Konten dari Pengguna
Harmoni di Secangkir Kopi: Kisah Persahabatan Lintas Iman yang Menginspirasi
16 Juni 2025 14:33 WIB
·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Harmoni di Secangkir Kopi: Kisah Persahabatan Lintas Iman yang Menginspirasi
Kisah persahabatan dua pemuda beda agama yang tumbuh dalam toleransi, saling menghormati, dan menghidupkan nilai-nilai Pancasila lewat secangkir kopi.
Yoga Vigiyanto Putra
Tulisan dari Yoga Vigiyanto Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Saya percaya bahwa persahabatan sejati tidak hanya lahir dari kesamaan, tapi dari penerimaan. Saya membuktikannya sendiri, melalui kisah persahabatan saya dengan sahabat yang berbeda agama sejak kami duduk di bangku sekolah menengah pertama hingga sekarang kami sama-sama menjadi mahasiswa di kampus yang sama, meski berada di Fakultas dan Program Studi yang berbeda.
ADVERTISEMENT
Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk yang terus bertambah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 284.438.800 jiwa. Di tengah keberagaman itu, tantangan dalam mewujudkan toleransi antarumat beragama masih tetap ada.
Namun, saya merasa beruntung karena perbedaan keyakinan antara saya dan sahabat saya tidak pernah menjadi jarak. Justru dari perbedaan itu, kami belajar banyak hal: saling menghargai, memahami, dan menjaga satu sama lain. Salah satu kebiasaan yang masih kami pelihara hingga hari ini adalah ngopi bareng aktivitas sederhana yang ternyata bisa menyatukan dua dunia yang berbeda.
Meja kayu kecil, dua gelas kopi hitam, dan langit malam yang tenang. Disana kami duduk dua anak muda yang berbeda keyakinan, tapi saling menjaga keyakinan satu sama lain. Kami tak hanya berbagi cerita tentang kuliah atau rencana masa depan, tapi juga sesekali berdiskusi tentang nilai-nilai yang kami anut dalam hidup. Kami berbeda cara berdoa, berbeda hari besar, dan bahkan arah kiblat kami pun tidak sama. Tapi kami sepakat, perbedaan itu bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dikenali, dipahami, lalu dihormati.
ADVERTISEMENT
Menariknya, ketika obrolan menyentuh soal agama, tidak pernah sekalipun muncul nada debat atau upaya saling membenarkan keyakinan masing-masing. Kami justru saling mendengarkan, memahami sudut pandang satu sama lain, dan tak jarang mengangguk, “Oh begitu ya di agamamu.” Kami tertawa membuktikan bahwa pemahaman bisa lebih menguatkan daripada memaksakan.
Saya masih ingat betul, saat saya menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan, sahabat saya selalu menunjukkan empatinya. Dia tidak pernah makan atau minum di depan saya saat kami duduk bersama. Disisi lain, saya pun tak pernah lupa mengucapkan selamat pada hari rayanya dan sesekali hadir dalam acara keluarganya sekedar untuk menikmati hidangan dan bersilaturahmi sebagai bentuk penghormatan. Tidak ada pemaksaan. Yang ada hanya penerimaan.
Cerita kami bukan hanya cerita dua orang sahabat, tapi cerminan kecil dari harapan besar Indonesia. Harapan itu mulai menunjukkan kemajuan. Menurut Indeks Kerukunan Umat Beragama (KUB) tahun 2024, nilai kerukunan Indonesia mencapai 76,47, meningkat dari 76,02 di tahun 2023 dan 73,09 pada tahun 2022. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat yang mulai menumbuhkan toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
ADVERTISEMENT
Namun, perjuangan masih panjang. Indeks Kota Toleran (IKT) Nasional 2024 menunjukkan skor 4,92 dari skala 1–7. Meskipun membaik, angka ini masih fluktuatif dan menunjukkan bahwa ruang perbaikan tetap luas. Terlebih lagi, jika merujuk pada data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 2014, hanya 42,8% rumah tangga di Indonesia yang sangat setuju terhadap kegiatan agama lain. Data ini menunjukkan bahwa meski telah ada kemajuan, toleransi belum sepenuhnya merata di seluruh lapisan masyarakat.
Apa yang kami jalani ini terasa sangat selaras dengan nilai-nilai Pancasila, terutama sila pertama dan ketiga "Ketuhanan Yang Maha Esa" dan "Persatuan Indonesia." Sila pertama menegaskan bahwa bangsa ini menjunjung tinggi keberadaan Tuhan dalam berbagai bentuk keyakinan. Sementara sila ketiga mengingatkan bahwa meskipun kita berbeda suku, agama, ras, dan budaya, kita tetap satu Indonesia.
ADVERTISEMENT
Kami mungkin berbeda dalam hal kepercayaan, tapi kami sama dalam hal kemanusiaan. Kami saling menyemangati saat salah satu merasa lelah, saling mendoakan meskipun dengan cara yang berbeda, dan saling menjaga agar tetap berada di jalur kebaikan sesuai jalan masing-masing.
Ngopi lintas agama ini bukan sekedar soal kopi. Ini tentang hati yang terbuka dan saling menghargai. Di meja kayu kecil itu, kami belajar arti toleransi yang sesungguhnya bukan hanya hidup berdampingan, tapi tumbuh bersama dalam saling menghormati. Barangkali, inilah wajah Pancasila yang hidup, bukan hanya tertulis dalam dokumen negara, tapi hadir nyata di tengah masyarakat.
Kalau toleransi bisa tumbuh dari dua orang sahabat, saya yakin Indonesia pun bisa bertumbuh dalam damai secangkir demi secangkir.
ADVERTISEMENT

