HarmonyOS: Ketika Huawei Menantang Windows dan Apple Demi Kedaulatan Digital

Pegiat Literasi, Ketua FTBM Kab Pekalongan, Kreator Aplikasi Media & Social Media Monitoring RecomMedia.id, Aplikasi Politik (myTimses), Aplikasi Digital FundRising, Humas Komunitas Pohon Indonesia, Antusias dalam Sejarah Islam dan Politik Islam
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Yoga Rifai Hamzah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah memanasnya tensi geopolitik antara Tiongkok dan Amerika Serikat, Huawei melangkah maju dengan strategi besar yang melampaui sekadar urusan bisnis: membangun sistem operasi sendiri, HarmonyOS, sebagai pilar kedaulatan digital nasional. Tak hanya menjadi alternatif atas Android, Windows, dan iOS, HarmonyOS kini tampil sebagai simbol perlawanan teknologi terhadap dominasi Barat.
Sejak dijatuhi sanksi dagang oleh pemerintah AS pada 2019, Huawei kehilangan akses ke layanan penuh Android dari Google. Tapi alih-alih runtuh, perusahaan teknologi asal Shenzhen ini justru melompat lebih jauh — memperkenalkan HarmonyOS sebagai jalan keluar dari ketergantungan. Kini, HarmonyOS tidak hanya tersedia di smartphone, tapi juga mulai merambah laptop, perangkat IoT, mobil listrik, hingga sistem layanan publik.
HarmonyOS Geser iOS, Tantang Windows
Pencapaian terbaru datang pada kuartal pertama 2024, saat HarmonyOS menggeser iOS sebagai sistem operasi seluler terbesar kedua di China dengan pangsa pasar sekitar 17%, tepat di bawah Android. Ini menjadi tonggak penting dalam persaingan sistem operasi di pasar terbesar kedua dunia tersebut.
Pada pertengahan 2024, Huawei meluncurkan HarmonyOS 5 (alias HarmonyOS Next) — versi murni tanpa satu baris kode Android. Sistem ini menggunakan microkernel buatan sendiri dan menjadi tonggak kemandirian teknologi Huawei. Perangkat seperti Mate 70 Series sudah menjalankan sistem ini secara default, tanpa ketergantungan pada Android.
Langkah lebih jauh terjadi pada Mei 2025, ketika Huawei resmi meluncurkan lini laptop/PC yang menggunakan HarmonyOS sebagai sistem operasi bawaan, menggantikan Windows sepenuhnya setelah lisensi dari Microsoft tidak diperpanjang. Ini menjadi sinyal kuat bahwa Huawei tak sekadar menyasar mobile, tapi juga ingin menyaingi dominasi Microsoft di ranah desktop.
Lebih dari Teknologi: Ini Soal Kedaulatan Digital
Perkembangan HarmonyOS bukan sekadar urusan teknis, melainkan juga menyentuh isu kedaulatan. Dalam dunia yang sepenuhnya terdigitalisasi, ketergantungan pada sistem operasi asing dianggap oleh pemerintah Tiongkok sebagai risiko strategis. HarmonyOS — bersama sistem terbuka turunannya, OpenHarmony — dianggap sebagai “benteng digital” yang melindungi data, keamanan, dan kendali atas infrastruktur digital nasional.
Pemerintah Tiongkok turut mendorong penggunaan sistem operasi lokal di berbagai sektor, termasuk pendidikan, pemerintahan, dan perusahaan milik negara. Di kota-kota besar seperti Shanghai dan Shenzhen, HarmonyOS sudah diimplementasikan untuk sistem transportasi, manajemen lalu lintas, dan layanan kota pintar lainnya.
Huawei menyebut proyek ini sebagai bagian dari ekosistem "All-Scenario Smart Life", di mana satu sistem operasi mengendalikan berbagai jenis perangkat dengan efisiensi tinggi dan keamanan tertutup. Integrasi erat dengan aplikasi dalam negeri, seperti WeChat dan layanan cloud lokal, membuat HarmonyOS semakin menarik bagi konsumen China.
Apakah Ini Ancaman Serius Bagi Google, Microsoft, dan Apple?
Secara praktis, ya — meski tidak sepenuhnya. HarmonyOS telah berhasil menggoyang dominasi iOS dan mulai menggantikan Windows di perangkat Huawei. Namun, sistem operasi seperti Windows dan iOS belum benar-benar hilang dari China. Mereka masih digunakan secara luas di sektor swasta, perangkat non-Huawei, serta oleh komunitas pengembang global.
Tantangan HarmonyOS dalam menggantikan OS Barat secara menyeluruh masih besar:
Kompatibilitas dengan aplikasi internasional belum sepenuhnya lancar.
Ekosistem pengembang di luar China masih terbatas dukungannya.
Adopsi oleh perangkat non-Huawei belum masif.
Namun tren ini jelas: China tidak ingin masa depan digitalnya ditentukan oleh Silicon Valley. Jika HarmonyOS terus berkembang dan menjadi standar baru di pasar domestik, negara-negara lain — seperti Indonesia, India, atau Brasil — bisa saja mulai mempertimbangkan jalur serupa.
Apalagi jika sistem ini terintegrasi dengan layanan seperti UnionPay, WeChat Pay, dan digital yuan, maka HarmonyOS bukan hanya OS — tapi menjadi bagian dari ekosistem alternatif yang benar-benar terlepas dari dominasi dolar dan perusahaan Amerika.
“Tembok Besar” Digital di Era Modern
Banyak analis menyebut HarmonyOS sebagai bagian dari “Digital Great Wall” — tembok besar versi modern yang melindungi Tiongkok dari “invasi” digital asing. Dalam konteks ini, OS buatan sendiri adalah fondasi penting untuk:
Menjaga kontrol atas data nasional.
Mengurangi ketergantungan geopolitik.
Menumbuhkan ekosistem teknologi lokal.
Namun tentu saja, kritik juga muncul. Banyak pihak mempertanyakan isu transparansi, privasi, dan kontrol negara dalam sistem terpusat seperti Harmony. Apakah pengguna benar-benar terlindungi? Ataukah sistem ini menjadi alat pengawasan skala nasional?
Bukan Sekadar Operating System, Tapi Ini
Strategi Negara
HarmonyOS bukan hanya langkah teknologi, tapi pernyataan politik dan strategi jangka panjang. Dengan menguasai sistem operasi, China mengambil kendali atas infrastruktur digital yang selama ini dikendalikan oleh perusahaan-perusahaan Amerika.
Meskipun belum menggantikan Android, iOS, dan Windows secara total, arah pergeseran sudah terlihat jelas. HarmonyOS kini berdiri sebagai simbol bahwa kedaulatan digital adalah bagian integral dari kedaulatan negara.
Dan di era ketika senjata bukan lagi rudal, melainkan data dan server, siapa yang mengendalikan sistem operasi — dialah yang mengendalikan masa depan.
