Konten dari Pengguna

Membuat Aplikasi Itu Mudah, Membuat Aplikasi yang Berguna Itu Sulit

Yogi Firman Firdaus

Yogi Firman Firdaus

Mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yogi Firman Firdaus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://pixabay.com/illustrations/ai-generated-developer-9241538/
zoom-in-whitePerbesar
https://pixabay.com/illustrations/ai-generated-developer-9241538/

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, membuat aplikasi bukan lagi sesuatu yang hanya dapat dilakukan oleh programmer profesional. Berbagai framework, platform no-code, dan kecerdasan buatan membuat proses membangun aplikasi menjadi jauh lebih mudah. Namun, ada persoalan yang sering terlupakan: aplikasi yang berhasil dibuat belum tentu aplikasi yang benar-benar berguna.

Sebuah aplikasi bisa memiliki tampilan menarik, banyak fitur, bahkan berhasil dipublikasikan. Tetapi jika pengguna tidak membutuhkannya, sulit digunakan, atau justru menyelesaikan masalah yang sebenarnya tidak ada, aplikasi tersebut pada akhirnya hanya menjadi produk digital yang tidak banyak digunakan.

Membuat Aplikasi Bukan Sekadar Menulis Kode

Bagi orang yang baru belajar pemrograman, keberhasilan membuat sebuah aplikasi sering kali diukur dari satu hal: aplikasi tersebut bisa berjalan.

Ketika tombol dapat diklik, data berhasil disimpan, halaman dapat berpindah, dan aplikasi tidak mengalami error, proyek dianggap selesai.

Padahal, proses pengembangan perangkat lunak tidak berhenti ketika kode berhasil dijalankan.

Sebelum menulis kode, pengembang perlu memahami masalah yang hendak diselesaikan. Siapa penggunanya? Apa kesulitan mereka? Bagaimana mereka menyelesaikan masalah tersebut sebelum aplikasi dibuat? Dan apakah aplikasi yang dirancang benar-benar membuat proses tersebut menjadi lebih mudah?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali jauh lebih sulit daripada menulis kode itu sendiri.

Aplikasi yang Canggih Belum Tentu Dibutuhkan

Perkembangan teknologi membuat pengembang memiliki semakin banyak pilihan untuk menambahkan fitur.

Aplikasi absensi, misalnya, dapat dilengkapi QR Code, GPS, notifikasi, dashboard statistik, laporan otomatis, hingga integrasi dengan berbagai layanan.

Secara teknis, fitur-fitur tersebut memang menarik.

Namun pertanyaannya sederhana: apakah semua fitur itu benar-benar dibutuhkan pengguna?

Jika seorang guru hanya membutuhkan cara mencatat kehadiran siswa secara cepat dan membuat laporan, terlalu banyak fitur justru dapat membuat sistem semakin rumit.

Di sinilah pentingnya memahami kebutuhan pengguna sebelum menentukan teknologi yang digunakan.

Teknologi seharusnya mengikuti kebutuhan, bukan kebutuhan dipaksakan agar sesuai dengan teknologi yang ingin digunakan.

Ketika Pengembang Terlalu Fokus pada Teknologi

Ada kecenderungan dalam dunia teknologi untuk lebih tertarik membicarakan bagaimana sesuatu dibuat daripada mengapa sesuatu dibuat.

Framework apa yang digunakan? Database apa yang dipakai? Apakah menggunakan Laravel, React, Flutter, atau teknologi lainnya?

Pertanyaan tersebut penting bagi pengembang. Tetapi bagi pengguna, pertanyaan yang lebih penting biasanya jauh lebih sederhana:

“Apakah aplikasi ini membuat pekerjaan saya menjadi lebih mudah?”

Pengguna tidak selalu peduli bahasa pemrograman apa yang digunakan di balik sebuah aplikasi. Mereka peduli apakah aplikasi tersebut cepat, mudah dipahami, dapat diandalkan, dan benar-benar membantu menyelesaikan kebutuhan mereka.

Karena itu, keberhasilan sebuah aplikasi tidak seharusnya hanya diukur dari sisi teknis.

Pengguna Tidak Selalu Tahu Apa yang Mereka Butuhkan

Memahami pengguna juga bukan berarti sekadar bertanya, “Fitur apa yang Anda inginkan?”

Pengguna terkadang hanya menjelaskan solusi yang mereka bayangkan, bukan masalah sebenarnya.

Misalnya, seseorang meminta dibuatkan aplikasi baru karena proses pencatatan masih dilakukan secara manual. Jika pengembang langsung menerjemahkan permintaan tersebut menjadi aplikasi, mungkin masalah teknis memang terselesaikan.

Tetapi setelah ditelusuri lebih jauh, bisa saja masalah sebenarnya bukan karena tidak adanya aplikasi, melainkan karena alur kerja yang terlalu rumit.

Karena itu, pengembangan aplikasi membutuhkan proses observasi dan pemahaman terhadap kebiasaan pengguna.

Aplikasi yang baik tidak hanya menjawab permintaan pengguna, tetapi juga berusaha memahami masalah di balik permintaan tersebut.

AI Membuat Tantangan Ini Semakin Menarik

Perkembangan kecerdasan buatan membuat membuat aplikasi menjadi semakin mudah. AI kini dapat membantu menghasilkan kode, membuat struktur halaman, menjelaskan error, bahkan membantu seseorang yang belum terlalu mahir pemrograman membangun prototipe.

Kemudahan ini merupakan peluang besar.

Namun semakin mudah sebuah aplikasi dibuat, semakin banyak pula aplikasi yang dapat lahir tanpa melalui proses validasi kebutuhan yang cukup.

Jika sebelumnya hambatan terbesar adalah kemampuan teknis, sekarang hambatan tersebut mulai berkurang.

Artinya, pertanyaan pentingnya bukan lagi hanya “Bisakah kita membuat aplikasi?”

Pertanyaannya berubah menjadi:

“Haruskah aplikasi ini dibuat?”

Dan jika jawabannya iya, pertanyaan berikutnya adalah:

“Masalah apa yang benar-benar ingin diselesaikan?”

Dari Programmer Menjadi Pemecah Masalah

Perubahan teknologi tersebut juga mengubah cara mahasiswa Teknik Informatika seharusnya memandang kemampuan pemrograman.

Kemampuan coding tetap penting. Namun coding hanyalah salah satu bagian dari proses membangun produk digital.

Seorang programmer juga perlu memahami bagaimana pengguna berinteraksi dengan sistem, bagaimana data dikelola, bagaimana keamanan diterapkan, serta bagaimana sebuah solusi dapat dikembangkan dan dipelihara.

Dengan kata lain, programmer tidak hanya dituntut menjadi orang yang mampu menerjemahkan kebutuhan menjadi kode.

Mereka juga perlu mampu memahami kebutuhan sebelum kode tersebut ditulis.

Aplikasi yang Berguna Tidak Harus Rumit

Ironisnya, aplikasi yang paling berguna tidak selalu merupakan aplikasi dengan teknologi paling canggih.

Sebuah sistem sederhana yang mampu menghemat waktu pengguna beberapa menit setiap hari bisa memberikan manfaat lebih besar daripada aplikasi dengan puluhan fitur yang jarang digunakan.

Karena itu, ukuran keberhasilan aplikasi seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah aplikasi tersebut berhasil dibuat.

Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah pengguna benar-benar menggunakannya, apakah masalah mereka berkurang, dan apakah proses yang sebelumnya sulit menjadi lebih sederhana.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah alat.

Kemampuan membuat aplikasi mungkin semakin mudah diperoleh. Tetapi kemampuan menemukan masalah yang tepat, memahami manusia yang mengalaminya, dan merancang solusi yang benar-benar digunakan tetap menjadi tantangan yang tidak sederhana.

Sebab membuat aplikasi adalah pekerjaan teknis. Membuat aplikasi yang berguna adalah pekerjaan memahami manusia.