• 2

Ketika Ronaldo 'Menghilang' di Final Piala Dunia

Ketika Ronaldo 'Menghilang' di Final Piala Dunia


Ronaldo

Ronaldo sebelum laga melawan Norwegia di Piala Dunia 1998. (Foto: Getty Images/Ben Radford)
"Di zamanku dulu, yang berusaha ikut campur urusan pemilihan tim adalah para jenderal. Sekarang, yang melakukannya adalah sponsor, para pengusaha, konglomerat media. Final Piala Dunia adalah acara televisi terbesar di dunia," kata Tostao dua puluh tahun silam.
Tostao, si Koin Kecil itu, tak mengada-ada atau asal bicara. Selama lebih dari dua puluh tahun, antara 1964 dan 1985, Brasil sempat jatuh dalam cengkeraman junta militer. Persepakbolaan Brasil pun akhirnya sempat menjadi korban, terutama setelah Emilio Medici naik takhta sebagai presiden pada 1969.
Ketika Medici dinobatkan sebagai presiden, Tostao sudah tiga tahun menghuni Tim Nasional (Timnas) Brasil. Di masa-masa itulah dia merasakan betapa hebatnya campur tangan junta militer di sepak bola. Tak lama sebelum Piala Dunia 1970 digelar, Medici memecat pelatih Joao Saldanha karena enggan memasukkan Dario di daftar skuatnya. Saldanha kemudian digantikan oleh Mario Zagallo yang, konon, lebih mudah dikontrol.
Zagallo menuruti apa yang dipinta Medici. Dario, pemuda 24 tahun yang bermain untuk Atletico Mineiro itu, dibawa serta menuju Meksiko. Di bawah Zagallo, Brasil mampu menyihir dunia dan mengangkat trofi Jules Rimet untuk kali ketiga. Tim Brasil 1970 itulah yang sampai kini masih disebut-sebut sebagai tim sepak bola terbaik sepanjang masa, baik dari segi materi pemain maupun cara bermain. Di situ, joga bonito yang abstrak itu mewujud jadi sebuah trofi.
Hampir tiga puluh tahun setelah Meksiko 1970, Zagallo berada dalam situasi yang mirip. Setelah mengambil alih tim dari tangan Carlos Alberto Parreira pasca-Piala Dunia 1994, Zagallo membawa Brasil ke Piala Dunia 1998. Sebagai juara bertahan, status unggulan pun mereka genggam. Selain itu, mereka juga punya senjata mematikan bernama Ronaldo Luiz Nazario de Lima. Bagi Zagallo, ini adalah Pele-nya yang kedua.
Ketika Ronaldo pertama kali menembus Timnas Brasil pada 1994, Zagallo sudah ada di sana. Namun, saat itu status Zagallo adalah sebagai koordinator tim. Di tim besutan Parreira itu, Zagallo menjadi diktator sesungguhnya. Salah satu contohnya adalah tatkala dia mengusir Moacir Barbosa dari kamp latihan Brasil lantaran dianggap sebagai pembawa sial.
Pada edisi 1994, Brasil juara setelah mengalahkan Italia via adu penalti. Akan tetapi, Ronaldo yang kala itu masih berusia 17 tahun sama sekali belum mendapat kesempatan. Wajar saja, memang, karena bagi seorang remaja seperti itu, menggusur Romario dan Bebeto tak ubahnya sebuah kemustahilan.
Namun, seiring berjalannya waktu, Ronaldo semakin berkembang. Di sisi lain, Romario dan Bebeto menua. Setelah Piala Dunia di Amerika Serikat itu, dia hijrah ke PSV Eindhoven dari Cruzeiro. Di klub Belanda itu, Ronaldo betul-betul meledak.
Perjalanan karier Ronaldo terus menanjak ketika pada 1996 dia diangkut Barcelona ke Camp Nou. Meskipun hanya bermain selama semusim di sana, pemain kelahiran Rio de Janeiro itu meninggalkan kesan mendalam.
Kecepatannya, gocekan-gocekannya, insting membunuhnya, kecerdasannya, semua dia sajikan di lapangan Camp Nou. Di musim 1996/97 itu, Ronaldo mengakhiri musim dengan catatan 34 gol dari 37 pertandingan. Dia pun dinobatkan sebagai pemain terbaik FIFA di usia yang baru menginjak angka 20.
Sampai pada titik itu, Ronaldo tak terhentikan. Dia kemudian hengkang ke Internazionale sebagai pemain termahal dunia. Setelah semusim bersama Inter, lagi-lagi dia mampu menyabet gelar pemain terbaik FIFA. Praktis, tak ada pemain lain yang mampu menyamai kehebatan dan kebesaran Ronaldo saat itu. Zagallo pun menatap Piala Dunia 1998 dengan semringah. Dengan senjata seperti itu, tak ada satu pun yang bisa menghentikan Brasil.
Faktanya jelas tidak seperti itu. Pada pertandingan fase grup ketiga, misalnya, Selecao sudah dikejutkan oleh Norwegia yang sanggup memetik kemenangan 2-1. Namun, Brasil akhirnya tetap keluar sebagai juara Grup A karena sebelumnya sudah menang 2-1 atas Skotlandia dan 3-0 atas Maroko. Dari tiga pertandingan itu, satu gol berhasil disarangkan oleh Ronaldo.

Ronaldo

Ronaldo merayakan gol ke gawang Belanda di semifinal Piala Dunia 1998. (Foto: AFP/Boris Horvath)

Terlepas dari hasil buruk kontra Norwegia itu, Brasil akhirnya terus melenggang. Cile mereka taklukkan, Denmark mereka tundukkan, dan Belanda mereka paksa bertekuk lutut.
Selama fase gugur itu, Ronaldo menunjukkan bahwa dia memang pantas untuk jadi tumpuan Brasil. Dia mencetak dua gol ke gawang Cile di perdelapan final dan satu gol ke gawang Belanda di semifinal. Pada babak adu penalti menghadapi Belanda, Ronaldo juga sanggup menuntaskan tugasnya sebagai eksekutor.
Brasil akhirnya sampai ke final. Mereka bakal menghadapi tuan rumah Prancis di Stade de France pada 12 Juli 1998. Meskipun berstatus tuan rumah, Prancis tidak punya pengalaman dan sejarah seperti Brasil di kancah internasional. Di edisi 1998 itulah Prancis untuk pertama kalinya melaju sampai ke final. Brasil, lagi-lagi, berada di atas angin.
Setidaknya, begitulah yang terjadi sampai hari final itu tiba. Menghadapi Les Bleus yang dipimpin Zinedine Zidane, Brasil tak berdaya. Mereka kalah 0-3 dan Ronaldo, sang bintang, tak mampu berbuat banyak. Sembilan puluh menit bermain, Ronaldo hanya mampu sekali membahayakan gawang Fabien Barthez. Di sisa waktu yang ada, dia menghilang.
***
"Dia sudah meninggal! Dia sudah meninggal!"
Teriakan itu membuat hotel tempat tim Brasil menginap gempar. Tak jelas siapa yang meneriakkan kata-kata tersebut. Akan tetapi, tak perlu seorang genius untuk menerka bahwa telah terjadi sesuatu yang tak mengenakkan.

Ronaldo & Roberto Carlos

Ronaldo & Roberto Carlos di latihan Timnas Brasil. (Foto: AFP/Antonio Scorza)

Sebenarnya, tidak ada yang meninggal hari itu. Namun, orang yang disebut-sebut sudah meninggal itu memang tampak seperti bakal meninggal. Tubuhnya kejang-kejang, liur mengalir deras dari sela-sela bibirnya, dan dia hampir saja menelan lidahnya sendiri.
Beruntung, teman-temannya cepat tanggap. Roberto Carlos, kawan sekamarnya, langsung berteriak meminta pertolongan. Edmundo Alves dan Carlos Cesar Sampaio langsung berlari masuk ke kamar dan memaksa agar dia tak menelan lidahnya sendiri.
Orang yang disebut sudah meninggal itu adalah Ronaldo.
"Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah makan siang dan hal terakhir yang kuingat adalah berjalan menuju ke kamar. Setelah itu, aku kejang-kejang. Para pemain lain mengerubungiku dan almarhum dr. Lidio Toledo juga ada di sana. Mereka tidak mau memberi tahuku apa yang terjadi," kenang Ronaldo kepada FourFourTwo, Maret 2018 lalu.
"Aku bertanya apakah mereka bisa meninggalkan tempat tidur dan berbicara di tempat lain karena aku ingin istirahat. Lalu, Leonardo mengajakku berjalan-jalan di taman dan dia menjelaskan segala sesuatunya. Dia mengatakan bahwa aku tidak akan bermain di final Piala Dunia," imbuhnya.
Awalnya memang seperti itu. Kondisi Ronaldo itu memaksa Zagallo untuk mengubah susuan sebelas awal yang telah dia buat. Ronaldo dicoret, Edmundo masuk. Bahkan, kabar ini sebetulnya sudah sampai ke telinga para wartawan. Akan tetapi, susunan sebelas awal yang sebelumnya sudah diubah itu diganti kembali menjadi seperti semula. Ronaldo turun sejak awal, Edmundo kembali ke bangku cadangan.

Edmundo Alves

Edmundo semestinya menggantikan Ronaldo di final Piala Dunia 1998. (Foto: AFP/Antonio Scorza)

Inilah misteri yang sampai sekarang sama sekali belum terungkap. Bagaimana bisa Ronaldo yang sempat dikira sudah meninggal itu akhirnya justru dinyatakan fit dan bermain sejak awal? Apakah Zagallo memang mudah ditekan penguasa seperti yang dibilang orang-orang? Tak adanya jawaban pasti ini kemudian berujung pada lahirnya sejumlah teori konspirasi.
Salah satu teori paling populer adalah teori ala Tostao tadi. Menariknya, teori ini juga didukung oleh pernyataan Edmundo. Mantan pemain Fiorentina itu pernah berkata bahwa orang-orang Nike selalu berada di kamp Brasil 24 jam sehari, seakan-akan mereka adalah anggota staf teknis. Dengan kata lain, Ronaldo dipasakan bermain karena adanya tekanan dari Nike.
Lahirnya teori ini didasarkan pada adanya kontrak bernilai 80 juta poundsterling antara Nike dan Timnas Brasil. Tak cuma itu, Ronaldo sendiri juga merupakan salah satu pemain yang disponsori secara pribadi oleh Nike. Sepatu Nike R9 yang ketika itu dikenakan Ronaldo adalah sepatu kaya terobosan baik dari segi teknologi maupun desain. Maka, apabila Ronaldo tidak bermain di final Piala Dunia, Nike bakal kehilangan momen besar untuk 'mengiklankan' produknya.
Tak cuma itu, menurut Independent, sekitar satu jam sebelum sepak mula, presiden Konfederasi Sepak Bola Brasil (CBF), Ricardo Teixeira, memasuki ruang ganti Brasil. Dua puluh menit berselang, nama Ronaldo kembali muncul di susunan sebelas awal, menggantikan Edmundo. Yang menarik, Nike sebelumnya sudah sering meminta agar Brasil menurunkan skuat terbaiknya. Namun, permintaan Nike itu biasanya terjadi di laga persahabatan.
Nike sendiri, sehari setelah final Piala Dunia 1998 itu, langsung mengeluarkan pernyataan yang dimaksudkan untuk meredam spekulasi, tetapi justru semakin memperkuat asumsi negatif dari publik. Begini bunyi pernyataan itu:
"Terkait rumor yang menyebutkan adanya tekanan dari Nike kepada Timnas Brasil agar Ronaldo bisa bermain, Nike ingin menegaskan bahwa semua laporan itu palsu. Ronaldo dan Zagallo sudah memutuskan untuk memberi kesempatan bagi si pemain untuk mewujudkan mimpinya. Nike sama sekali tidak terlibat di sini. Lagipula, untuk apa pula kami ikut campur?"

Ronaldo & Zagallo

Ronaldo dan pelatihnya, Mario Zagallo. (Foto: AFP/Antonio Scorza)

Hmm, baiklah.
Teori kedua adalah bagaimana Brasil, termasuk Ronaldo, menerima suap dari FIFA untuk melepas final Piala Dunia 1998 tersebut. Menurut teori ini, FIFA menjanjikan uang sebesar 15 juta pounds, gelar Piala Dunia 2002, dan garansi untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia.
Salah satu 'contoh' bagaimana Ronaldo melepas laga ini adalah ketidakbecusannya dalam menjaga Zidane. Pada laga itu, Zidane mencetak dua gol lewat sundulan pada situasi sepak pojok. Semestinya, Ronaldo-lah yang mengawal Zidane di situasi seperti itu. Dua gol itulah yang akhirnya membunuh laga sebelum Emmanuel Petit menabur garam di atas luka lewat golnya pada babak kedua.
Teori terpopuler ketiga adalah bahwa sesungguhnya, Ronaldo punya kondisi medis yang dia sembunyikan. Banyak yang mengatakan bahwa Ronaldo mengalami tekanan mental hebat jelang laga final itu. Roberto Carlos, misalnya, pernah berkata bahwa dia kerapkali mendapati Ronaldo menangis. Lalu, harian Folha de S Paulo menyebut bahwa Ronaldo menunjukkan tanda-tanda depresi dengan menabrakkan sepeda ke tembok.
Situasi mental Ronaldo ini sudah diketahui oleh para pemain Brasil. Menariknya, keputusan memainkan Ronaldo atau tidak di final ini konon sempat menimbulkan perpecahan di skuat Brasil. Kelompok pimpinan Carlos Dunga mendukung dimainkannya Ronaldo, sementara kelompok pimpinan Leonardo menentangnya. Perpecahan inilah membuat Brasil meninggalkan hotel secara diam-diam dan tidak melakukan pemanasan di stadion.
***
Tak jelas, memang, apa yang sebenarnya terjadi. Akan tetapi, jika kita merujuk pada pernyataan Ronaldo sendiri, dia bisa ada di sebelas awal Brasil hari itu karena memang kondisinya sudah fit. Di tes medis sebelum pertandingan, tak terpantau adanya masalah apa pun.

Ronaldo Luis Nazario da Lima

Ronaldo Luis Nazario da Lima (Foto: Paolo Bruno)

"Rasanya seperti tak pernah ada apa-apa. Aku memegang hasil tes di tanganku dan dr. Toledo sudah memberi lampu hijau. Aku mendekati Zagallo di stadion dan berkata, 'Aku baik-baik saja. Aku tak merasakan apa-apa. Ini hasil tesku, kalau tidak percaya. Aku ingin bermain'," tutur Ronaldo.
"Aku tidak memberinya pilihan. Lalu, aku bermain dan mungkin aku memengaruhi pemain lain karena kejang-kejang yang kualami itu benar-benar menakutkan. Itu bukan sesuatu yang kau lihat setiap hari."
"Yang jelas, aku punya tanggung jawab kepada negaraku. Tentu saja itu bukan pertandingan terbaikku tetapi aku di sana untuk menjalankan tugas," tutupnya.
Sementara itu, Zagallo memilih untuk bersikap defensif. Ketika ditanyai soal itu, dia berkata, "Kalau situasinya Anda balik dan aku tidak memainkan Ronaldo, lalu Brasil kalah 0-3. Kalau kejadiannya seperti itu, orang akan bilang Zagallo keras kepala. Jadi, kupikir apabila dihadapkan pada situasi serupa, aku akan melakukan hal yang sama."
Well, apa pun itu, yang jelas Brasil sudah berhasil membayar kegagalan mereka di edisi 1998 dengan gelar juara dunia kelima pada 2002. Terlepas dari apakah ini merupakan 'pemberian' dari FIFA atau bukan, pada final menghadapi Jerman di Stadion Internasional Yokohama itu Ronaldo mencetak dua gol. Oliver Kahn, kiper terbaik turnamen, dia bikin seperti sosok amatiran.
Di Jepang, Ronaldo telah melakukan penebusan. Semestinya, gelar Piala Dunia 2002 itu sudah cukup untuk membungkam segala keraguan. Namun, selama misteri final Piala Dunia 1998 masih belum terjawab, rasanya orang-orang masih akan lebih tertarik pada kegagalan, alih-alih kesuksesan, seorang Ronaldo Luiz Nazario de Lima.


Sepak BolaSportsPiala DuniaTimnas BrasilRonaldo de Lima

presentation
500

Baca Lainnya