MotoGP 2017: Langit Masih Cerah di Iberia

kumparanSPORTverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Lorenzo kembali bidik gelar juara. (Foto: Mirco Lazzari gp/Getty Images)
zoom-in-whitePerbesar
Lorenzo kembali bidik gelar juara. (Foto: Mirco Lazzari gp/Getty Images)

Ketika krisis ekonomi menghajar pada 2008 lalu, banyak pihak yang tidak selamat. Ketika para bankir yang bertanggung jawab atasnya justru menerima uang santunan dari pemerintah, rakyat jelata sampai kehilangan suara saking tak pernah berhentinya mereka menjerit.

Spanyol, bersama Portugal, Italia, Yunani, dan Republik Irlandia, menjadi beberapa negara yang paling parah terkena dampaknya. Hingga April 2015 lalu, angka pengangguran di Spanyol mencapai 22,7%. Selain itu, Yunani bahkan sampai menyatakan bahwa mereka tak sanggup lagi membayar utang negara mereka.

Di tengah krisis itu, mereka dianggap menjadi beban, khususnya oleh negara-negara yang harus membantu mereka membayar utang agar Eurozone tidak kolaps. Dari situ, muncul sebutan PIGS (Portugal, Italy, Greece, Spain) sebagai hinaan untuk negara-negara Mediterania itu.

Maruah bangsa, secara otomatis, juga ambles. Namun, meski ketidakpastian jadi pemandangan sehari-hari di negeri sendiri, segelintir pemuda Spanyol mampu menggapai puncak dunia. Selain tim nasional (timnas) sepak bola mereka yang mampu merajai Eropa dan dunia antara 2008 hingga 2012, dua pebalap motor dari Negeri Matador juga mencuat ke permukaan.

Mereka adalah Jorge Lorenzo dan Marc Marquez yang masing-masing sudah mengoleksi tiga gelar juara dunia. Setelah Valentino Rossi terakhir kali menjuarai kelas MotoGP pada 2009, Lorenzo dan Marquez mendominasi ajang balap prestisius ini. Dengan pengecualian tahun 2011 di mana Casey Stoner menjadi juara, semua gelar juara dunia sampai tahun 2016 lalu jadi milik dua pebalap Spanyol itu.

Lorenzo dan Marquez adalah puncak dari gunung es. Pada musim balap 2017 ini, akan ada 23 pebalap yang turun berlaga dan dari jumlah itu, sepuluh di antaranya berasal dari Spanyol.

Marquez enggan jemawa di musim 2017 ini. (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Marquez enggan jemawa di musim 2017 ini. (Foto: Pixabay)

Dalam konferensi pers jelang Grand Prix (GP) Qatar, Minggu 26 Maret 2017 mendatang, Valentino Rossi menyebut bahwa (selain dirinya) ada tujuh pebalap lain yang menurutnya punya peluang besar untuk meraih gelar juara dunia tahun ini. Mereka adalah Marc Marquez, Jorge Lorenzo, Maverick Vinales, Cal Crutchlow, Andrea Dovizioso, dan Dani Pedrosa. Dari semua nama yang disebut sang legenda, empat di antaranya lagi-lagi berasal dari Spanyol.

Jejak Spanyol di ajang balap motor memang tidak sepanjang Inggris, Italia, atau Amerika Serikat. Meski sempat memiliki Angel Nieto yang dominan di cc kecil pada dekade 1960-an s/d 1980-an, negara di Tanjung Iberia ini baru punya juara dunia di kelas tertinggi untuk pertama kalinya pada 1999. Adalah Alex Criville, mantan rekan setim Mick Doohan, yang menjadi aktornya.

Setelah itu pun, prestasi pebalap Spanyol seret. Ada selang waktu 11 tahun sampai mereka punya juara dunia lagi. Dalam kurun waktu itu, pebalap terbaik mereka adalah Sete Gibernau dan Dani Pedrosa, dua pebalap yang sering angin-anginan di saat mereka harus menang.

Lalu, apa yang berubah?

Pada tahun 2011 lalu, Dani Pedrosa pernah menyebut bahwa (seperti di olahraga-olahraga lainnya) kunci utama keberhasilan para pebalap Spanyol adalah pembinaan usia muda yang tepat.

"...Federasi Spanyol, Federasi Catalunya, mereka mendidik anak-anak sejak usia delapan, sembilan, atau sepuluh," tutur pebalap Repsol Honda itu. "Spanyol percaya pada balap motor, dan itu kuncinya."

Ya, percaya pada balap motor. Semua remaja di Spanyol, kata Pedrosa, ketika berhenti di lampu merah, seperti selalu siap untuk berbalapan dengan skuter-skuter mereka. Hal itu adalah pemandangan jamak di jalan-jalan Spanyol, terutama di wilayah Catalunya. Apalagi, bocah-bocah itu belum akan bisa mengendarai mobil sampai usia 18 tahun.

Para pemangku kebijakan tampaknya sadar betul akan hal tersebut dan oleh karena itu, mereka pun mengakomodasi sifat bawaan itu dengan menyediakan sarana yang memadai. Sebagai gambaran, di kalender MotoGP 2017 saja ada empat balapan yang dihelat di Spanyol (GP Spanyol, GP Catalunya, GP Aragon, dan GP Valencia). Jika mereka mampu menjadi tuan rumah di empat ajang kelas dunia, bisa dibayangkan tentunya seperti apa kondisi sirkuit-sirkuit yang digunakan untuk ajang biasa atau pembinaan pebalap muda.

Maverick Vinales, harapan baru Spanyol. (Foto: Wikimedia Commons)
zoom-in-whitePerbesar
Maverick Vinales, harapan baru Spanyol. (Foto: Wikimedia Commons)

Kondisi itu, kata Pedrosa, juga sedikit-banyak dipengaruhi oleh cuaca di Spanyol yang tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Karena itulah di kompetisi domestik pun banyak pebalap asing yang turut ambil bagian. Remy Gardner, anak dari mantan juara dunia asal Australia, Wayne Gardner, sudah mulai memetik buahnya. Berbekal pengalaman berkompetisi di Spanyol, dia kini sudah mulai menapaki karier di Moto2. Iklim kompetisi yang sehat untuk para pebalap muda tersebut kemudian terbawa sampai ke level tertinggi.

Semua itu kemudian mendapat dukungan pula dari para pemodal di Spanyol. Contoh paling gampangnya adalah keberadaan Dorna yang berbasis di Madrid sebagai perusahaan pemilik lisensi MotoGP. Selain itu, perusahaan oli Repsol dan perusahaan telekomunikasi Movistar juga merupakan dua sponsor utama ajang ini. Pendek kata, semua yang dibutuhkan untuk menjadi pebalap motor hebat tersedia di Spanyol dan rasa-rasanya, para pencinta MotoGP masih akan disuguhi dominasi Spanyol sampai beberapa tahun ke depan.