100 Tahun Batik Oey Soe Tjoen: Antara Menjaga Kualitas dan Risiko Berhenti

Pegiat Literasi, Ketua FTBM Kab Pekalongan, Kreator Aplikasi Media & Social Media Monitoring RecomMedia.id, Aplikasi Politik (myTimses), Aplikasi Digital FundRising, Humas Komunitas Pohon Indonesia, Antusias dalam Sejarah Islam dan Politik Islam
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yoga Rifai Hamzah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Saya datang ke diskusi dan bedah buku “Oey Soe Tjoen: Sejarah Batik Tulis Legendaris Kabupaten Pekalongan” tanpa ekspektasi berlebihan. Tapi begitu diskusi dimulai, saya langsung merasa bahwa ini bukan sekadar acara bedah buku. Ada sesuatu yang lebih dalam—tentang sejarah, tentang ketahanan, dan diam-diam, tentang kegelisahan yang belum selesai. Forum yang diselenggarakan oleh Kulturpedia ini menghadirkan penulis buku, Nanang Rendi Ahmad, bersama Widianti Widjaya dari keluarga Oey Soe Tjoen, serta Dirhamzah, pegiat sejarah Pekalongan. Diskusi juga menghadirkan sudut pandang anak muda melalui Andika Nugraha sebagai panelis, yang memberi perspektif segar tentang bagaimana generasi hari ini melihat batik.

Menjaga Kualitas di Tengah Perubahan Zaman
Kalau ada satu kata yang paling menonjol dari buku ini, itu adalah ketahanan. Oey Soe Tjoen bukan sekadar nama, tetapi semacam penanda bahwa tradisi bisa tetap hidup di tengah tekanan zaman. Dari masa kolonial, pendudukan Jepang, masa kemerdekaan, hingga era modern, batik ini tetap berdiri dengan satu prinsip yang tidak berubah: kualitas. Di tengah dunia yang semakin cepat dan instan, mereka memilih untuk tetap menjaga proses yang panjang dan detail. Dan justru di situlah kekuatannya. Buku ini berhasil menangkap itu dengan cukup baik—secara historis kuat, pendekatannya rapi, dan narasinya memberi gambaran utuh tentang perjalanan panjang sebuah usaha keluarga.
Namun justru karena itu, ada satu momen dalam diskusi yang terasa sangat kuat dan membekas. Ketika Widianti Widjaya berbicara, suasana sejenak berubah. Ia menyampaikan sesuatu yang jujur, bahkan mungkin tidak nyaman untuk didengar, tetapi sangat penting untuk dipahami. Ia mengatakan bahwa dirinya tidak ingin memaksakan anaknya untuk melanjutkan usaha batik ini. Bukan karena tidak peduli, tetapi justru karena terlalu menjaga nilai yang sudah diwariskan. Baginya, batik Oey Soe Tjoen tidak boleh dilanjutkan jika kualitasnya tidak bisa dipertahankan. Bahkan dengan tegas ia menyampaikan, lebih baik batik ini “dimatikan” daripada dilanjutkan dalam kondisi yang menurun.
Pernyataan itu terdengar keras, tetapi di situlah terlihat betapa tinggi standar yang mereka pegang. Ia juga bercerita bahwa pernah ada pihak yang ingin membeli merek Oey Soe Tjoen, tetapi ia menolak. Baginya, warisan ini bukan sekadar nama yang bisa dipindahtangankan. Di sisi lain, ia juga jujur bahwa sampai hari ini belum ada anaknya yang benar-benar tertarik untuk melanjutkan. Harapannya sederhana, mungkin pelan-pelan, ketika anak-anaknya mulai memahami filosofi, nilai, dan cara kerja industri ini, akan muncul kesiapan untuk melanjutkan. Tapi ia tidak ingin itu dipaksakan.
Di titik ini, diskusi terasa tidak lagi sekadar membahas isi buku. Ia berubah menjadi refleksi yang lebih dalam tentang pilihan dan konsekuensi. Tentang bagaimana menjaga warisan tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk yang sama, apalagi jika itu justru mengorbankan kualitas. Dirhamzah bahkan memberi gambaran konkret bahwa batik Oey Soe Tjoen adalah batik premium yang nilainya, jika dikonversi hari ini, bisa setara dengan harga satu unit motor Honda PCX baru. Ini menunjukkan bahwa batik ini bukan sekadar kain, tetapi karya dengan nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Justru karena itu, ia tidak boleh hadir secara asal-asalan.
Warisan, Regenerasi, dan Cerita yang Belum Lengkap
Dari situ, kegelisahan yang saya rasakan sejak awal semakin menemukan bentuknya. Kita sering sekali berbicara tentang bagaimana batik bertahan, tetapi mungkin kita jarang bertanya apakah semua yang bertahan itu benar-benar hidup, atau hanya sekadar ada. Dalam diskusi itu, Andika Nugraha dari sudut pandang anak muda juga menyoroti bahwa buku ini masih bisa diperkaya dengan menghadirkan perspektif generasi keempat. Menurutnya, kehadiran sudut pandang tersebut akan membuat narasi menjadi lebih hidup dan tidak hanya berhenti pada masa lalu. Sementara Dirhamzah mengingatkan bahwa narasi sejarahnya masih bisa diperluas dengan rujukan dan kronik yang lebih beragam, karena ada banyak potongan sejarah menarik yang bisa memperkaya cerita.
Namun bagi saya, ada satu lapisan lain yang tidak kalah penting dan sering kali luput dari perhatian. Selama ini, ketika kita berbicara tentang batik, kita cenderung menyebut nama—pemilik, keluarga, tokoh. Itu penting, tentu saja. Tapi di balik nama-nama itu, ada orang-orang yang bekerja dalam diam. Para pembatik, para pekerja, yang setiap hari menggoreskan malam, mengulang proses yang sama, menjaga kualitas yang kita kagumi. Mereka tidak selalu disebut dalam buku, tidak selalu muncul dalam diskusi, tetapi tanpa mereka, batik tidak akan pernah hadir sebagai sesuatu yang hidup.
Di titik ini, pelestarian batik tidak bisa lagi dipahami sekadar sebagai upaya menjaga warisan. Ada pertanyaan yang lebih mendasar yang perlu kita jawab bersama: apakah orang-orang yang menjaga warisan ini juga memiliki masa depan di dalamnya? Karena jika para pembatik tidak lagi melihat harapan dari pekerjaan mereka, maka persoalan kita bukan lagi soal budaya, tetapi soal keberlanjutan hidup.
Melestarikan atau Menghidupkan?
Dan di sinilah saya merasa kita perlu mulai melihat ke depan dengan cara yang berbeda. Tidak hanya berbicara tentang pelestarian, tetapi juga tentang transformasi. Dunia hari ini sudah berubah. Pengetahuan tidak lagi hanya diwariskan dari tangan ke tangan, tetapi juga melalui teknologi, data, dan platform digital. Generasi muda belajar dengan cara yang berbeda, dan jika batik ingin tetap relevan, maka pengetahuan yang ada di dalamnya juga perlu disiapkan dalam bentuk yang bisa diakses oleh generasi tersebut.
Batik, jika dilihat lebih dalam, sebenarnya adalah sistem pengetahuan yang sangat kaya. Motifnya adalah bahasa visual, filosofinya menyimpan makna, dan prosesnya adalah bentuk transfer pengetahuan lintas generasi. Jika semua ini tidak didokumentasikan dan dikembangkan dalam bentuk baru, maka risiko yang kita hadapi bukan hanya hilangnya produk, tetapi juga hilangnya pengetahuan.
Namun digitalisasi tidak boleh berhenti pada dokumentasi. Ia harus sampai pada satu tujuan yang lebih penting: membuka peluang baru bagi para pelaku di dalamnya. Memperluas akses, meningkatkan apresiasi, dan pada akhirnya memberi dampak nyata pada kesejahteraan mereka.
Saya pulang dari diskusi itu dengan satu pikiran yang terus berputar. Bahwa mungkin selama ini kita terlalu fokus pada bagaimana menjaga batik tetap ada, tetapi belum cukup jauh berpikir tentang bagaimana memastikan batik tetap hidup—dan hidup itu bukan hanya untuk dilihat, tetapi juga untuk mereka yang menjalankannya.
Dan mungkin, pada akhirnya, pertanyaan yang perlu terus kita bawa bukan lagi tentang bagaimana melestarikan batik, tetapi tentang siapa yang sebenarnya sedang kita selamatkan ketika kita berbicara tentang pelestarian itu sendiri.
