Konten dari Pengguna
Global South dan Revolusi AI: Membangun Kedaulatan Teknologi di Era Digital
1 Juni 2025 12:21 WIB
·
waktu baca 18 menit
Kiriman Pengguna
Global South dan Revolusi AI: Membangun Kedaulatan Teknologi di Era Digital
Revolusi AI mengubah tatanan ekonomi global. Sementara AS-China bersaing ketat, negara Global South paradoksnya tinggi adopsi tapi rendah pengembangan AI. Indonesia butuh strategi kedaulatan teknologiYogi
Tulisan dari Yogi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Bagaimana AI mengubah tatanan ekonomi dunia dan mengapa negara-negara berkembang harus segera bertindak untuk tidak tertinggal dalam era baru ini
ADVERTISEMENT
Ketika Mesin Mulai Berpikir - Lahirnya Era Ekonomi Digital Baru
Bayangkan dunia di mana komputer tidak hanya mengikuti perintah, tetapi juga belajar, beradaptasi, dan bahkan membuat keputusan yang lebih baik dari manusia. Dunia itu bukan lagi khayalan—kita sedang hidup di dalamnya. Revolusi Industri Keempat ( The Fourth industrial Revolution) telah tiba, dan kali ini, protagonisnya adalah AI atau kecerdasan buatan yang mengubah setiap aspek kehidupan kita.
Pada Januari 2016, saat para pemimpin dunia berkumpul di Forum Ekonomi Dunia di Davos, mereka memperkenalkan istilah yang akan mengubah paradigma pembangunan global: "The Fourth industrial Revolution." Berbeda dari revolusi sebelumnya yang mengandalkan mesin uap, listrik, atau komputer, revolusi kali ini dipimpin oleh sesuatu yang lebih halus namun jauh lebih kuat—kecerdasan buatan dan pembelajaran mesin ( Machine Learning).
ADVERTISEMENT
Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi baru; ia adalah fondasi ekonomi digital yang sedang mengubah cara kita bekerja, berkomunikasi, dan berinteraksi. Seperti halnya mesin uap yang mengubah manufaktur atau internet yang merevolusi komunikasi, AI kini menjadi standar baru ekonomi digital yang menentukan siapa yang akan memimpin dan siapa yang akan tertinggal dalam tatanan dunia baru.
Namun, perubahan ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Persaingan AI telah menciptakan dinamika geopolitik baru yang kompleks, terutama antara dua raksasa teknologi: Amerika Serikat dan China. Amerika Serikat, dengan investasi swasta mencapai $335,2 miliar dari 2013 hingga 2023, menunjukkan dominasi dalam inovasi yang didorong sektor privat. Informasi terakhir menyebutkan bahwa pada pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos bulan Januari 2025 lalu , produsen ChatGPT yakni OpenAI, investor teknologi global SoftBank, dan Oracle mengumumkan usaha patungan bernama Stargate. Rencananya akan segera menginvestasikan US$100 miliar atau sekitar Rp1,6 kuadriliun ke dalam infrastruktur AI seperti pusat data, yang pertama sudah dibangun di Texas, Amerika.
ADVERTISEMENT
Sementara itu, China, dengan investasi $103,7 miliar, mengambil pendekatan yang berbeda melalui strategi nasional yang terpusat dan dukungan pemerintah yang kuat.
Persaingan ini bukan hanya tentang siapa yang memiliki teknologi terbaik, tetapi juga tentang siapa yang akan menentukan aturan main dalam ekonomi digital global. Ini adalah pertarungan multidimensi yang mencakup penelitian dan pengembangan, talenta terbaik, infrastruktur canggih, dan kemampuan mengubah inovasi menjadi produk komersial yang menguntungkan.
Yang membuat situasi ini semakin menarik adalah munculnya Global South—lebih dari 130 negara berkembang yang tidak mau hanya menjadi penonton dalam transformasi ini. Mereka menyadari bahwa AI bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang masa depan ekonomi dan politik mereka. Negara-negara ini, yang sebagian besar terletak di belahan bumi selatan, kini memperjuangkan tata kelola global baru dalam masyarakat internasional yang semakin multipolar.
ADVERTISEMENT
Ironisnya, meskipun negara-negara Global South tertinggal dalam hal investasi dan infrastruktur AI, data menunjukkan fenomena yang mengejutkan: penggunaan ChatGPT di India mencapai 75%, Kenya 69%, dan Pakistan 62%—angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan Jerman yang hanya 41%. Paradoks ini mengungkapkan bahwa adopsi teknologi tidak selalu sejalan dengan kemampuan untuk mengembangkannya, menciptakan bentuk ketergantungan baru yang perlu dipahami dan diatasi.
Duel Titan - Pertarungan AS-China dalam Arena AI Global
Pertarungan antara Amerika Serikat dan China dalam bidang kecerdasan buatan bukanlah sekadar kompetisi teknologi biasa—ini adalah pertarungan untuk menentukan siapa yang akan memimpin masa depan peradaban digital. Seperti Perang Dingin yang membagi dunia menjadi dua blok ideologi, persaingan AI ini menciptakan polarisasi baru dengan implikasi yang jauh lebih mendalam.
ADVERTISEMENT
Amerika Serikat membangun kekuatannya melalui apa yang bisa disebut sebagai "model Silicon Valley"—ekosistem inovasi yang didorong oleh investasi swasta raksasa, universitas kelas dunia, dan budaya kewirausahaan yang mendorong pengambilan risiko. Dengan investasi swasta mencapai $335,2 miliar, plus rencana penambahan investasi sebesar US$100 miliar untuk proyek Stargate, AS menunjukkan bagaimana kekuatan pasar dapat mendorong inovasi dengan kecepatan yang luar biasa. Perusahaan-perusahaan seperti Google, Microsoft, dan OpenAI tidak hanya menciptakan teknologi revolusioner, tetapi juga mengekspor nilai-nilai dan cara pandang Amerika melalui produk-produk AI mereka.
Namun, kekuatan AS juga menjadi kelemahannya. Ketergantungan pada sektor swasta membuat strategi nasional AS kurang kohesif dibandingkan China. Fluktuasi antara regulasi mandiri industri dan intervensi pemerintah menciptakan ketidakpastian yang dapat menghambat koordinasi jangka panjang.
ADVERTISEMENT
Di sisi lain, China mengambil pendekatan yang sangat berbeda melalui "model Beijing"—sistem yang berpusat pada peran negara dengan integrasi antara perusahaan teknologi besar, universitas, dan institusi pemerintah. Dengan investasi $103,7 miliar yang sebagian besar diarahkan melalui kebijakan industri yang dipimpin pemerintah, China membangun ekosistem AI yang organik dan terintegrasi. Perusahaan-perusahaan seperti Baidu, Alibaba, dan Tencent bekerja dalam kerangka strategi nasional yang jelas, menciptakan sinergi yang sulit ditandingi.
Perbedaan filosofis ini tercermin dalam pendekatan tata kelola AI mereka. AS mengeluarkan Executive Order 14110 pada Oktober 2023 dengan judul "Pengembangan dan Penggunaan Kecerdasan Buatan yang Aman, Terjamin, dan Terpercaya," yang memberikan pedoman komprehensif dengan pengawasan Gedung Putih. Sementara itu, China merespons dengan serangkaian peraturan, termasuk "Peraturan Manajemen Sintesis Mendalam Informasi Internet" dan "Langkah-langkah Sementara untuk Pengelolaan Layanan Kecerdasan Buatan Generatif" pada 2023.
ADVERTISEMENT
Persaingan ini kemudian meluas ke arena internasional. Dalam manuver diplomatik yang menarik, China berhasil memimpin resolusi PBB pada Juli 2024 berjudul "Meningkatkan Kerja Sama Internasional dalam Pengembangan Kapasitas Kecerdasan Buatan," yang bahkan didukung oleh AS. Ini menunjukkan bagaimana China berupaya mengatasi isolasi internasional yang dialaminya sejak tindakan keras AS terhadap perusahaan teknologi China mulai 2018.
Sementara AS dan China bertarung, negara-negara lain mengambil posisi strategis mereka sendiri. Inggris memilih jalur "mediator inovasi" dengan menyelenggarakan KTT Keamanan AI 2023 dan mengadopsi pendekatan non-hukum berbasis pedoman yang menekankan lingkungan ramah inovasi. Uni Eropa, sebaliknya, mengambil jalur "regulator progresif" dengan mengesahkan AI Act pada Maret 2024—kerangka hukum komprehensif pertama di dunia untuk mengatur AI.
ADVERTISEMENT
Yang menarik dari persaingan ini adalah bagaimana setiap pendekatan mencerminkan nilai-nilai dan sistem politik yang berbeda. AS menekankan inovasi dan kebebasan pasar, China fokus pada kontrol negara dan stabilitas sosial, Inggris mencari keseimbangan antara inovasi dan regulasi, sementara UE memprioritaskan perlindungan hak-hak individu dan etika.
Persaingan AS-China ini menciptakan apa yang disebut para ahli sebagai "bifurkasi teknologi" (asal kata dan konteks Kata “bifurcation” berasal dari bahasa Latin bifurcus yang berarti “bercabang dua"). Pada kondisi ini, dunia yang terbagi menjadi dua ekosistem AI yang terpisah dengan standar, protokol, dan nilai-nilai yang berbeda.
Negara-negara Global South kini harus memilih: mengadopsi teknologi AS dengan risiko ketergantungan pada perusahaan multinasional Barat, atau bermitra dengan China dengan risiko masuk dalam sphere of influence Beijing.
ADVERTISEMENT
Paradoks Digital - Mengapa Negara Miskin Lebih Aktif Menggunakan AI
Salah satu fenomena paling menarik dalam revolusi AI adalah paradoks yang tampak kontradiktif: negara-negara yang paling lemah dalam mengembangkan teknologi AI justru menunjukkan tingkat adopsi yang paling tinggi. Ini seperti melihat seseorang yang tidak bisa memasak tetapi menjadi pelanggan restoran terbaik—mereka mengonsumsi produk berkualitas tinggi tanpa memiliki kemampuan untuk membuatnya sendiri.
Data menunjukkan realitas yang mengejutkan: sementara India hanya menghasilkan sekitar 12% dari total publikasi penelitian AI global dan menyumbang kurang dari 1% paten AI dunia, 75% penduduknya menggunakan ChatGPT secara harian atau mingguan. Kenya, dengan infrastruktur teknologi yang terbatas, memiliki tingkat penggunaan ChatGPT 69%—jauh melampaui Jerman yang hanya 41%. Pakistan, meskipun menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan politik, mencatat penggunaan ChatGPT 62%.
ADVERTISEMENT
Paradoks ini mengungkapkan strategi bisnis yang sangat cerdas dari perusahaan-perusahaan teknologi besar. Mereka menyadari bahwa pasar terbesar justru terletak di negara-negara berkembang, bukan karena daya beli per kapita yang tinggi, tetapi karena volume populasi yang sangat besar dan kebutuhan yang belum terpenuhi. Seperti halnya perusahaan makanan cepat saji yang menawarkan menu murah untuk menjangkau pasar bawah, perusahaan AI menyediakan layanan dengan biaya relatif rendah atau bahkan gratis untuk penetrasi pasar.
Google, Microsoft, dan Meta telah melakukan ekspansi strategis dengan mendirikan pusat penelitian dan pengembangan di negara-negara berkembang. IBM membuka research center pertamanya di India pada 1998, kemudian memperluas ke São Paulo dan Rio de Janeiro pada 2010, Nairobi pada 2013, dan Johannesburg pada 2016. Microsoft mendirikan Microsoft Research India di Bangalore pada 2005, diikuti dengan pusat pengembangan di Nairobi dan Lagos. Google mendirikan AI Research Labs di Accra pada 2018 dan Bangalore pada 2019.
ADVERTISEMENT
Dan pada bulan Mei 2025 lalu, Microsoft secara resmi meluncurkan Indonesia Central, cloud region pertamanya di Indonesia. Infrastruktur hyperscale ini dibangun untuk mendukung pertumbuhan ekosistem kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) di Tanah Air, dengan keunggulan utama berupa penyimpanan data lokal (in-country data residency), standar keamanan tingkat tinggi, dan latensi yang lebih rendah.
Ekspansi ini bukan hanya tentang mencari talenta murah atau pasar baru, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem ketergantungan yang sophisticated. Dengan menyediakan teknologi canggih dengan harga terjangkau, perusahaan-perusahaan ini menciptakan apa yang oleh para kritikus disebut sebagai "imperialisme algoritmik"—bentuk kontrol yang lebih halus namun lebih mendalam dibandingkan kolonialisme tradisional.
Imperialisme algoritmik ini berbeda dari kolonialisme klasik dalam beberapa aspek fundamental. Jika kolonialisme tradisional digerakkan oleh negara dan berfokus pada ekstraksi sumber daya fisik, imperialisme algoritmik dipimpin oleh korporasi dan berfokus pada kontrol informasi dan narasi. Meta, misalnya, menciptakan peta populasi Afrika menggunakan teknologi computer vision, memberikan diri mereka otoritas untuk menciptakan dan mengontrol pengetahuan tentang populasi benua tersebut.
ADVERTISEMENT
Di Nigeria, sekitar 90% perangkat lunak yang digunakan adalah impor, menghambat pengembangan teknologi lokal dan menciptakan ketergantungan struktural. Bias dalam model dan data AI sering menghasilkan masalah yang dibingkai dan solusi yang diturunkan dengan cara yang mirip dengan persepsi Barat, mengabaikan konteks lokal yang unik.
Ketidaksesuaian teknologi AI Barat di Global South sering kali menciptakan hasil yang kontraproduktif. Sistem diagnostik AI yang menggunakan Mammotome untuk diagnosis kanker payudara, yang sangat efektif di negara-negara Barat, tidak berhasil seperti yang diharapkan di Afrika. Diagnosis mandiri ternyata lebih berguna dalam konteks tersebut. Ini menunjukkan bagaimana solusi teknologi yang dikembangkan dengan latar belakang gaya hidup dan lingkungan Barat mungkin memiliki penerapan terbatas di negara-negara kurang berkembang.
ADVERTISEMENT
Namun, cerita ini bukan hanya tentang ketergantungan dan eksploitasi. Ada juga sisi positif yang menginspirasi. AI telah memberikan peluang luar biasa bagi negara-negara Global South untuk melompati tahap-tahap pembangunan tradisional. Di India, model prediktif dibangun untuk menjaga partisipan maternal jarak jauh tetap terlibat dalam program telemedicine. Ghana mengembangkan sistem pendukung klinis untuk memerangi resistensi antibiotik. Di bidang pertanian, model pembelajaran mendalam dikembangkan untuk mendiagnosis penyakit pisang dan infeksi tanaman di berbagai negara Afrika.
Kolombia menggunakan AI untuk mengidentifikasi siswa yang berisiko putus sekolah, Thailand memanfaatkan AI untuk meningkatkan pembelajaran bahasa Inggris, dan berbagai negara Afrika Barat menggunakan asisten AI untuk mendukung pendidikan sains.
Sementara di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI telah pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di tiga rumah sakit ternama di Indonesia, yakni Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta, Rumah Sakit Kanker Dharmais, dan Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang. Pemanfaatan AI ini dilakukan untuk tiga hal. Pertama, CT Scan otak,memanfaatkan AI untuk penyakit-penyakit yang berhubungan dengan saraf terutama stroke di RSPON. Kedua, untuk RS Kanker Dharmais, pemanfaatan AI dengan radiologi untuk kanker dan patologi anatomi. Dan ketiga, Rumah Sakit Dr. M. Djamil Padang akan memanfaatkan AI dalam skrining penyakit tuberkulosis melalui radiologi.
ADVERTISEMENT
Ini menunjukkan bahwa AI, meskipun dikembangkan di negara maju, dapat diadaptasi untuk mengatasi tantangan spesifik negara berkembang.
Bangkitnya Kesadaran - Gerakan Akar Rumput dan Revolusi dari Bawah
Dalam menghadapi dominasi teknologi Barat dan Timur, negara-negara Global South tidak tinggal diam. Seperti gerakan kemerdekaan di abad ke-20 yang melawan kolonialisme politik, kini muncul gerakan "kemerdekaan digital" yang dipimpin oleh komunitas-komunitas akar rumput yang visioner dan berkomitmen untuk menciptakan masa depan teknologi yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Gerakan ini dimulai dari kesadaran sederhana namun mendalam: teknologi yang benar-benar berguna harus dikembangkan oleh dan untuk komunitas yang akan menggunakannya. Tidak mungkin menciptakan solusi AI yang efektif untuk Afrika tanpa melibatkan orang Afrika, atau mengembangkan sistem AI untuk Amerika Latin tanpa memahami konteks sosial, budaya, dan ekonomi regional.
ADVERTISEMENT
Masakhane, yang dalam bahasa Zulu berarti "mari kita membangun bersama," menjadi salah satu gerakan paling inspiratif dalam revolusi AI akar rumput. Organisasi ini berfokus pada pengembangan dataset dan alat terjemahan mesin untuk meningkatkan aksesibilitas ke bahasa-bahasa Afrika yang selama ini diabaikan oleh teknologi mainstream. Bayangkan betapa frustrasinya harus berkomunikasi dengan AI dalam bahasa asing, atau melihat budaya dan bahasa Anda tidak diakui oleh teknologi yang seharusnya melayani semua orang.
Ghana NLP (Natural Language Processing) melanjutkan misi serupa dengan fokus pada pengembangan teknologi pemrosesan bahasa alami yang dapat memahami dan merespons dalam bahasa-bahasa lokal Ghana. Ini bukan hanya tentang teknologi, tetapi tentang preservasi budaya dan identitas dalam era digital.
Deep Learning Indaba di Afrika dan Khipu di Amerika Latin mengambil pendekatan yang berbeda namun komplementer: membangun keahlian lokal di bidang AI dan menumbuhkan komunitas peneliti dan pengembang AI yang berakar di wilayah mereka. Mereka menyadari bahwa ketergantungan pada ekspertise luar negeri hanya akan memperpanjang siklus ketergantungan teknologi.
ADVERTISEMENT
AI Saturdays Lagos menciptakan model pembelajaran komunitas yang dapat direplikasi di berbagai kota. Setiap Sabtu, para enthusiast AI berkumpul untuk belajar, berbagi pengetahuan, dan mengembangkan proyek-proyek yang relevan dengan tantangan lokal. Ini adalah contoh bagaimana pendidikan teknologi dapat didemokratisasi dan dibuat lebih aksesible.
Data Science Africa mengambil pendekatan yang lebih holistik dengan mengembangkan kapasitas ilmu data lokal melalui workshop, bootcamp, dan kolaborasi penelitian. Mereka memahami bahwa AI yang baik membutuhkan data yang baik, dan data yang baik membutuhkan pemahaman mendalam tentang konteks di mana data tersebut dikumpulkan dan digunakan.
Gerakan-gerakan ini mencerminkan filosofi yang berbeda dari pendekatan top-down yang dominan dalam pengembangan AI global. Mereka percaya pada kekuatan kolaborasi, pembelajaran peer-to-peer, dan inovasi yang didorong oleh kebutuhan nyata komunitas. Ini adalah antitesis dari model corporate-driven yang sering menghasilkan solusi yang canggih secara teknologi tetapi tidak relevan secara praktis.
ADVERTISEMENT
Namun, gerakan akar rumput ini menghadapi tantangan yang tidak sederhana. Mereka harus berkompetisi dengan perusahaan-perusahaan multinasional yang memiliki sumber daya hampir tidak terbatas, infrastruktur yang sudah mapan, dan akses ke talenta terbaik dunia. Ini seperti David melawan Goliath, tetapi dalam konteks yang jauh lebih kompleks dan dengan stakes yang jauh lebih tinggi.
Di tingkat pemerintahan, kesadaran yang sama mulai muncul. Brasil telah mengusulkan empat RUU AI antara 2019-2023, dengan yang terbaru (2338/2023) mengadopsi pendekatan berbasis risiko yang berpusat pada hak asasi manusia, mirip dengan UU AI Uni Eropa. Chile menyelenggarakan KTT Tingkat Tinggi Menteri pertama tentang Etika AI di Amerika Latin dan Karibia pada Oktober 2023, memimpin diskusi tentang tata kelola AI regional.
ADVERTISEMENT
Deklarasi Santiago, yang ditandatangani oleh 20 negara, menjadi tonggak penting dalam upaya mempromosikan pengembangan etika AI yang mencerminkan kekhususan regional. Ini menunjukkan bahwa negara-negara Global South tidak hanya ingin menjadi konsumen teknologi, tetapi juga ingin menjadi co-creator dalam menentukan bagaimana teknologi AI dikembangkan dan digunakan.
Afrika mengambil langkah yang bahkan lebih ambisius dengan "Strategi AI Kontinental" yang diumumkan pada April 2024. Strategi ini membayangkan "AI yang berpusat pada Afrika, bertanggung jawab, dan etis yang memberdayakan orang dan berkontribusi pada pertumbuhan inklusif, ketahanan, dan pembangunan sosial ekonomi di seluruh benua."
Yang dikembangkan dengan dukungan teknis dan finansial UNESCO, strategi ini melibatkan badan implementasi dan teknis Uni Afrika, komunitas ekonomi regional, organisasi regional dan Pan-Afrika, serta badan-badan PBB. Uni Afrika mendukung negara anggota dalam mengembangkan strategi AI dan kerangka tata kelola, meningkatkan transparansi dan akuntabilitas sistem AI dengan membentuk observatorium AI kontinental, komite etika, dan register transparansi.
ADVERTISEMENT
Indonesia dan Masa Depan - Membangun Kedaulatan Digital di Era AI
Indonesia berdiri di persimpangan sejarah yang menentukan. Sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, ekonomi terbesar di ASEAN, dan anggota G20, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi pemain utama dalam revolusi AI global. Namun, seperti negara-negara Global South lainnya, Indonesia juga menghadapi dilema fundamental: bagaimana memanfaatkan teknologi AI untuk kemajuan bangsa tanpa jatuh ke dalam perangkap ketergantungan digital yang dapat mengancam kedaulatan teknologi nasional.
Strategi Nasional AI Indonesia 2020-2045
STRANAS AI yang dirumuskan oleh BPPT ( Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) Indonesia telah memetakan langkah-langkah strategis dalam mengembangkan dan mengimplementasikan kecerdasan artifisial, dengan mempertimbangkan tantangan yang ada. Indonesia harus mengatasi beberapa kendala utama, seperti kesiapan regulasi, pengembangan tenaga kerja yang terampil, infrastruktur komputasi yang memadai, serta kesiapan industri dan sektor publik dalam mengadopsi teknologi ini. Dengan memanfaatkan kecerdasan artifisial, Indonesia dapat meningkatkan produktivitas, efisiensi, serta menyediakan layanan publik yang lebih baik.
ADVERTISEMENT
Empat Pilar Fokus
Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah Indonesia telah menetapkan empat area fokus yang menjadi prioritas pengembangan dan penerapan AI, yaitu:
1. Etika dan Kebijakan: Pengaturan yang jelas dan bertanggung jawab tentang bagaimana AI digunakan dalam masyarakat, termasuk kebijakan terkait privasi dan keamanan data.
2. Pengembangan Talenta: Meningkatkan kualitas sumber daya manusia yang terampil dalam bidang AI melalui pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, serta program pelatihan spesial.
3. Infrastruktur dan Data: Membangun infrastruktur teknologi yang dapat mendukung pengembangan dan penerapan AI, seperti penyediaan data yang dapat digunakan untuk riset dan pengembangan.
4. Riset dan Inovasi Industri: Mendorong riset dan pengembangan yang melibatkan berbagai sektor industri untuk menciptakan solusi AI yang aplikatif dan bermanfaat bagi masyarakat .
ADVERTISEMENT
Bidang Prioritas
Selain empat area fokus, STRANAS AI juga menetapkan lima bidang prioritas yang diharapkan dapat menjadi pendorong utama pemanfaatan AI di Indonesia:
1. Layanan Kesehatan: Menggunakan AI untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas sistem kesehatan Indonesia, seperti diagnosis berbasis AI dan sistem manajemen rumah sakit yang lebih pintar.
2. Reformasi Birokrasi: Menerapkan sistem berbasis AI untuk memperbaiki pelayanan publik dan tata kelola pemerintahan, yang akan mempermudah akses informasi dan keputusan.
3. Pendidikan dan Riset: Mengembangkan program pendidikan berbasis AI dan riset yang mendalam di sektor-sektor terkait.
4. Ketahanan Pangan: Menggunakan AI untuk mendukung ketahanan pangan melalui analisis data terkait iklim, produksi, dan distribusi pangan.
5. Mobilitas dan Kota Pintar: Meningkatkan infrastruktur kota dan transportasi menggunakan teknologi AI, seperti sistem transportasi pintar yang mengurangi kemacetan dan meningkatkan efisiensi .
ADVERTISEMENT
Tantangan dan Peluang
Meskipun Indonesia memiliki potensi besar dalam penerapan KA, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi, seperti kurangnya tenaga ahli dalam bidang ini, keterbatasan infrastruktur, dan kebutuhan akan regulasi yang mendukung pengembangan KA secara bertanggung jawab. Namun, negara ini juga memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin dalam penerapan teknologi ini, berkat pasar digital yang berkembang pesat, serta adanya dukungan dari pemerintah dan sektor swasta.
Dalam menghadapi tantangan ini, Indonesia perlu melakukan kolaborasi dengan negara-negara lain yang sudah maju dalam bidang AI, serta meningkatkan investasi dalam riset dan pengembangan. Kerja sama internasional akan mempercepat pengembangan ekosistem AI yang saling mendukung dan berkelanjutan .
Visi Masa Depan
Masa depan Indonesia dalam era AI akan ditentukan oleh keputusan-keputusan yang diambil hari ini. Dengan visi yang jelas, strategi yang komprehensif, dan eksekusi yang konsisten, Indonesia dapat menjadi pemimpin regional dalam pengembangan AI yang etis, inklusif, dan berkelanjutan. Ini bukan hanya tentang mengejar ketertinggalan dengan negara-negara maju, tetapi tentang menciptakan paradigma baru untuk pengembangan AI yang dapat menginspirasi negara-negara berkembang lainnya.
ADVERTISEMENT
Revolusi AI adalah tantangan sekaligus peluang terbesar abad ini. Indonesia, dengan segala potensi dan tantangannya, memiliki kesempatan untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat dari revolusi ini, tetapi juga menjadi arsitek dari masa depan AI yang lebih adil dan berkelanjutan untuk semua.
Kesimpulan: Membangun Masa Depan yang Berkeadilan
Perjalanan menuju kedaulatan teknologi dalam era AI bukanlah jalan yang mudah, tetapi merupakan keharusan historis yang tidak dapat dihindari. Negara-negara Global South, termasuk Indonesia, berada di titik kritis di mana keputusan yang diambil hari ini akan menentukan posisi mereka dalam tatanan dunia digital masa depan.
Revolusi AI telah mengubah paradigma pembangunan global. Tidak lagi cukup hanya menjadi konsumen teknologi; negara-negara berkembang harus menjadi co-creator dalam menciptakan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan, nilai, dan aspirasi mereka. Pengalaman paradoks digital—di mana negara-negara dengan kemampuan pengembangan AI terbatas justru memiliki tingkat adopsi tertinggi—mengajarkan kita bahwa konsumsi teknologi tanpa kemampuan kreasi hanya akan memperdalam ketergantungan.
ADVERTISEMENT
Gerakan akar rumput yang bermunculan di berbagai belahan Global South menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya kedaulatan teknologi telah tumbuh. Dari Masakhane di Afrika hingga inisiatif AI lokal di Amerika Latin, semangat untuk membangun teknologi yang inklusif dan kontekstual terus menguat. Namun, gerakan ini membutuhkan dukungan sistematis dari pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat internasional.
Indonesia, dengan strategi nasional AI 2020-2045 dan komitmen investasi yang signifikan, telah menunjukkan keseriusan dalam membangun ekosistem AI yang berkelanjutan. Namun, perjalanan ini baru saja dimulai. Tantangan terbesar adalah memastikan bahwa pengembangan AI Indonesia tidak hanya fokus pada aspek teknologi, tetapi juga pada aspek sosial, budaya, dan etika yang mencerminkan nilai-nilai Pancasila dan kearifan lokal.
Masa depan ekonomi digital global tidak harus didominasi oleh persaingan bipolar AS-China. Negara-negara Global South memiliki peluang untuk menciptakan jalur ketiga yang lebih inklusif, berkelanjutan, dan berkeadilan. Hal ini membutuhkan kolaborasi yang erat antarnegara berkembang, pertukaran pengetahuan dan pengalaman, serta komitmen bersama untuk membangun teknologi yang melayani kepentingan semua umat manusia.
ADVERTISEMENT
Revolusi AI bukan hanya tentang teknologi—ini tentang siapa yang akan menentukan masa depan peradaban digital. Saatnya bagi Global South untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi menjadi sutradara dalam drama besar transformasi teknologi ini. Indonesia, dengan kekayaan budaya, keragaman bahasa, dan potensi demografis yang luar biasa, memiliki semua modal untuk menjadi pemimpin dalam revolusi ini.
Perjalanan menuju kedaulatan teknologi adalah perjalanan panjang yang membutuhkan komitmen generasi. Namun, seperti perjuangan kemerdekaan di masa lalu, ini adalah perjuangan yang harus dimenangkan demi masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang. Era AI telah tiba—saatnya kita tidak hanya mengadopsi, tetapi juga menciptakan masa depan yang kita inginkan.
---
NOTE:
- Artikel ini merupakan adaptasi dan penambahan penulis ( untuk pembahasan AI di Indonesia) dari penelitian Dr. Yoochul Lee tentang "The New Civilization, Artificial Intelligence as the Standard of the Digital Economy: Digital Economy Polarization in the Global South" yang dipublikasikan dalam Oeconomia Copernicana, Volume 10(1) tahun 2025.
ADVERTISEMENT
- Dokumen "Strategi Nasional AI Indonesia 2020-2045" bisa di download : https://ai-innovation.id/

