80 Tahun Kemerdekaan, Sebuah Tanda Tanya

CEO Gaza Management Staff Humas Di Universitas Muhammadiyah Riau Alumni S1 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau
·waktu baca 1 menit
Tulisan dari Yoga Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

17 Agustus bukan sekadar tanggal merah, ia adalah detak sejarah, hari ketika suara Bung Karno dan Bung Hatta menggetarkan langit Nusantara: “Kita bebas! Kita merdeka!”
Tiga setengah abad dijajah Belanda, tiga setengah tahun oleh Jepang, perih dan derita ditorehkan dalam nadi bangsa. Kerja paksa, siksaan, darah dan air mata, semua berakhir di pagi itu, pagi kemerdekaan.
Namun, delapan puluh tahun telah berlalu, pertanyaan menggantung di dada kita: apakah kita benar-benar merdeka?
Jika di pelosok negeri masih ada anak yang berhenti sekolah, jika perut rakyat masih lapar, jika pemuda masih berkelana mencari pekerjaan, maka kemerdekaan itu masih sebatas kata.
Delapan presiden berganti, delapan puluh tahun usia negeri, namun luka sosial belum juga terobati.
Korupsi tumbuh tanpa malu, keadilan diperdagangkan, dan kursi kekuasaan sering jadi altar ambisi pribadi.
Merdeka bukan hanya teks proklamasi, bukan sekadar bendera berkibar tinggi. Merdeka sejati adalah ketika rakyat merasakan sejahtera yang nyata, keadilan yang tak terbeli, dan pemimpin yang benar-benar bekerja bukan untuk dirinya, tetapi untuk Indonesia.
Merdeka adalah saat air mata berganti tawa, saat perut kenyang dan hati tenang, saat rakyat kecil tak lagi berjalan di bawah bayang-bayang.
Itulah merdeka yang sesungguhnya (ocu yoga)
