini tidak hanya terletak pada identifikasi penyebab, tetapi juga pada dampak yang merambah luas. Dari lebih dari 2.200 responden yang diwawancarai, lebih dari separuhnya adalah mantan anggota kelompok ekstremis. Mereka memberikan wawasan yang berharga tentang dinamika yang terlibat dalam rekrutmen dan faktor-faktor yang mendorong keterlibatan mereka.

Namun, statistik yang menggemparkan tentang lebih dari 4.000 serangan yang tercatat dengan lebih dari 18.000 kematian menunjukkan konsekuensi mengerikan dari kehadiran ekstremisme ini. Somalia, dengan jumlah kematian tertinggi, menggambarkan penderitaan mendalam yang diakibatkan oleh kekerasan yang tak kenal ampun.

Pemerintah Somalia telah memulai upaya ofensif melawan kelompok ekstremis al-Shabab. Namun, respons militer semata tidak menawarkan solusi jangka panjang. Perlu adanya investasi yang lebih besar dalam pendekatan pencegahan terhadap ekstremisme, mengingat dampaknya yang melampaui batas-batas keamanan tradisional.

Sudut pandang SDGs sangat relevan dalam konteks ini. Upaya untuk memerangi kemiskinan, meningkatkan pendidikan, menciptakan lapangan kerja yang layak, serta mempromosikan kesetaraan gender menjadi esensial dalam menangani akar permasalahan yang memicu ekstremisme. Pembangunan yang berkelanjutan tidak hanya tentang infrastruktur fisik, tetapi juga tentang menciptakan masyarakat yang inklusif dan berdaya.

Kesimpulannya, ekstremisme di Afrika Sub-Sahara bukanlah sekadar ancaman keamanan, tetapi juga ancaman terhadap pencapaian pembangunan berkelanjutan. Dibutuhkan kolaborasi yang lebih kuat antara negara-negara, lembaga internasional, dan organisasi non-pemerintah untuk menghadapi tantangan ini dengan pendekatan holistik, menggabungkan aspek keamanan dengan upaya pembangunan jangka panjang yang terfokus pada kesejahteraan manusia.