Norma Agama sebagai pijakan hidup berdampingan dengan Covid19

Kolomnis dan Pendidik di SMA Warga Surakarta
Tulisan dari Yoggi Bagus Christianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Surakarta- Pandemi Covid19 sejak Februari ketika virus tersebut tiba di Indonesia sampai sekarang masih menjadi perbincangan hangat bak layaknya membicarakan hantu yang gentayang. Perasaan tidak takut namun was-was terhadap keusilan dari momok pandemi yaitu virus kecil yang tak terlihat rupanya, bahkan keusilannya hingga berujung menghilangkan roh dalam jasmani manusia.
Berbagai upaya telah dilakukan guna mengusir momok tersebut. Pemerintahan telah bersikeras untuk memperjuangankan hak untuk hidup seorang warga negara dengan mengutamakan kesehatan manusia. Namun ditengah perjalanan upaya pemerintah tersebut telah mengalami kendala ketika melihat rakyatnya harus mencari rezeki untuk sebutir beras, banyak yang terjun ke lapangan kembali untuk menghidupi keluarganya sehingga tak mengindahkan peraturan yang ditetapkan. Himbauan dirumah saja menjadi kabur. Sejak awal muncul kata "New Normal" membawa maksud baik untuk bangsa Indonesia terlepas harus dihidup berdampingan dengan virus guna mememuhi keinginan agar saku celana tidak kosong dan dompet tidak sakit. Namun bekerja harus tetap memperhatikan protokol kesehatan.
Pusat penggerak kehidupan manusia ialah didalam Roh manusia, ketika Roh tersebut mampu bekerja dengan baik maka jasmani akan ikut serta mengikuti aliran energi dari Roh yang diberikan. Norma Agama sebagai upaya preventif hidup berdampingan dengan virus Covid19. Peran norma agama sangat menyokong kehidupan New Normal. Kondisi masyarakat Indonesia yang begitu majemuk dengan enam agama resmi yang diakui pemerintah seperti Islam, Protestan, Katolik, Hindu, Buddha serta Konghucu membuat norma agama dirasa dapat digunakan sebagai tempat pijakan hidup berdampingan dengan Covid19. Masyarakat Indonesia sendiri, dimasa modernitas masih memegang teguh norma agama sesuai kepercayaan yang diyakini, hal ini tak menutupi bahwa norma agama sangat berperan dalam kehidupan. Namun dalam penggunaanya perlu mengamalkan sila pertama Pancasila dan menaruh rasa toleransi dalam relung hati dan jiwa setiap pribadi. Dalam penerapannya perlu menanamkan benih norma agama dalam unit/kelompok terkecil yakni keluarga, karena nantinya antar anggota keluarga tersebut akan bertemu dengan banyak orang yang tak disangka. Namun beberapa yang tidak memiliki keluarga yang lengkap perlu berintegrasi seadanya supaya norma agama tetap ditaati.
Dalam agama Islam, norma agama dalam islam telah teratur secara jelas mengenai Upaya Penanganan Pencegahan Pandemi didalam Al-Qur'an, hadist serta sunnah nabi. Perintah lockdown secara jelas, dituangkan dalam hadist yaitu "Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu" (HR al-Bukhari), adapula anjuran mencuci tangan. Selain itu agama Protestan serta Katolik pun mengajarkan hal yang sama dalam alkitab, selain itu ada norma menciptakan perbuatan baik ditengah bahaya seperti Pandemi Covid19 ini seperti firman Yesus, "Terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga" (Mat. 5.16). Dalam Agama Protestan mengakui bahwa Pemerintah adalah wakil Allah didunia sehingga berbagai kebijakan yang digalakan perlunya ditaati karena wujud tunduk pada Allah juga dapat dilakukan dengan tunduk pada pemerintah di dunia. Dalam agama Hindu juga ada beberapa ajaran mengenai menjaga kemurnian, kebersihan dan kejernihan yang mengacu pada pikiran, ucapan dan tubuh yang dapat digunakan sebagai pijakan untuk hidup berdampingan dengan virus. Didalam agama Budha juga memiliki kitab suci Paritta (bahasa Pali), yang biasanya diterjemahkan sebagai "perlindungan" atau "penjagaan," merujuk kepada tradisi agama Buddha yaitu kegiatan pembacaan ayat-ayat atau kitab-kitab suci tertentu yang bertujuan untuk menangkal kesialan, keburukan, dan mara bahaya termasuk pandemi Covid19 ini. Begitupula ada sebuah norma kebersihan dikhotbahkan oleh Sang Buddha, “Sehat adalah anugrah tertinggi, Nibbana adalah kebahagiaan tertinggi" (M.II.VII.65) dan masih banyak kotbah lainnya. Dalam agama Konghucu pun juga menerapkan norma agama yang diyakininya seperti kelima agama lainnya.
Menaati norma agama bak senjata sakti guna menghadapi pandemi. Perlunya kolaborasi antara manusia penyembah Tuhan dengan agama yang diyakininya supaya dalam menjalani kehidupan tidak diluar kehendak Tuhan. Semua ajaran agama mengajarkan kebaikan sehingga dalam mengalahkan roh jahat (COVID19) hanya dapat dikalahkan dengan Roh baik yaitu ketaatan manusia akan norma agama untuk hidup sehat.
Memang Agama tidak hanya memperbaiki relung jiwa dan roh manusia saja namun norma agama juga memperbaiki jasmani manusia. Selebihnya hidup dan mati hanya ada pada tangan Tuhan Yang Maha Esa dan manusia hanya bisa mengusahakan seperti kehendak Tuhan.
Penulis
Yoggi Bagus Christianto
Mahasiswa FKIP UNS. Lahir di Solo.
s
