Dari Pekalongan untuk Indonesia: Gotong Royong Literasi Hadapi Tantangan PISA

Pegiat Literasi, Ketua FTBM Kab Pekalongan, Kreator Aplikasi Media & Social Media Monitoring RecomMedia.id, Aplikasi Politik (myTimses), Aplikasi Digital FundRising, Humas Komunitas Pohon Indonesia, Antusias dalam Sejarah Islam dan Politik Islam
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Yoga Rifai Hamzah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Buku-Buku Baru dan Wajah Baru Perpustakaan
Ketika laporan PISA 2022 kembali menempatkan Indonesia di papan bawah kemampuan membaca, saya sempat merasa cemas. Apalagi, sebagai pegiat literasi, saya tahu betul bahwa kemampuan membaca bukan sekadar soal bisa mengeja kata, melainkan kemampuan memahami informasi, menganalisis, lalu mengambil keputusan. Kalau itu lemah, masa depan bangsa juga ikut terancam.
Tapi kecemasan itu agak terobati ketika saya menyaksikan sendiri geliat literasi di Kabupaten Pekalongan. Dalam dua tahun terakhir, Perpustakaan Nasional menyalurkan Dana Alokasi Khusus (DAK) berupa ribuan buku ke perpustakaan desa, rumah baca, hingga Taman Bacaan Masyarakat (TBM). Saya masih ingat betul momen ketika rak-rak kayu sederhana di sebuah TBM di pelosok tiba-tiba dipenuhi buku baru. Anak-anak yang biasanya hanya main gawai, sore itu berebut komik sains dan cerita rakyat.
Seorang siswi MI di Kranji Kedungwuni Timur bercerita kepada saya dengan penuh semangat, “Sekarang saya lebih suka ke TBM daripada nongkrong. Banyak cerita baru, seru, bisa saya ceritakan lagi ke teman.” Bagi saya, kalimat sederhana itu bukti bahwa buku memang bisa mengubah arah hidup anak.
Sebagai Ketua Forum TBM Kabupaten Pekalongan, saya merasakan langsung dampaknya. Ribuan buku baru bukan hanya menambah koleksi, tetapi juga memantik semangat relawan. Mereka jadi punya amunisi untuk mengajak anak-anak kembali jatuh cinta pada bacaan.
Pertemuan Orang-Orang yang Punya Cinta pada Bacaan
Saya percaya literasi tidak bisa jalan sendirian. Itulah kenapa saya bersyukur melihat bagaimana Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Arpusda) Kabupaten Pekalongan membuka ruang kolaborasi dengan Forum TBM. Sejak awal, kami dilibatkan dalam memilih TBM aktif, mendampingi perpusdes, hingga menyusun kegiatan literasi. Rasanya berbeda sekali dibanding pola lama yang seringkali hanya seremonial.
Kolaborasi itu kemudian melahirkan ruang-ruang perjumpaan yang hangat. Saya masih ingat saat kami menggelar pelatihan kepenulisan dan menghadirkan Aveus Har, pemenang cerpen terbaik Kompas 2023. Anak-anak muda di Pekalongan yang tadinya minder menulis, tiba-tiba percaya diri karena belajar langsung dari penulis nasional.
Begitu juga saat bedah buku Kisah Ganjil Pelaut dan Keturunannya bersama penulisnya, Dewanto Amin Sadono, ditemani budayawan Pekalongan Ribut Achwandi. Acara itu tidak hanya soal isi buku, tapi juga perbincangan tentang akar budaya pesisir dan identitas orang Pekalongan. Literasi akhirnya menjadi ajang saling bertukar gagasan.
Saya sendiri dipercaya menjadi salahsatu narasumber literasi informasi bersama jurnalis senior Muhammad Burhan. Rasanya menyenangkan karena anak-anak muda diajak berpikir kritis, tidak mudah percaya hoaks, dan berani menulis ulang informasi dengan perspektif mereka.
Yang lebih membahagiakan, Bunda Literasi Kabupaten Pekalongan, Galuh Kirana Sukirman, turut mendukung lewat program literasi keluarga. Ia mengingatkan bahwa literasi sejati dimulai dari rumah: orang tua yang membacakan dongeng, anak-anak yang terbiasa bertanya, dan keluarga yang menjadikan buku sebagai teman sehari-hari.
Tentu, semua ini tidak akan jalan tanpa gotong royong. Saya tahu betul bagaimana relawan TBM sering merogoh kantong pribadi untuk mengecat rak, menyalakan listrik, bahkan menyediakan camilan untuk anak-anak. Mereka tidak menunggu insentif, karena yakin bahwa buku adalah investasi sosial.
Dari Pekalongan ke Masa Depan Indonesia
Banyak orang bertanya kepada saya: apa hubungan semua ini dengan PISA atau pembangunan bangsa? Jawaban saya sederhana: anak-anak yang terbiasa membaca beragam buku, menulis, dan berdiskusi, otomatis lebih siap menghadapi soal-soal PISA. Sebab PISA tidak menguji hafalan, melainkan cara berpikir kritis.
Saya percaya, jika ribuan buku baru bisa membuka mata anak-anak Pekalongan, maka jutaan buku di seluruh Indonesia bisa perlahan-lahan mengubah wajah bangsa. Pekalongan memang hanya satu kabupaten kecil, tapi gerakan ini bisa jadi cermin.
Harapan saya, dengan terus bergeraknya pegiat literasi dan saling bersinergi antara Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah, Forum TBM, Perpustakaan Desa maka akan berimbas naiknya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Pekalongan, karena ketika minat baca tumbuh, rata-rata lama sekolah akan naik. Saat masyarakat terbiasa membaca informasi kesehatan, kualitas hidup juga membaik. Bahkan literasi digital yang kini kami dorong di TBM, Perpusdes dan perpustakaan komunitas lainnya dapat membuka peluang ekonomi baru, dari menulis konten, berjualan daring, hingga menciptakan karya kreatif.
Saya tidak menutup mata bahwa tantangan masih banyak. Ada perpustakaan desa yang redup karena tidak ada pengelola, ada relawan yang lelah, ada anak-anak yang kembali kecanduan gawai. Tapi bagi saya, tantangan itu justru tanda bahwa kita harus terus beradaptasi. TBM tidak cukup hanya menjadi ruang baca; ia juga harus menjadi ruang digital, ruang diskusi, dan ruang tumbuh bersama.
Mungkin Pekalongan tidak bisa langsung mendongkrak skor PISA Indonesia dalam waktu singkat. Tapi saya yakin, apa yang kami lakukan hari ini adalah pondasi. Dari ruang-ruang baca sederhana, dari relawan yang setia, dari anak-anak yang matanya berbinar saat membuka halaman baru, masa depan Indonesia sedang ditulis pelan-pelan.
Dan bukankah memang begitu cara perubahan bekerja? Tidak selalu dengan kebijakan besar di Jakarta, tapi dengan langkah-langkah kecil yang konsisten di desa-desa. Dari Pekalongan, saya percaya, kita bisa memberi harapan baru untuk Indonesia.
Karena pada akhirnya, literasi bukan hanya tentang buku atau angka statistik. Ia adalah tentang anak-anak yang berani bermimpi lebih tinggi, tentang relawan yang tidak lelah menyalakan lilin kecil di tengah gelap, dan tentang keyakinan bahwa bangsa ini bisa berubah. Jika Pekalongan mampu membuktikannya, maka Indonesia pun pasti bisa.
