Konten dari Pengguna

Hubungan antara Sastra Anak dengan Psikologis Anak

Yulia Nur Hasanah

Yulia Nur Hasanah

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yulia Nur Hasanah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PIXABAY
zoom-in-whitePerbesar
PIXABAY

Apa itu sastra anak?

Manusia sebagai subjek sekaligus objek dalam sastra menjadikan eksistensi sastra tidak bisa dipisahkan dengan kehiduapan. Sastra merupakan seni yang menggambarkan kehidupan manusia dalam berbagai aspek. Bentuk sastra tidak hanya sebatas pada lembaran-lembaran kertas berisi pemikiran dan ekspresi pengarang. Lebih dari itu, sastra memiliki peran dalam menyampaikan aspirasi manusia. Menurut Sapardi Djoko Damono, sastra adalah lembaga sosial yang menggunakan bahasa sebagai medium penyampaiannya. Sastra juga menampilkan gambaran kehidupan manusia dan kehidupan tersebut adalah suatu kenyataan sosial.

Eksistensi sastra yang tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan manusia. Ini menjadi bukti jika keberadaan sastra sangat dekat dengan kita. Dengan kata lain, sastra ada di mana-mana. Bahkan sejak kecil kita sudah akrab terhadap sastra tanpa kita sadari. Di antara kalian pasti pernah membaca dongeng atau cerita pengantar tidur. Bacaan-bacaan tersebut merupakan contoh karya sastra anak yang populer di kalangan anak-anak dan tidak jarang digemari oleh orang dewasa.

Sastra anak adalah karya sastra yang dapat dipahami oleh anak secara emosional psikologis. Oleh karena itu secara umum audiensi sastra anak adalah anak-anak. Melalui karya sastra inilah para pengarang menggambarkan berbagai pengalaman hidup yang dapat dipahami oleh anak. Sastra anak bisa berarti karya sastra dari anak untuk anak, maupun dari dari orang dewasa untuk anak. Dengan kata lain, sastra anak tidak hanya merujuk pada pengarang dewasa tetapi boleh ditulis oleh anak-anak. Terdapat dua hal penting yang harus dilakukan oleh pengarang ketika akan menuliskan karya sastra anak. Dua hal penting tersebut adalah bahasa dan isi atau pesan.

  • Bahasa yang digunakan dalam sastra anak harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak sehingga mudah untuk dipahami. Jadi, ketika kalian berencana membuat sastra anak, pastikan pemilihan kata yang kalian pakai sesuai dengan kemampuan intelektual anak. Jangan sampai bahasa yang digunakan merupakan istilah-istilah ilmiah atau rumit yang bahkan sukar dipahami orang dewasa.

  • Isi atau pesan yang terkandung dalam sastra anak merupakan pengalaman-pengalaman, pemahaman, serta mencerminkan perasaan atau emosional anak. Melalui sastra anak, diharapkan anak-anak mampu menerapkan nilai-nilai moral kehidupan dari cerita yang mereka baca. Hal ini berarti bahwa sastra anak berkontribusi terhadap perkembangan kepribadian dan emosional anak.

Masa anak-anak merupakan masa perkambangan dan pertumbuhan. Pada masa ini, orang tua harus memberikan media bagi anak untuk mengeksplorasi dunia. Sastra anak memiliki fungsi sebagai media pembelajaran sekaligus media hiburan. Oleh karena itu, sastra anak merupakan pilihan tepat untuk dipilih sebagai media pembelajaran maupun hiburan. Fungsi pendidikan pada sastra anak adalah untuk memberikan pengetahuan serta pengalaman. Melalui sastra anak juga terdapat pendidikan moral yang dapat diterapkan pada anak.

Sastra anak terhadap perkembangan emosional

Bacaan-bacaan yang dibaca oleh anak akan mempengaruhi perkembangan sikap, mental, serta perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Anak akan meniru apa yang mereka baca, dengar, atau lihat. Oleh karena itu sastra anak turut berkontribusi terhadap perkembangan emosional yang dimiliki anak. Melalui sastra anak inilah mereka akan mengenal berbagai macam emosi serta bagaimana cara mengatasinya. Selain itu, anak-anak menjadi terbuka dalam mengekspresikan perasaannya. Ini penting karena emosi dan perasaan merupakan dua hal yang harus diperhatikan sejak dini untuk menghindari permasalahan mental pada anak.

Pada anak yang masih dalam tahap perkembangan, dalam artian belum masuk tahap belajar membaca dan berbicara, sastra anak berfungsi sebagai sarana untuk merangsang emosional. Dalam hal ini, sastra anak yang dimaksud adalah sastra berbentuk lisan seperti pada lagu anak-anak. Walaupun mereka tidak mengerti dengan arti lagu yang dinyanyikan, mereka akan mengekspresikan emosinya melalui nada-nada lagu dan tingkah laku orang dewasa di sekitarnya. Jika tema lagu yang dibawakan bersifat kegembiraan, anak akan tertawa dan bertepuk tangan sebagai respon atas emosional yang mereka dapatkan.

Sastra anak terhadap perkembangan intelektual

Sastra anak membutuhkan pemahaman intelektual yang dimiliki anak. Ketika anak membaca sastra anak, mereka akan mencoba memahami runtutan kejadian dan hubungan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalam cerita tersebut. Hubungan tersebut mencakup peristiwa sebab akibat, apa dan mengapa, serta bagaimana. Oleh karena itu, ketika membaca sastra anak, kemampuan intelektual mereka juga ikut berperan aktif.

Fungsi khusus sastra anak

  1. Memberikan kesenangan, kegembiraan, dan kenikmatan. Sastra anak bersifat menghibur. Artinya, sastra anak memberikan rasa senang atau gembira ketika mereka membaca atau mendengar cerita yang disajikan. Dalam proses ini, anak akan mendapatkan kepuasan atau kenikmatan batin yang berpengaruh terhadap kecerdasan emosinya.

  2. Meningkatkan minat membaca. Selain berfungsi menghibur, satra anak juga bisa menjadi sarana untuk menumbuhkan kegemaran membaca pada anak. Buku-buku sastra anak umumnya memiliki visualisasi yang memanjakan mata. Ini merupakan strategi yang dilakukan penerbit untuk menarik minat anak untuk membaca. Cerita-cerita yang disajikan pun beragam sehingga anak tidak akan mudah merasa bosan. Dengan kata lain, sastra anak merupakan jembatan awal bagi anak-anak untuk mengeksplorasikan bacaannya.

  3. Mengembangkan imajinasi. Di antara kalian mungkin tidak asing atau bahkan sering membaca series buku "Kecil-Kecil Punya Karya" atau yang sering disingkat KKPK. Sastra anak yang diterbitkan oleh penerbit DAR! Mizan ini merupakan contoh hasil karya sastra yang ditulis oleh anak-anak dengan rentang usia tujuh sampai dua belas tahun. Dalam hal ini, sastra anak berkontribusi terhadap pengembangan kreatifitas dan imajinasi anak.

  4. Memberikan pengalaman baru. Lewat bacaan sastra anak, banyak sekali pengalaman-pengalaman yang anak-anak dapatkan. Pengalaman tersebut disajikan seolah anak mengalaminya secara langsung.

  5. Menambah keterampilan berbahasa. Dengan membaca, anak akan menemukan kosa kata baru. Semakin sering membaca, maka semakin banyak pula kosa kata yang anak temukan. Keterampilan berbahasa ini mempengaruhi kemampuan berkritis yang anak punya. Sehingga dapat disimpulkan jika sastra anak juga dapat mencerdaskan anak.

  6. Mengembangkan kepribadian dan sosial. Anak-anak cenderung meniru apa yang mereka baca, dengar, dan lihat. Melalui sastra anak, mereka bisa memahami mana tokoh yang baik dan mana tokoh yang buruk. Sifat-sifat dalam tokoh pada karya sastra anak inilah yang akan menjadi acuan anak dalam membentuk kepribadian. Selain itu, kemampuan bersosialisasi anak juga bisa dapat diterapkan dari hubungan sosial yang terjadi antara tokoh-tokoh dalam sastra anak.

  7. Memberikan gambaran tentang kehidupan dunia. Melalui karya sastra, anak akan memahami dunia luar. Kisah-kisah yang terdapat pada sastra anak tentunya tidak dialami langsung oleh anak. Oleh karena itu, dengan membaca karya sastra anak, mereka akan melihat sisi lain dari dunia yang sebelumnya tidak mereka ketahui.

  8. Mencari jati diri. Anak-anak merupakan masa di mana mereka sedang mencari jati diri. Dengan kata lain, mereka akan mengeksplor segala hal yang menarik perhatian mereka. Sastra anak merupakan salah satu wadah untuk mencari jati diri pada anak. Tidak jarang banyak anak-anak yang akhirnya menggeluti dunia sastra ketika mereka dewasa.

Demikianlah penjelasan singkat mengenai hubungan sastra anak terhadap psikologis anak. Dapat disimpulkan jika sastra anak memiliki berbagai fungsi yang ternyata penting dalam kehidupan. Namun, sering kali orang-orang beranggapan jika sastra anak hanyalah cerita-cerita fiksi yang ditujukan untuk anak.