Azizah, Seuntai Takdir

CEO Gaza Management Staff Humas Di Universitas Muhammadiyah Riau Alumni S1 Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Riau
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Yoga Putra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Namanya Azizah Tulfauziah, gadis Batak Mandailing bermarga Siregar, yang kecantikannya tidak sekadar di mata, tetapi juga di hati yang ia miliki, lembut, teduh, dan penuh cahaya.
Pertemuan pertama kami terjadi di Pondok Pesantren Islamic Center Al-Hidayah Kampar, Aku bukan tipe lelaki yang berani menerjang ombak perasaan, aku hanya diam, menyimpan rahasia di sudut dada, sebab siapa aku? Hanya orang biasa, sedang dirinya bagai bintang di langit yang ingin kulihat, tapi tak kuasa kugapai.
Bukan hanya aku yang terpikat, hampir semua teman di sekolah jatuh hati padanya, termasuk seorang sahabatku sebut saja Andri (nama samaran), Mereka rajin bertukar surat, dan anehnya, aku menjadi perantara, seperti kotak pos yang tahu semua isi hati, tapi memilih diam memendam sendiri.
Hingga waktu berjalan, Andri pindah sekolah, dan aku tetap menjadi pengecut yang hanya memandang dari jauh.
2018, kami sama-sama di tingkat Aliyah, Takdir kembali mempertemukan kami di kelas yang sama. Dekat, tapi hanya sebatas teman. Hingga suatu hari, seorang kawan bernama Fais (nama samaran) berkata,
"Jangan tunggu sampai menyesal. Ungkapkan perasaanmu sebelum ada yang mendahului. Sebab kalau dia ditembak orang lain, kamu tak akan bisa melarang… karena kamu bukan siapa-siapanya."
Kata-kata itu menikamku pelan-pelan, Aku terdiam lama, berpikir…
Apakah harus kubuka rahasia ini, atau tetap kusimpan agar persahabatan ini tak hancur jika ia menolak?
Tapi akhirnya, tepat 17 Mei 2018, 1 Ramadhan 1439 H, aku memutuskan melawan semua ketakutanku. Dengan hati yang bergetar, aku mengungkapkan rasa yang sudah empat tahun menetap di dadaku. Dan di luar semua dugaanku, ia menerimanya.
Malam itu, mataku tak mampu terpejam. Rasanya dunia begitu indah, seperti bulan Ramadhan yang datang membawa bukan hanya berkah, tapi juga jawaban atas doa-doa panjangku.
Waktu terus berjalan. Kami lulus sekolah, melanjutkan kuliah di kampus yang sama, Universitas Muhammadiyah Riau. Ia memilih jurusan Keguruan (PGMI), aku Hubungan Masyarakat.
Kami berjanji ingin wisuda bersama, tapi jalan tak selalu seindah rencana. Ia lebih dulu mengenakan toga, sementara aku harus menunggu gelombang berikutnya.
Dalam skripsiku, namanya tertulis tebal. Bukan sekadar huruf, tapi doa, rasa terima kasih, dan penghargaan kepada perempuan yang menjadi semangat terbesar dalam setiap langkahku.
Aku mencintainya tanpa syarat.
Dan pada akhirnya, tak ada lagi alasan untuk menunda. Tanggal 24 Juli 2025, aku datang ke rumahnya, membawa seluruh keluargaku, dengan niat suci meminang.
Sebab sejak awal aku tahu, perempuan ini bukan sekadar masa lalu atau masa kini, tetapi masa depan yang ingin kujalani hingga akhir hayat. (Ocu Yoga)
