Konten dari Pengguna

Merah Putih One for All vs AI: Seni Murahan vs Seni Bajakan

Yoel Joan Anugerah

Yoel Joan Anugerah

Siswa SMA Warga Surakarta

·waktu baca 2 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yoel Joan Anugerah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumen Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi

Pada pertengahan Agustus lalu, media maya digemparkan dengan film animasi berjudul "Merah Putih: One for All". Pasalnya film yang diproduksi oleh Perfiki Kreasindo ini memiliki kualitas animasi yang belum matang, dan alur cerita yang tidak berbobot. Film ini bercerita tentang sekelompok anak muda yang dalam misi pencarian bendera merah putih karena akan dipakai saat upacara. Film ini direncanakan tayang pada tanggal 14 Agustus 2025 namun karena hujatan dan cibiran netizen di sosmed, sehingga membuat beberapa bioskop di Indonesia membatalkan penayangannya. Karena ramai juga anggaran film ini yang mencapai 6 milyar dan desain karakter hasil bajakan karya seniman 3D Junaid Miran, tak luput dari kreator yang membandingkan kualitas film ini dibandingkan hasil dari AI.

Dunia animasi di Indonesia sudah memiliki standar baru setelah tayangnya film "Jumbo" pada bulan Maret 2025 lalu. Tak layak jika kualitas murahan seperti "Merah Putih: One for All" disandingkan dengan film tersebut. Film terlaris di Indonesia tersebut mendapat banyak pujian, berbeda halnya dengan "Merah Putih: One for All" yang mendapat banyak hujatan. Selain kualitas animasi, ada banyak aspek yang sering dihujat netizen, contohnya: kualitas suara yang kurang baik, logat dan cara bicara karakter yang terkesan lebay dan tidak cocok, penggunaan bahasa inggris pada judulnya, penggunaan AI untuk mengisi suara salah satu karakter yang berbahasa Inggris, serta pembajakan desain karakter dari kreator luar negeri, dan banyak lagi.

Isi fyp semakin dipenuhi meme tentang "Merah Putih: One for All". Selain disandingkan dengan film sukses seperti "Jumbo", film ini juga sering dibandingkan dengan hasil video AI yang membuat ulang adegan pada trailer—nya. Padahal, pada akhir Maret 2025 dulu, sebuah tren mengubah foto menjadi ilustrasi ala Ghibli menggunakan AI contohnya ChatGPT.

Hayao Miyazaki (sutradara Ghibli) sejak lama menolak keras penggunaan AI dalam seni. Dalam dokumenter Never-Ending Man ia bahkan menyebut animasi berbasis AI sebagai “penghinaan terhadap kehidupan itu sendiri”. Sikap ini kembali disorot saat tren “Ghiblification”, yaitu mengubah foto menjadi ala Studio Ghibli dengan AI, mendunia; penolakan serupa juga datang dari banyak seniman seperti Megumi Ishitani (sutradara One Piece) yang menilai tren ini mencoreng nama Ghibli, Henry Thurlow yang menyebutnya merendahkan proses kreatif, hingga Zelda Williams dan Karla Ortiz yang mengecamnya sebagai bentuk eksploitasi, sementara di ranah publik banyak pecinta seni melabeli karya AI tersebut sebagai tiruan kosong tanpa jiwa, sehingga memicu perdebatan luas soal etika, hak cipta, dan masa depan profesi seniman di era teknologi.

Pembandingan antara "Merah Putih: One for All" dengan AI adalah titik terendah seni di mata publik. Bagaimana tidak, seni murahan dengan kualitas buruk ketika dibandingkan dengan seni yang lebih buruk yaitu seni yang dibajak dari data seniman lain, yang bahkan publik merasa hasil dari AI lebih baik daripada tangan pencipta film tersebut. Pembandingan ini memperlihatkan ironi besar. Sebuah karya manusia yang seharusnya memiliki roh dan kreativitas justru dinilai lebih rendah daripada hasil AI yang sebelumnya dicap kering dan tanpa jiwa oleh para seniman. Kondisi ini menegaskan bahwa kegagalan menghargai orisinalitas, riset, serta standar produksi hanya akan membuat karya seni kehilangan legitimasi, sampai-sampai publik rela menerima hasil dari mesin ketimbang karya tangan manusia, sehingga menjadi peringatan keras bagi industri animasi Indonesia agar tidak sekadar mengejar sensasi, melainkan kembali pada prinsip dasar seni yaitu kejujuran, dedikasi, dan penghormatan pada proses kreatif.