Bagi Juventus, Sederhana Saja: It's Time!

Professional Swindler
Tulisan dari Yoga Cholandha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

It's Time. Itulah kampanye yang sudah mulai digalakkan Juventus sejak perempat final Liga Champions musim ini. Sudah waktunya. Sudah saatnya mereka menjadi juara. Sesimpel itu.
Ya, bagaimana tidak? Juventus ini memang aneh, kok. Besar di negeri sendiri, tetapi kalau sudah diminta jadi wakil di kancah internasional, mereka kerap memble. Sebabnya? Entahlah. Yang jelas, dari delapan kali bermain di final, mereka kalah enam kali.
Melaju ke delapan final jelas eksekpsional untuk ukuran klub mana pun di Eropa sana. Real Madrid, lawan Juventus kali ini, sudah merasakan 15 final. Hasilnya, mereka memenangi 11 di antaranya. Artinya, Real punya persentase kemenangan sampai 73% di final Liga Champions. Juventus? Well, 25%.
Tapi sekali lagi, tak ada yang tahu apa sebabnya. Celakanya lagi begini. Dari empat final pertama, Juventus punya rasio kemenangan 50%. Dua kali menang dari empat kali bertanding. Nah, di empat final yang berikutnya, Juventus sama sekali belum pernah menang.
Terakhir kali Juventus tampil di final Liga Champions adalah tahun 2015 lalu. Waktu itu, mereka kalah dari Barcelona. Tapi, yang membedakan Juventus yang itu dengan Juventus yang sekarang adalah, Juventus yang dikalahkan Barcelona itu datang ke final dengan status tim kejutan.
Itu adalah musim pertama Max Allegri dan secara luar biasa, sang Mister -- sebutan orang-orang Italia untuk pelatih sepak bolanya karena pengaruh Inggris yang amat kuat di awal-awal keberadaan calcio -- membawa tim yang di bawah Antonio Conte selalu menjadi pesakitan ke partai puncak. Tak cuma itu, tim mereka kala itu pun sudah jenuh. Final itu, seandainya Conte mau bersabar, seharusnya jadi milik manajer Chelsea itu, dan bukan Allegri.
Nah, Juventus yang bakal berlaga dini hari (4/6) nanti adalah Juventus-nya Allgeri. Benar-benar Juventus milik Allegri. Memang pemain-pemain macam Gigi Buffon, Leo Bonucci, Andrea Barzagli, Stephan Lichtsteiner, dan Claudio Marchisio masih ada, tetapi nama-nama lainnya -- Patrice Evra, Arturo Vidal, Paul Pogba, Andrea Pirlo, Carlitos Tevez, & Alvaro Morata -- sudah hengkang.
Overhaul pun dilakukan Juventus dan hasilnya adalah capaian mereka musim ini. Pemain-pemain andalan mereka sudah banyak yang berganti. Formasi dasar andalan mereka bukan lagi 3-5-2. Dan barangkali yang paling penting, mereka kini punya sosok juara sejati bernama Dani Alves.
Alves memang cuma satu orang, tetapi kita semua sudah liat betapa hebat efek yang ditularkannya. Bukan tanpa alasan kalau Buffon sampai berkata bahwa setelah pria 34 tahun itu datang ke Turin, ada hal-hal baru yang dipelajari kapten Juventus itu. Sebagai catatan, Buffon berusia lima tahun lebih tua dari Alves dan dia pernah mengangkat trofi Piala Dunia.
Tetapi, Alves memang benar-benar lain dan meski sempat kesulitan di awal-awal musim lantaran cedera, dia kemudian mampu memberi efek yang berbeda di masa-masa krusial. Bukti paling sahihnya, ya, kemenangan atas Barcelona di perempat final itu.
Intinya begini. Sudah terlalu lama Juventus menunggu. Sudah terlalu sering menjadi pesakitan. It's time. Sudah waktunya bagi mereka untuk meningkatkan rasio kemenangan di final dari 25% menjadi 33,3%. Sudah waktunya bagi mereka untuk menambah koleksi replika "Si Kuping Besar" di kabinet mereka menjadi tiga.
It's the damn time. Sudah waktunya bagi Juventus untuk menunjukkan bahwa Serie A memang (masih) layak diperhitungkan. Sudah waktunya bagi Juventus untuk membuktikan kepada khalayak bahwa mereka bukan lagi pecundang.
It's time, ragazzi!
Fino alla fine, forza Juventus!
