Konten dari Pengguna

Hasrat Pemimpin: Antara Warisan dan Syahwat Kuasa

Yogi

Yogi

Sejak tahun 2017 mulai terjun bebas sebagai praktisi marketing dan layanan produk kesehatan di industri kesehatan nasional. Penikmat dunia digital dan saat ini mulai terlibat aktif di proses digitalisasi pada beragam sektor kehidupan.

·waktu baca 35 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yogi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

sumber foto : https://www.pexels.com/
zoom-in-whitePerbesar
sumber foto : https://www.pexels.com/

Kita sering membayangkan pemimpin ideal sebagai sosok bijak yang seimbang, mampu mengendalikan diri, dan mengutamakan kepentingan bersama. Namun, Barbara Kellerman dan Todd L. Pittinsky dalam bukunya "Leaders Who Lust" menawarkan pandangan yang berbeda: terkadang justru hasrat yang menggebu-gebu–keinginan intens yang nyaris tak terpuaskan–itulah yang mendorong seseorang menjadi pemimpin luar biasa.

Keduanya mendefinisikan lust bukan sekadar hasrat seksual, melainkan dorongan psikologis yang menimbulkan keinginan kuat, bahkan kebutuhan yang mendesak, untuk memperoleh sesuatu atau mencapai keadaan tertentu. Begitu objek atau keadaan itu tercapai, sang pemimpin merasa lega–tetapi hanya sebentar. Tak lama kemudian, hasrat itu menyala lagi, menuntut pencapaian berikutnya.

Dengan kata lain, hasrat para pemimpin ini tumbuh justru ketika hasratnya “diberi makan”. Semakin banyak mereka mendapatkan apa yang diinginkan, semakin besar pula keinginan mereka.

Kellerman dan Pittinsky mengidentifikasi 6 (enam) jenis hasrat yang kerap menjadi pendorong kepemimpinan, masing-masing diilustrasikan oleh tokoh nyata. Enam hasrat itu adalah: Hasrat akan kekuasaan, uang, seks, kesuksesan, legitimasi, dan warisan. Para “pemimpin berhasrat” ini bisa memiliki dampak yang bertahan lama – baik dampak positif yang mengubah dunia menjadi lebih baik, maupun dampak negatif yang merugikan banyak orang. Faktanya, seperti diungkap buku ini,

Tak ada seorang pun yang mengubah dunia tanpa obsesi”.

Hasrat akan Kekuasaan

Hasrat akan kekuasaan adalah hasrat tak berkesudahan untuk mengendalikan dan mendominasi pihak lain. Pemimpin yang diliputi hasrat kekuasaan tak pernah puas dengan posisi atau pengaruh yang sudah dimilikinya; selalu ada dorongan untuk meraih lebih. Contoh paling gamblang adalah Roger Ailes, pendiri sekaligus arsitek Fox News, dan Xi Jinping, Presiden Tiongkok saat ini. Keduanya menunjukkan betapa hasrat kekuasaan dapat mengangkat seseorang ke puncak kepemimpinan sekaligus membentuk gaya dan dampak kepemimpinan mereka.

Roger Ailes barangkali tidak dikenal secara luas di Indonesia, tetapi di Amerika Serikat ia adalah figur kunci di balik kekuatan media konservatif. Sejak muda, Ailes terkenal ambisius dan “pria yang harus ditakuti” di dunia pertelevisian.

Tahun 1996, ia mendirikan Fox News atas dukungan konglomerat Rupert Murdoch. Di bawah kendalinya selama 20 tahun, Fox News tumbuh menjadi jaringan berita kabel paling berpengaruh di AS, dengan pemirsa yang lebih menyerupai fans militan ketimbang penonton biasa.

Murdoch memberikan Ailes wewenang penuh – kekuasaan absolut – untuk menjalankan Fox News. Ailes memanfaatkan kebebasan ini sepenuhnya: ia membentuk Fox News sesuai visinya, mencampurkan berita dengan hiburan dan propaganda politik kanan, hingga mampu “memproyeksikan pandangan politiknya ke lebih banyak konservatif secara konsisten dibanding siapa pun di Partai Republik”.

Selama berkuasa, Ailes benar-benar tak tersentuh dalam kerajaannya sendiri. Karyawannya menggambarkan bahwa ia memiliki kebutuhan tak terpuaskan untuk mendominasi; sebagai atasan, ia tanpa ampun dan mengontrol segala hal. Baginya, kekuasaan jauh lebih penting daripada hal-hal lain–lebih penting bahkan daripada seks.

Tak heran, skandal pelecehan seksual yang menimpanya pada 2016 (ia dituduh melecehkan sejumlah presenter wanita di Fox News) akhirnya menjadi ironi: Ailes tumbang bukan karena kehilangan dukungan politik, melainkan karena penyalahgunaan kekuasaan yang kelewat batas. Ia dipaksa mundur, meninggalkan “kerajaan”-nya dalam aib. Meski demikian, warisannya sebagai orang yang mengubah lanskap media dan politik AS tetap nyata–hasrat akan kekuasaan-nya menjadikan Fox News mesin propaganda yang bayangannya masih terasa hingga kini.

Presiden Republik Rakyat Tiongkok, Xi Jinping saat KTT G20 di Hangzhou, Tiongkok. Foto: Gil Corzo/Shutterstock

Berbeda konteks namun serupa dalam hasrat, Xi Jinping di Tiongkok memperlihatkan hasrat kekuasaan dalam skala negara. Saat mulai menjabat Sekretaris Jenderal Partai Komunis tahun 2012, banyak yang tak menyangka ia akan begitu agresif mengkonsolidasikan kekuasaan. Namun dalam satu dekade, Xi telah menghapus batasan masa jabatan presiden, memusatkan kontrol partai atas semua aspek negara, dan menyingkirkan para pesaing politiknya.

Pengamat menyatakan bahwa “selera Xi atas kekuasaan tumbuh seiring ia memakannya”, semakin berkuasa, semakin besar pula hasratnya. Di bawah Xi, pemerintahan Tiongkok berubah dari otoriter “biasa” menjadi nyaris totaliter: ruang oposisi politik diberangus, tokoh aktivis dan jurnalis kritis dipenjara, dan teknologi Big Brother, pemantauan seluruh aktivitas warga, diterapkan untuk mengawasi rakyat.

Untuk menentangnya? Hampir mustahil. Seorang warga Tiongkok biasa tak punya pilihan kecuali hengkang dari negerinya jika ingin lepas dari cengkeraman “Tuan Xi”. Xi memerintah dengan tangan besi, dan tampak tak ada niat untuk melonggarkan genggamannya. Sebaliknya, partai justru membangun kultus individu di sekelilingnya, menyebut Xi sebagai “Inti Partai” dan menyanjungnya bak kaisar modern.

Serupa dengan Ailes, Xi menunjukkan pola bahwa semakin banyak kekuasaan yang berhasil ia himpun, semakin besar pula keinginan untuk menambahnya. Kombinasi hasrat kekuasaan yang tak kenal puas dan kesempatan (serta konteks politik yang mendukung pemusatan kekuasaan) membuat Xi berhasil menjadi pemimpin Tiongkok terkuat sejak Mao Zedong.

Baik Ailes maupun Xi membuktikan bahwa hasrat akan kekuasaan dapat menjadi bahan bakar karier kepemimpinan yang luar biasa. Mereka menanjak ke puncak dan bertahan di sana dengan drive dominasi yang tak surut. Namun, ada harga yang menyertai.

Dalam kasus Ailes, hasrat kekuasaan tanpa kontrol, kejahatan moralnya merusak lingkungan serta cara kerjanya menimbulkan budaya takut dan pelecehan. Pada akhirnya menjatuhkan reputasinya. Dalam kasus Xi, hasratnya mengekalkan kekuasaan personal tetapi sekaligus menekan kebebasan jutaan orang. Kita melihat di sini wajah ganda kepemimpinan berbasis hasrat: di satu sisi, dorongan kuat ini memberi energi untuk mencapai hal-hal besar; di sisi lain, tanpa keseimbangan, ia dapat menjelma otoritarianisme yang berbahaya.

Hasrat akan Uang

Warren Buffet. Foto: FREDERIC J. BROWN / AFP

Berikutnya adalah hasrat akan uang, yakni keinginan tak terbatas untuk mengumpulkan kekayaan materi. Pemimpin dengan hasrat ini tidak pernah benar-benar “selesai” dalam hal mengejar kekayaan. Tak peduli sudah seberapa kaya, motivasinya untuk terus menambah pundi-pundi seolah tidak padam. Dua contoh tokoh yang mewakili tipe ini adalah Warren Buffett dan Charles Koch, keduanya pengusaha dan investor terkemuka di Amerika Serikat. Meski gaya dan nilai-nilai mereka berbeda, keduanya disatukan oleh satu hal: mereka “gila” uang dalam arti yang harfiah–hidup mereka digerakkan oleh hasrat mendalam terhadap penumpukan kekayaan.

Warren Buffett, dikenal sebagai “Oracle of Omaha”, adalah salah satu orang terkaya di dunia berkat kejeniusannya dalam berinvestasi. Namun menariknya, Buffett menjalani gaya hidup relatif sederhana. Ia masih tinggal di rumah lamanya di Omaha dan tidak suka kemewahan berlebihan. Bagi Buffett, uang bukan untuk dibelanjakan, melainkan skor permainan hidup.

Sejak kecil, ia terobsesi dengan angka dan profit: menjual permen karet, soda, hingga membeli mesin pinball bekas demi mendapat uang saku. Hasrat Buffett akan uang memang sudah mendarah daging sejak dini, dan ia sendiri mengakui hal itu. Ia tak malu mengatakan bahwa membuat uang adalah “hasrat utama hidupnya”.

Setelah puluhan tahun berinvestasi jitu melalui perusahaannya Berkshire Hathaway, Buffett yang kini berusia 94 tahun memiliki kekayaan puluhan miliar dolar. Secara logis, dengan umur setua itu dan harta melimpah, ia bisa saja pensiun menikmati hari tua. Tapi apa kata Buffett? Di usia 87, ia mengumumkan untuk menunda pensiun dan masih ingin terus bekerja dan menghasilkan lebih banyak uang. Logika ditaruh ke samping, candanya, karena “tujuan utama hidup saya adalah terus mencetak uang”.

Pernyataannya tersebut mencerminkan kebenaran sederhana: baginya, permainan belum usai, skor terus dihitung. Ia bahkan bercanda bahwa ia akan berinvestasi sampai napas terakhir. Rasa “lapar” inilah yang membuat Buffett tak pernah berhenti berburu peluang bisnis, sekalipun hartanya sudah melimpah ruah. Dan hasilnya memang luar biasa: puluhan tahun terakhir, Buffett berhasil menggandakan kekayaannya berkali-kali lipat, menjadikan Berkshire Hathaway salah satu perusahaan publik terbesar di dunia.

Menariknya, meski begitu kaya, ia terkenal memperlakukan rekan kerja dan karyawannya dengan hormat dan ramah (ia tidak lupa diri), dan belakangan ia pun berkomitmen menyumbangkan sebagian besar kekayaannya untuk filantropi. Namun demikian, dalam jiwanya ia akan selalu menjadi “pencetak uang” yang menikmati tiap detik proses meraih keuntungan.

Charles Koch, CEO Koch Industries, ditampilkan di The Broadmoor Resort di Colorado Springs, Colorado Foto: AP Photo/David Zalubowski

Jika Buffett adalah sosok ramah yang memandang bisnis bak permainan intelektual, Charles Koch menghadirkan sisi lain hasrat akan uang: agresif, ideologis, dan kontroversial. Charles Koch mewarisi perusahaan keluarga sederhana bernama Koch Industries pada 1960-an. Berkat hasrat berbisnis dan berduit yang luar biasa, ia mengubah perusahaan bernilai 70 juta dolar itu menjadi konglomerat raksasa bernilai $115 miliar (saat ini Koch Industries termasuk salah satu perusahaan swasta terbesar di dunia).

Koch terkenal bekerja sangat keras, kompetitif, dan tak pernah puas. Ayahnya yang tegas mendidiknya agar “selalu kerja keras, tangguh, dan kompetitif”–nilai-nilai yang dihayati total oleh Charles. Seiring kesuksesan bisnisnya, Koch juga mengembangkan filsafat pribadi: ia penganut teguh libertarianisme, ideologi yang mendambakan kebebasan individu dan pasar bebas dengan pemerintah seminimal mungkin.

Menariknya, hasrat Koch untuk uang berpadu erat dengan misi ideologisnya. Semakin banyak uang yang ia hasilkan, semakin besar sumbangannya untuk gerakan libertarian; dan sebaliknya, semakin kuat gerakan tersebut (misalnya lewat kebijakan pajak rendah atau deregulasi bisnis), semakin mudah pula bagi perusahaannya untuk meraup untung.

Koch benar-benar melihat kekayaan sebagai sarana memperjuangkan keyakinannya, hingga ia pun terjun aktif ke ranah politik. Sejak awal 2000-an, Charles Koch (bersama mendiang adiknya, David) menggelontorkan ratusan juta dolar guna memengaruhi politik AS sesuai kepentingannya. Ia mendanai think-tank, lembaga lobi, jaringan donor, dan kampanye pemilu pro-bisnis dan anti-regulasi. Hasilnya sangat nyata: misalnya, berkat jaringan dukungan Koch, kebijakan pemerintah AS cenderung menyangkal atau mengabaikan isu perubahan iklim selama bertahun-tahun (karena regulasi lingkungan dianggap merugikan bisnis minyak Koch Industries).

Sebuah laporan menyebut kampanye Koch berhasil membuat hanya 8 dari 278 legislator Partai Republik pada 2014 yang berani mengakui perubahan iklim akibat ulah manusia. Ini menunjukkan dampak “hasrat uang” Koch di tingkat kebijakan publik. Bagi Koch, menghasilkan uang saja tidak cukup. Ia “berhasrat” mempertahankan lingkungan yang memungkinkan dirinya terus menghasilkan uang tanpa hambatan.

Baik Buffett maupun Koch menunjukkan sisi tak terbatas dari hasrat akan uang. Buffett memandang uang sebagai permainan tanpa akhir – skor yang harus terus diperbarui. Sementara Koch memandang uang sebagai kekuatan untuk mencapai tujuan yang lebih besar sehingga setiap dolar tambahan adalah amunisi untuk perjuangannya.

Hasrat akan Seks

Presiden John F. Kennedy berbicara di luar Gedung Putih di Washington pada 30 April 1963 . Foto: William J. Smith/AP Photo

Jika dua hasrat sebelumnya terdengar agak serius, jenis yang ketiga ini lebih nyeleneh: hasrat akan seks, yakni hasrat yang terus-menerus memburu pemuasan seksual. Seks sering dianggap “godaan” belaka bagi pemimpin – sesuatu yang bisa menjatuhkan mereka (skandal seksual) – tetapi buku Leaders Who Lust justru menempatkannya sebagai dorongan inti bagi beberapa pemimpin.

Dua contoh yang diangkat adalah John F. Kennedy, Presiden AS ke-35, dan Silvio Berlusconi, mantan Perdana Menteri Italia. Keduanya dari era dan kultur berbeda, namun sama-sama dikenal karena gairah seksual mereka yang di atas rata-rata, yang memengaruhi kehidupan dan, secara tak langsung, kepemimpinan mereka.

John F. Kennedy (JFK) di mata publik semasa hidupnya adalah presiden muda karismatik dengan keluarga sempurna (ia menikah dengan Jacqueline “Jackie” Kennedy yang anggun). Namun, di balik layar, JFK memiliki reputasi sebagai “playboy” yang tak bisa menahan diri terhadap perempuan cantik.

Ia kerap terlibat hubungan dengan banyak wanita – dari sekretaris Gedung Putih hingga aktris terkenal. Bahkan ada lelucon terkenal: “Kalau saya tidak berhubungan seks setiap hari, saya kena sakit kepala”, yang konon diucap JFK kepada siapa saja yang mendengarkan, mulai dari PM Inggris Harold Macmillan sampai staf rendahan. Meski hiperbolis, candaan itu mengandung kebenaran: bagi JFK, seks adalah kebutuhan harian.

Hasrat akan seks JFK adalah bagian dari personanya. Ia bahkan membanggakan hal itu di lingkaran dekatnya, menganggap aktivitas seksual penting bagi kesehatan dan kebugarannya. Dalam menjalani kepemimpinan, JFK berusaha memuaskan hasrat seksnya sebisa mungkin, apa pun kendala pribadi, profesional, atau politisnya.

Hal ini memang dimungkinkan oleh konteks zamannya: tahun 1960-an awal, privasi kehidupan pemimpin masih sangat dihormati media. Pers dan publik waktu itu percaya bahwa urusan pribadi presiden bukan konsumsi umum. Maka, kelakuan JFK “tersembunyi total dari pandangan publik”. Ia “lolos” melakukan semua itu tanpa skandal besar, karena wartawan Gedung Putih sepakat diam – suatu hal yang mustahil terjadi di era sekarang.

Bahkan setelah JFK tewas terbunuh tahun 1963, Jackie dan adiknya, Robert, sibuk “membersihkan” jejak sejarah: mereka menghapus atau menyembunyikan dokumen dan kesaksian yang bisa menodai citra sang pahlawan nasional. Dengan demikian, bagi generasi lama, Kennedy tetap diingat karena prestasi politiknya (Krisis Rudal Kuba, program antariksa, dsb) sementara petualangan seksualnya baru terkuak puluhan tahun kemudian dalam buku dan biografi. Namun, tak diragukan, hasrat seksual adalah bagian tak terpisahkan dari diri JFK–bahkan ada yang bercanda bahwa gairahnya terhadap wanita hanya kalah oleh gairahnya terhadap politik.

Mantan Perdana Menteri Italia Silvio Berlusconi. Foto: Yara Nardi/REUTERS

Bila JFK bermain api seks sembunyi-sembunyi, Silvio Berlusconi justru terang-terangan menyalakan apinya di panggung publik Italia. Berlusconi menjabat perdana menteri Italia tiga kali (1994-95, 2001-2006, 2008-2011) dan terkenal sebagai politikus flamboyan nan kontroversial. Salah satu kontroversinya tentu skandal seks tiada henti. Ia sudah dua kali menikah dan bercerai, namun kehidupan seksualnya jauh melampaui itu.

Berlusconi kerap menggelar pesta “bunga-bunga” di vilanya – semacam pesta malam nan liar dengan kehadiran banyak wanita muda nan molek. Selama puluhan tahun, ia diduga meniduri lusinan (bahkan ratusan) perempuan, termasuk beberapa pekerja seks dan model, baik saat ia masih menikah maupun setelah menduda.

Tak semua hubungan itu suka sama suka: sejumlah wanita mengaku dijanjikan hadiah atau kontrak TV jika mau “bermain” dengan sang PM, sementara lainnya mungkin memang terpesona kekayaannya. Puncak skandal terjadi ketika terungkap Berlusconi pernah bersama gadis panggung bernama Karima El Mahroug alias “Ruby” yang ternyata masih di bawah umur.

Kasus “Rubygate” ini menyeretnya ke pengadilan atas tuduhan prostitusi anak di bawah umur, sebuah “masalah pribadi” yang berubah jadi masalah politik dan hukum serius. Namun luar biasanya, Berlusconi nyaris tak pernah jera atau mundur karena skandal-skandal tersebut. Ia dengan tebal muka menyangkal semua tuduhan dan tetap tampil percaya diri. Bahkan seorang pekerja seks (Patrizia D’Addario) yang sempat buka suara soal malam bersama Berlusconi, kemudian justru membelanya di media, mengatakan, “Silvio Berlusconi adalah orang kuat, ia harus terus berjuang demi kebaikan Italia” dan ia tak berniat menjatuhkan sang pemimpin.

Kejadian ini mencerminkan pesona aneh Berlusconi: meski berkali-kali dipermalukan publik akibat skandal seks maupun kasus korupsi, ia tetap memiliki basis pendukung setia. Ia pun berulang kali comeback dalam politik. Tahun 2018, di usia 82 tahun, Berlusconi kembali mencalonkan diri dalam pemilu Eropa–sesuatu yang “mencengangkan” mengingat segunung skandal dan vonis yang ia koleksi.

Banyak analis heran bagaimana rakyat Italia masih bersedia memberinya suara. Salah satu jawabannya, menurut pengamatan, justru berkaitan dengan hasrat seksnya: keberanian dan kenekatannya mempertontonkan kebejatan (brazen shamelessness) malah membuat sebagian publik terhibur atau terkesan–seolah-olah ia hidup di atas norma konvensional, dan hal itu memberi aura bad boy yang dikagumi segelintir orang. Tentu tak semua warga Italia demikian; namun faktanya, Berlusconi berhasil bertahan lama di panggung politik demokratis yang keras, mungkin sebagian karena citranya sebagai sosok kaya raya yang “hidup penuh warna”.

Membandingkan JFK dan Berlusconi, kita melihat persamaan dan perbedaan menarik. Persamaannya: keduanya punya gairah seksual yang tampaknya tak pernah benar-benar terpenuhi – “keinginan yang memakanmu dan membuatmu kian lapar,” kata penyair Nayyirah Waheed. Baik JFK maupun Berlusconi terus-menerus mengejar sensasi seksual baru meski posisi mereka membawa risiko besar.

Hasrat mereka bisa dikatakan tak normal menurut standar orang kebanyakan, tetapi bagi mereka, itulah bagian dari hidup pemimpin yang mereka jalani. Adapun perbedaannya terutama pada konteks sosial: JFK hidup di era ketika pers mengabaikan skandal pribadi, sehingga ia sukses menyembunyikan petualangannya. Sebaliknya, Berlusconi memimpin di era media modern (bahkan era media sosial) di mana semua aib cepat tersiar–tetapi ia tampak sengaja menantang norma dan tetap berulah di depan umum.

Hasrat akan Kesuksesan

Mantan Menteri Luar Negeri AS Hillary Rodham Clinton berbicara pada pembukaan "Eyes on Iran", di Franklin D Roosevelt Four Freedoms State Park di Pulau Roosevelt di New York City, New York, AS, Senin (28/11/2022). Foto: Mike Segar/REUTERS

Selanjutnya, kita memasuki hasrat akan kesuksesan, yakni kebutuhan yang tak terhentikan untuk mencapai prestasi dan kemenangan. Ini mirip ambisi, tetapi dalam dosis ekstra tinggi – semacam ambisi turbo yang terus mendorong seseorang melampaui pencapaian yang sudah diraih. Pemimpin dengan hasrat jenis ini tidak kenal kata “cukup” dalam hal prestasi. Mereka selalu memasang target berikutnya, mendaki puncak berikutnya, bahkan setelah orang lain mengira mereka telah mencapai segalanya.

Kategori ini diwakili oleh Hillary Clinton dan Tom Brady. Hillary Clinton adalah figur politisi Amerika yang sangat terkenal, sementara Tom Brady adalah atlet pemain American Football tersukses sepanjang masa. Keduanya berbeda bidang, namun keduanya menunjukkan gairah berprestasi yang luar biasa, melampaui kebanyakan orang di lingkungannya.

Hillary Rodham Clinton telah menjadi nama rumah tangga dalam politik Amerika selama lebih dari tiga dekade. Ia pernah menjadi Ibu Negara (1993-2001), Senator (2001-2009), Menteri Luar Negeri (2009-2013), dan dua kali kandidat presiden (2008 dan 2016). Rekam jejaknya mencerminkan ambisi besar, tetapi bagaimana ambisi itu terbentuk?

Sejak muda, Hillary memang mencari kesuksesan di arena yang waktu itu didominasi pria. Tahun 1969, ia lulus dari Wellesley College sebagai mahasiswa teladan dan memberikan pidato kelulusan progresif yang menarik perhatian nasional. Ia kemudian melanjutkan ke Yale Law School (masuk tahun 1970) – saat itu, hanya sekitar 8,5% mahasiswa hukum di AS adalah wanita. Hillary muda sudah menunjukkan lust for success dengan berani menembus tembok-tembok gender.

Karier awalnya tak selalu mulus: ia gagal ujian advokat di Washington D.C. (hal yang kemudian diakuinya memalukan), lalu memutuskan pindah ke Arkansas mengikuti tunangannya (Bill Clinton) dan membangun karier di sana. Di Arkansas, budaya patriarkal selatan mengharuskannya berjalan di titian sempit: ia ingin sukses sebagai pengacara dan pegiat sosial, tapi juga harus memenuhi ekspektasi sebagai istri “gubernur”, setelah Bill terpilih menjadi Gubernur Arkansas, dengan norma tradisional.

Tapi Hillary berhasil memainkan peran ganda itu. Ia bekerja sebagai pengacara sukses sambil menjalankan tugas Ibu Negara bagian – meski tak luput dari kritik (termasuk soal nama keluarga: awalnya ia tetap pakai nama “Rodham” dan dikritik, hingga kemudian menambahkan “Clinton”). Semua pengalaman ini menempanya menjadi figur yang sangat tangguh, berkemauan besi. Buku Kellerman & Pittinsky mencatat: dibutuhkan tekad luar biasa bagi Hillary Clinton untuk nyaris menjadi presiden – mengingat ia maju di era polarisasi partisan tinggi, ditambah kenyataan bahwa ia adalah perempuan pertama yang punya peluang nyata di posisi yang selama ini “permainan laki-laki”.

Memang, faktor gender menjadi bumbu khas hasrat akan kesuksesan Hillary. Sejak tampil di panggung nasional sebagai Ibu Negara tahun 1992, Hillary mencetuskan keinginan ikut membentuk kebijakan (misalnya memimpin gugus tugas reformasi kesehatan) – sesuatu yang tidak lazim bagi Ibu Negara kala itu. Niatnya baik (ingin sukses membawa perubahan sosial), tapi ia langsung dihantam oposisi. Semakin tinggi ia mendaki, serangan terhadapnya kian gencar.

Ia menghadapi skandal besar ketika suaminya terjerat perselingkuhan dengan Monica Lewinsky tahun 1998; posisinya sulit karena ia korban penghinaan publik namun juga dituntut setia mendampingi suami. Ia bertahan, bahkan setelah aib itu, Hillary justru melesat merintis jalannya sendiri – terpilih sebagai Senator New York pada 2000 dan 2006. Lalu di 2008, ia mencalonkan diri sebagai presiden. Kampanye 2008-nya bersejarah (wanita pertama dengan peluang kuat jadi nominasi partai besar), tapi ia kalah tipis dari Barack Obama dalam pemilihan pendahuluan.

Kekalahan itu berat, namun Hillary tak mundur teratur. Ia mendukung Obama (musuh politiknya) dan diangkat menjadi Menteri Luar Negeri, di mana ia bekerja keras memperbaiki citra Amerika di dunia. Setelahnya, tahun 2016, Hillary maju lagi mencalonkan diri sebagai presiden. Kali ini ia meraih nominasi Partai Demokrat – wanita pertama yang melakukan itu – dan bertarung melawan Donald Trump. Kampanye 2016 sangat melelahkan, bahkan “mengerikan” baginya: ia diserang habis-habisan, mulai dari kasus email pribadinya sebagai Menlu (ia dituduh menyimpan email dinas di server pribadi demi “mengontrol narasi” kariernya), hingga julukan “pembohong” dan “Crooked Hillary” yang dilekatkan Trump.

Meskipun akhirnya ia kalah dalam pemilu yang mengejutkan dunia, pencapaiannya tetap monumental: meraih hampir 66 juta suara (terbanyak kedua dalam sejarah AS saat itu) dan menembus “plafon kaca” tertinggi politik meski tak berhasil memecahkannya. Banyak pihak menilai, “apa pun pendapatmu tentang Hillary, tak bisa disangkal ketangguhan dan kegigihannya”. Ia menanggung cercaan, fitnah, skandal, tapi terus maju mengejar tujuannya hingga titik akhir.

Inilah potret lust for success: Hillary Clinton seolah memiliki “baterai tambahan” yang membuatnya tahan menghadapi ujian demi ujian dalam perjalanan meraih sukses puncak. Ia sendiri pernah berkata, “Wanita yang berambisi tinggi akan selalu menghadapi tembok penolakan – tapi itu bukan alasan untuk berhenti”. Meski akhirnya ia tidak menjadi presiden, hasrat Hillary untuk sukses telah menginspirasi banyak perempuan muda dan mengubah persepsi tentang kepemimpinan perempuan.

Tom Brady di Super Bowl 2021. Foto: Mark J. Rebilas/Reuters

Beralih ke Tom Brady, kita menjumpai manifestasi hasrat kesuksesan di ranah olahraga. Tom Brady adalah pemain American Football (sepak bola ala Amerika) yang kariernya luar biasa panjang dan gemilang. Ia bermain sebagai quarterback di NFL (National Football League) selama 22 tahun, memenangkan 7 kali Super Bowl (kejuaraan tertinggi), terbanyak sepanjang sejarah. Namun angka-angka saja tak cukup menggambarkan betapa obsesifnya Brady terhadap kemenangan.

Brady selalu bermain untuk menang – “seorang kompetitor sejati selalu bermain untuk menang,” ujarnya, dan kekalahan baginya sangat menyakitkan. “Kamu tidak pernah benar-benar melupakan kekalahan,” kata Brady. “Aku tak pernah bisa melupakan satu pun kekalahan dalam karierku”. Bayangkan, ia sudah menang ratusan pertandingan dan meraih segala trofi, tetapi satu kekalahan pun tetap mengusiknya. Inilah jiwa yang tak pernah puas dengan sukses kemarin–selalu lapar untuk menang lagi dan lagi.

Awal karier Brady juga mencontohkan lust for success-nya. Saat direkrut pada tahun 2000, ia bukan siapa-siapa – hanya pemain cadangan bernomor urut jauh (pilihan draft ke-199). Timnya (New England Patriots) nyaris tak memberi ekspektasi apa pun padanya. Namun Brady muda diam-diam berlatih tanpa henti, membangun tubuh dan kemampuannya, mempersiapkan diri bagai “raja di bayang-bayang”.

Ia jarang terlihat publik di tahun pertama, tapi kerja kerasnya senyap-senyap membuahkan hasil. Ketika akhirnya kesempatan datang (karena pemain inti cedera), Brady siap merebut posisi starting quarterback. Dari situ, ia tidak pernah melepaskannya. Etos kerjanya legendaris: rekan-rekannya bersaksi bahwa Brady selalu paling serius dalam latihan, “orang yang berkeringat di balik layar untuk bersiap tampil di panggung”. Pelatihnya, Bill Belichick, dikenal keras dan tak segan memarahi pemain bintang – namun Brady pernah berkata pada ayahnya, “Coach Belichick punya prajurit sempurna dalam diriku”, artinya Brady rela didisiplinkan sekeras apa pun demi tim menang.

Seiring usia, biasanya atlet menurun motivasinya. Tidak demikian dengan Brady. Semakin tua ia, justru semakin bersemangat rekan-rekannya dibuatnya. Pemain muda kagum padanya; cornerback Patriots, Stephon Gilmore, menyebut “Brady adalah rekan terbaik yang pernah kumiliki: ia salah satu pekerja paling keras, sangat cerdas, selalu datang siap. Ia benar-benar pemimpin”.

Meski begitu, lust for success Brady juga pernah menjerumuskannya ke kontroversi. Pada 2014-2015, terjadi skandal “Deflategate” – bola pertandingan didapati kurang angin saat Patriots bertanding (bola kurang angin lebih mudah dilempar quarterback). Investigasi NFL menyimpulkan “lebih mungkin daripada tidak” bahwa staf Patriots sengaja mengempiskan bola dan Brady setidaknya mengetahui hal itu.

Ini implikasinya serius: Brady dituding curang demi menang, memperlihatkan bahwa hasrat sukses yang begitu besar bisa mengaburkan batas sportivitas. Brady membantah keras dan sempat lolos satu musim, tapi akhirnya ia diskors 4 pertandingan di 2016. Tetap saja, setelah kembali, Brady malah bermain brilian dan membawa timnya juara Super Bowl lagi – seakan hukuman itu menjadi pelecut sukses baru. Puncaknya, tahun 2019, di usia 41, Brady menjuarai Super Bowl keenam kalinya. Belum puas, ia kemudian mengambil keputusan mengejutkan: pindah tim ke Tampa Bay Buccaneers tahun 2020.

Banyak yang mengira ia gila – hijrah di usia 42 ke tim yang tak pernah juara lama. Tapi inilah lust for success berbicara: Brady ingin membuktikan dirinya bisa sukses di mana pun, tak tergantung tim lamanya. Hasilnya? Ia memimpin Tampa Bay juara Super Bowl 2021, menambah cincin juaranya menjadi tujuh! Lalu ia masih kembali bermain di 2021 dan 2022. Baru di awal 2023, di usia 45, Brady akhirnya pensiun (itu pun setelah sempat membatalkan pensiun sekali sebelumnya).

Perjalanan Tom Brady menunjukkan bahwa bagi sebagian orang, sukses bukan tujuan akhir melainkan proses berkelanjutan. Kemenangan demi kemenangan tidak membuatnya kenyang – justru makin lapar. Dan dengan hasrat sukses-nya, Brady mampu menjadi teladan kepemimpinan tim: ia memimpin lewat contoh, disiplin diri, dan motivasi tinggi agar seluruh tim ikut berhasil. Sisi gelapnya (Deflategate) menjadi pengingat bahwa obsesi menang bisa membawa ke tindakan yang dipertanyakan etisnya. Namun terlepas dari itu, sulit membantah bahwa Tom Brady telah mencapai status legenda karena hasratnya akan kemenangan yang luar biasa kuat.

Seperti halnya Hillary di politik, Brady mendobrak batasan tentang apa yang dianggap “cukup” – keduanya terus mengukir prestasi bahkan saat orang lain mungkin sudah puas. Tak heran, Kellerman dan Pittinsky menyebut hasrat akan kesuksesan itu “murni” – artinya dorongan ini independen dari imbalan finansial atau materi. Baik Hillary maupun Brady sudah punya nama besar dan kekayaan; mereka dikejar sesuatu di luar itu: kepuasan batin menaklukkan tantangan baru.

Hasrat akan Legitimasi

com-Nelson Mandela dengan pakaian Batik. Foto: Audi Marchal via Pinterest

Jenis hasrat kelima yang dibahas adalah hasrat akan legitimasi, yakni dorongan tak kenal lelah untuk meneguhkan identitas dan kesetaraan (equity). Ini barangkali terdengar abstrak dibanding yang lain. Maksudnya, pemimpin dengan hasrat ini berjuang mati-matian agar dirinya atau kelompok yang diwakilinya diakui, diperlakukan adil, dan mendapatkan hak-haknya secara sah. Biasanya konteksnya adalah seseorang dari kelompok tertindas atau isu yang terabaikan, yang saking marah dan geramnya terhadap ketidakadilan, ia menjadikannya bahan bakar kepemimpinan. Buku Leaders Who Lust menampilkan dua contoh kuat, salah satunya adalah: Nelson Mandela.

Nelson Mandela adalah simbol perjuangan anti-apartheid di Afrika Selatan, dan akhirnya menjadi presiden kulit hitam pertama di negara itu (1994-1999). Sulit menemukan figur lain yang hasratnya terhadap legitimasi hak asasi dan persamaan derajat sekuat Mandela. Lahir sebagai bagian dari keluarga kerajaan suku Thembu tahun 1918, Mandela muda tumbuh merasakan pahitnya sistem apartheid (segregasi rasial) yang menindas mayoritas kulit hitam.

Ia awalnya berjuang melalui jalur damai – memimpin demonstrasi, mogok kerja, dan advokasi hukum sebagai pengacara. Namun pemerintah apartheid malah semakin repressif. Akhirnya, Mandela mengambil keputusan drastis: beralih ke perlawanan bersenjata sekitar awal 1960-an, karena ia merasa rezim tidak akan pernah menyerahkan kekuasaan secara sukarela.

Keputusan ini membuatnya dicap teroris oleh rezim dan dunia Barat saat itu, tetapi dari sudut pandang Mandela, itu adalah transformasi yang perlu demi memperjuangkan legitimasi bangsanya. Ia mendirikan sayap militan Umkhonto we Sizwe dan melakukan sabotase terhadap fasilitas rezim. Pada 1964, ia ditangkap dan dihukum penjara seumur hidup.

Inilah bagian penting yang menunjukkan lust for legitimacy-nya: Mandela menjalani 27 tahun di penjara dengan tekad yang tak luntur sedikit pun. Selama di Pulau Robben, ia terus memprotes, menolak tunduk, dan mencari cara agar suaranya terdengar. Ia menulis surat, puisi, komunikasi rahasia dengan aktivis di luar; bahkan seorang sipir penjara (Christo Brand) diam-diam bersimpati dan menjadi penghubung, saking karismatiknya Mandela.

Sementara itu di luar, istrinya Winnie Mandela menjadi juru bicara publik anti-apartheid, memastikan nama Mandela dan perjuangannya tak dilupakan. Selama puluhan tahun, Mandela dipenjara di pulau terpencil, namun justru di periode itu namanya menjelma simbol global perlawanan terhadap tirani dan rasisme. Tahun 1988, misalnya, diadakan Free Nelson Mandela Concert di London, dihadiri 72.000 orang dan ditonton 1 miliar orang di televisi seluruh dunia. Bayangkan: seorang tahanan yang tak terlihat publik selama seperempat abad, tetapi mampu menggerakkan dunia mendukung perjuangannya. Ini hanya bisa terjadi karena hasrat Mandela memperjuangkan legitimasi kulit hitam Afrika Selatan benar-benar murni, gigih, dan tak padam oleh waktu maupun tekanan.

“Seorang pemenang adalah pemimpi yang tak pernah menyerah,” kata Mandela suatu ketika – dan ia buktikan sendiri hal itu. Tahun 1990, di usia 71, Mandela akhirnya dibebaskan. Ratusan jurnalis dan kamera TV menunggunya keluar penjara–momen bersejarah yang menandai awal berakhirnya apartheid. Setelah itu, semua bergerak cepat: Mandela bernegosiasi dengan Presiden F.W. de Klerk, apartheid dihapus, pemilu demokratis digelar 1994 di mana Mandela terpilih sebagai presiden.

Sebagai presiden, fokus utama Mandela adalah rekonsiliasi nasional – membangun legitimasi bersama bagi Afrika Selatan baru yang multirasial. Ia sengaja hanya menjabat satu masa (5 tahun) meski rakyat mungkin mau ia terus. Pada pidato pelantikannya, ditonton 1 miliar orang juga, ia berkata misinya memimpin adalah “menyembuhkan luka bangsa dan membangun masyarakat adil untuk semua”. Selesai menjabat, Mandela tak lantas pensiun bersantai. Hampir segera, tahun 1999 ia mendirikan Nelson Mandela Foundation untuk melanjutkan kerja sosial, dan menjadi advokat internasional untuk berbagai isu, termasuk kampanye melawan HIV/AIDS yang sempat diabaikan pemerintah penerusnya.

Di usia 80-an, Mandela keliling dunia menggalang dana untuk kemanusiaan dan berbicara lantang menentang pemimpin Afrika yang korup atau menindas. Ia betul-betul tak pernah lelah memperjuangkan legitimasi – dalam arti martabat dan hak asasi – bagi siapa pun yang tertindas. Dunia menghormatinya sebagai “orang suci sekuler” karena moralitas dan dedikasinya. Namun, Mandela sendiri menyadari perjuangannya belum menuntaskan semua. Ia berhasil memulihkan hak politik kulit hitam Afrika Selatan, tetapi kemiskinan dan ketidaksetaraan ekonomi masih menghantui.

Nelson Mandela adalah contoh kepemimpinan yang digerakkan oleh kemarahan moral terhadap ketidakadilan – mereka “tidak bisa diam, tidak mau berhenti hingga terjadi perubahan transformatif”. Mandela menunjukkan intensitas luar biasa: mereka marah, mereka berteriak, mereka berjuang habis-habisan demi legitimasi kaumnya. Mandela berakhir jadi negarawan yang menyejukkan dan dianggap laksana santo. Mandela menginspirasi kita bahwa kadang pemimpin terbaik lahir dari rasa muak terhadap ketidakadilan – hasrat membara untuk membetulkan yang salah. Hasrat itu bisa melebihi dorongan uang atau kekuasaan, karena ia bermuatan moral tinggi.

Hasrat akan Warisan ( Legacy)

Co-founder Microsoft dan juga lembaga filantropi Bill & Melinda Gates Foundation, Bill Gates. Foto: THOMAS KIENZLE / AFP

Terakhir, buku ini membahas hasrat akan warisan alias Legacy – ambisi tak berujung untuk meninggalkan jejak permanen dan jangka panjang yang berarti bagi dunia. Pemimpin dengan hasrat ini sangat peduli pada bagaimana sejarah mengingat mereka, atau dampak jangka panjang apa yang bisa mereka wariskan. Seringkali, tokoh-tokoh ini sudah mencapai puncak karier dan punya sumber daya besar (uang, jaringan, dsb), sehingga fokus mereka bergeser dari “apa lagi yang bisa saya capai untuk diri saya” menjadi “apa yang bisa saya lakukan agar dunia lebih baik setelah saya”. Contoh yang ditampilkan adalah pasangan filantropis Bill dan Melinda Gates, serta investor dan dermawan politik George Soros.

Bill Gates dulunya dikenal sebagai pendiri Microsoft dan orang terkaya di dunia. Tapi sejak awal 2000-an, ia bersama istrinya Melinda Gates banting setir menjadi filantropis penuh waktu. Menariknya, Kellerman & Pittinsky mencatat bahwa Gates sebenarnya tidak memiliki “hasrat akan uang” berlebihan – kekayaannya yang luar biasa itu lebih merupakan hasil sampingan dari gairahnya pada teknologi komputer.

Bill dan Melinda “tidak pernah berhasrat pada uang sebagai uang”, sehingga mereka juga bukan orang yang suka pamer harta. Sebaliknya, mereka berhasrat untuk memanfaatkan uang itu guna membuat dampak positif yang langgeng. “Seiring waktu, pekerjaan filantropi kami telah menjadi tak terpisahkan dari jati diri kami. Kami melakukannya karena itulah hidup kami,” kata Melinda Gates. Ucapan ini menegaskan lust for legacy mereka: mereka menemukan makna hidup dalam mewariskan hal baik bagi dunia.

Pasangan Gates mendirikan Bill & Melinda Gates Foundation yang fokus pada isu kesehatan global, pendidikan, dan pengentasan kemiskinan. Setiap tahun, yayasan ini mengucurkan lebih dari satu miliar dolar untuk berbagai inisiatif – suatu angka derma yang luar biasa. Tentu, mudah bagi mereka memberi miliaran karena mereka punya puluhan miliar. Tapi hebatnya, mereka tidak sekadar memberi – mereka “bekerja keras” memastikan pemberian itu efektif.

Bill Gates, dengan pola pikir teknokratiknya, membawa pendekatan berbasis data dalam filantropi: mereka menganalisis penyakit mana yang paling butuh bantuan, teknologi vaksin mana yang menjanjikan, bagaimana cara distribusi yang tepat. Mereka memberi dengan sangat teliti dan strategis, seolah menjalankan perusahaan. Misalnya, alih-alih sekadar menyumbang panti asuhan, Gates Foundation menggelontorkan ratusan juta dolar untuk penelitian vaksin malaria dan pendanaan Aliansi Vaksin GAVI – bertujuan menghapus malaria dari muka bumi sebagai warisan mereka. Hasilnya? Sampai kini malaria belum lenyap, tapi kematian malaria turun drastis berkat intervensi.

Hal serupa mereka lakukan untuk polio, HIV, TBC, hingga memperbaiki kurikulum sekolah. Gairah mereka tampak tulus dan penuh semangat: Bill pernah menulis, “Kami senang melakukan semua ini. Kami bersenang-senang melakukannya”. Bagi pasangan ini, filantropi bukan beban moral, tapi petualangan dan panggilan jiwa. Dan yang menarik, mereka juga aktif mengajak orang lain bergabung.

Billboard George Soros di Szolnok, Hungaria Foto: REUTERS/Bernadett Szabo

Di sisi lain ada George Soros, sosok yang lebih kontroversial dalam hal warisan. Soros adalah investor sukses kelahiran Hungaria yang kemudian bermukim di AS. Ia terkenal karena kekayaannya dan aktivitas filantropi-politisnya mendukung demokrasi dan open society (masyarakat terbuka) di seluruh dunia. Soros merupakan Yahudi yang selamat dari pendudukan Nazi di Hungaria – pengalaman itu, plus hidup di bawah rezim komunis, membentuk tekadnya melawan totalitarianisme.

Setelah meraup harta besar lewat spekulasi finansial (ia terkenal “mematahkan Bank of England” tahun 1992), Soros berujar ia merasa menjadi “agen sejarah” yang harus memanfaatkan kekayaannya untuk mencegah tragedi yang pernah ia alami. “Aku membawa semacam fantasi mesianis sejak kanak-kanak,” tulis Soros tahun 1991, “dan sekarang dengan kekayaanku, aku bisa mencoba mewujudkannya”.

Fantasi yang ia maksud adalah misi menciptakan dunia yang lebih demokratis, toleran, dan terbuka – konsep Open Society yang ia ambil dari filsuf Karl Popper. Untuk itu, Soros all-out: sejak akhir 1980-an, ia menggelontorkan ratusan juta dolar di Eropa Timur untuk mendukung transisi demokrasi pasca jatuhnya Tirai Besi. Ia mendirikan Universitas Eropa Tengah di Budapest, memasok mesin fotokopi ke negara blok timur (agar orang bisa mencetak literatur bebas), mendanai gerakan mahasiswa, LSM HAM, media independen – apa pun demi menyuburkan masyarakat terbuka.

Organisasi utamanya, Open Society Foundations (OSF), berkembang menjadi jaringan filantropi global terbesar kedua setelah Gates Foundation: per 2019, OSF memiliki 1.800 pegawai di 35 negara dengan anggaran ratusan juta dolar per tahun. Soros jelas memiliki lust for legacy – ia tak hanya ingin dikenang sebagai orang kaya, tapi sebagai penggerak perubahan demokratis dunia. Namun, jalannya terjal.

Berbeda dengan Gates yang fokus isu kesehatan (relatif tidak kontroversial), Soros berurusan dengan politik dan nilai ideologis yang memancing perlawanan. Banyak rezim otoriter membenci Soros. Di Rusia, OSF diusir. Di Tiongkok, ia dianggap penghasut. Yang paling sengit, di tanah kelahirannya Hungaria, PM Viktor Orbán secara terbuka memusuhi Soros: pada kampanye 2018, Orbán memajang poster raksasa wajah Soros dengan tuduhan antisemit bahwa “Soros berkomplot mengendalikan dunia”.

Ironisnya, Orbán dulunya mahasiswa yang kuliah berkat beasiswa Soros, tapi kini ia menyebut Soros musuh negara. Soros menjadi figur yang dicintai sekaligus dibenci – untuk setiap orang yang mengaguminya mendukung HAM, ada yang membencinya dan menuduhnya campur tangan kedaulatan nasional. Dalam beberapa hal, cita-cita Soros menghadapi kemunduran di era kini. Gelombang populisme kanan membuat proyek-proyeknya terancam: misalnya di negara-negara Eropa Timur yang dulu terbantu OSF, kini muncul rezim nasionalis anti-Soros.

Soros sudah menghabiskan lebih dari $15 miliar untuk filantropi politiknya, namun hasilnya tak sejelas kesuksesan Gates di bidang kesehatan. Kellerman menulis dengan agak pesimis, “celakanya, di usia tuanya, ideal open society Soros justru tampak mundur di banyak tempat”. Soros bertaruh bahwa elite liberal-terdidik bisa memajukan suatu negara, namun berulang kali rakyat memilih populis anti-elite.

Tapi jika orang menduga Soros akan menyerah, mereka salah. “Soros bisa saja pensiun diam-diam,” tulis Kellerman, “Tapi tidak – ia tidak sekadar ingin meninggalkan warisan masyarakat terbuka, ia berhasrat mewujudkannya”. Karena itu, OSF akan terus digelontori dana olehnya (Soros kini 94 tahun dan OSF sudah diamanahkan ke putranya).

Baik Gates maupun Soros sama-sama didorong hasrat kuat untuk meninggalkan jejak kebaikan setelah mereka tiada. Namun strategi dan penerimaan masyarakat terhadap mereka kontras. Gates dianggap “di pihak malaikat” – siapa yang bisa membantah kebaikan menghapus malaria? Sedangkan Soros lebih kontroversial – niatnya membantu bangsa keluar dari tirani mungkin mulia, tapi bagi sebagian orang itu “ikut campur urusan dalam negeri”.

Boleh dibilang, lust for legacy Soros lebih kompleks karena ranahnya politik berideologi. Namun demikian, keduanya memberi pelajaran: pemimpin yang sudah tak kekurangan apa pun secara pribadi pun bisa didorong hasrat yang besar – bukan lagi untuk diri, melainkan untuk dunia. Mereka membuktikan bahwa hasrat personal bisa selaras dengan altruism. Bill dan Melinda Gates, misalnya, jelas menikmati kepuasan pribadi dari pekerjaan filantropi mereka (memuaskan lust mereka), namun sekaligus memenuhi kebutuhan banyak orang akan kesehatan dan kesejahteraan. Lust dan layanan publik tidak harus berlawanan; dalam kasus ini, keduanya bertemu.

Pelajaran Untuk Masyarakat Indonesia

Ilustrasi Indonesia. Foto: Novrian Arbi/ANTARA FOTO

Setelah menelusuri enam jenis hasrat di balik kepemimpinan, kita dapat menarik benang merah: pemimpin-pemimpin luar biasa seringkali bukanlah sosok “moderat” yang serba seimbang, melainkan justru pribadi “immoderate” (tidak tanggung-tanggung) yang digerakkan oleh dorongan internal amat kuat. Mungkin hal ini terdengar berlawanan dengan kebijaksanaan umum.

Tak ada seorang pun yang mengubah dunia tanpa obsesi."

Obsesi, lust, hasrat – apa pun istilahnya – berperan seperti bahan bakar roket bagi para pemimpin tersebut. Lihatlah contoh-contoh yang kita bahas: Roger Ailes dan Xi Jinping dengan hasrat kekuasaan mereka sanggup membangun “kerajaan” masing-masing; Warren Buffett dan Charles Koch dengan hasrat uang mengubah lanskap bisnis dan politik; JFK dan Berlusconi dengan hasrat seks memberi warna (dan skandal) dalam kekuasaan mereka; Hillary Clinton dan Tom Brady dengan hasrat sukses mendobrak prestasi baru melampaui batasan konvensional; Nelson Mandela dengan hasrat legitimasi mengguncang sistem mapan demi keadilan; serta Bill & Melinda Gates dan George Soros dengan hasrat warisan mencurahkan sumber daya demi masa depan yang mereka impikan.

Hasrat-hasrat ini membuat mereka “lebih dari biasa” (extra-ordinary) – terkadang mendekati ekstrem. Bagi para pengikut (followers), hal ini memberi dampak ambivalen. Di satu sisi, pemimpin berhasrat kerap sangat inspiratif. Gairah mereka menular secara emosional: misalnya, karyawan Fox News dulu loyal pada Ailes karena terpesona visinya; rakyat jelata di Tiongkok mengidolakan “Papa Xi” karena melihat tekad kuatnya; tim sepakbola Patriots berjuang mati-matian karena termotivasi etos kerja Brady; jutaan aktivis global mengikuti jejak Mandela dan Kramer memperjuangkan keadilan.

Hasrat yang kuat menciptakan narasi kepemimpinan yang kuat pula – pemimpin tampil penuh keyakinan, tekad, sense of mission yang jelas, sehingga orang lain terdorong mengikuti. Akan tetapi, hubungan pemimpin-pengikut ini juga bisa berbahaya jika hasrat tersebut arahnya destruktif atau egosentris.

Leaders who lust kadang terlalu fokus pada obsesinya hingga mengabaikan norma atau kepentingan lain, bahkan bisa menyeret para pengikut ke jurang. Contohnya, hasrat kekuasaan yang membabi-buta dapat melahirkan tirani – banyak yang menyebut Xi Jinping menuju ke arah itu. Hasrat uang Charles Koch membawa dampak kebijakan yang mungkin menguntungkan perusahaannya tapi merugikan lingkungan global. Hasrat seks Berlusconi menurunkan wibawa institusi PM dan menormalisasi korupsi moral di sekitarnya.

Contoh paling ekstrem di luar buku: hasrat ideologis Adolf Hitler jelas menghancurkan jutaan nyawa. Atau kita bisa melihat dampak dari hasrat kekuasaan Benjamin Netanyahu yang berdampak pada proses genosida bagi bangsa palestina. Yang pasti kita paham, bahwa: hasrat besar plus kekuasaan besar bisa mengakibatkan kehancuran besar jika salah arah.

Oleh sebab itu, memahami aspek hasrat dalam kepemimpinan menjadi kian penting bagi kita di era modern. Seperti diutarakan penulis buku ini, nasib sebuah negara atau dunia ini bisa bergantung pada bagaimana kita memahami risiko dan manfaat dari hasrat memimpin ini. Para pemimpin sendiri semestinya bercermin: hasrat mereka adalah kekuatan–tapi apakah kekuatan itu dikendalikan, atau malah mengendalikan mereka?

Sementara itu, kita sebagai pengikut atau masyarakat umum, harus cerdas menilai pemimpin yang penuh hasrat. Apakah hasrat mereka narsistik egois, atau ada sisi altruistik? Apakah obsesinya membawa kebaikan bersama, atau hanya memuaskan syahwat pribadi serta golongannya? Dalam kasus Bill Gates, misalnya, jelas lust-nya membawa manfaat luas, sedangkan dalam kasus pemimpin korup, lust mereka merugikan publik.

Sedangkan sosok seperti Mandela mengajari kita bahwa kadang kita butuh pemimpin “gila” – gila dalam arti begitu bersemangat sampai melampaui zona nyaman – untuk mengguncang status quo demi perbaikan. Tetapi kita juga perlu waspada pada pemimpin “gila” yang sesungguhnya, yang didorong hasrat buta tanpa batasan moral serta etika, karena mereka bisa menjerumuskan.

Dalam konteks Indonesia, pemahaman tentang hasrat kepemimpinan dari buku “Leaders Who Lust” menjadi sangat relevan untuk dibaca dan dipahami masyarakat. Indonesia memiliki sejarah panjang dengan para pemimpin yang didorong oleh hasrat akan kekuasaan dan uang, namun sayangnya seringkali dalam bentuk yang merusak: korupsi, nepotisme, dan penyalahgunaan wewenang.

Yang membuat situasi ini semakin berbahaya adalah kemampuan para pemimpin tersebut untuk memanipulasi persepsi publik melalui kebajikan palsu. Beberapa di antaranya memainkan sentimen agama, nasionalisme atau populisme untuk menyembunyikan hasrat sesungguhnya. Misalnya, seorang pemimpin yang korup bisa tampil sebagai "pemimpin religius" yang rajin ke masjid dan bersedekah (dengan uang rakyat), atau seorang wali kota yang memperkaya kroni bisa menyamar sebagai "rakyat jelata" yang peduli masyarakat kecil.

Masyarakat Indonesia, baik yang partisan maupun yang independen, perlu mengembangkan literasi politik yang lebih tajam dalam membedakan antara hasrat kepemimpinan yang konstruktif (seperti hasrat legitimasi Nelson Mandela atau hasrat warisan Bill Gates) dengan hasrat yang destruktif namun dibalut tindakan yang seolah penuh kebaikan.

Pelajaran utamanya adalah jangan terpesona oleh performa dan retorika pemimpin, melainkan perhatikan secara kritis: apakah hasrat mereka menghasilkan kebijakan nyata yang menguntungkan rakyat banyak, atau hanya memperkaya diri sendiri dan kelompoknya? Apakah mereka transparan dalam penggunaan kekuasaan, atau justru makin tertutup dan otoriter?

Buku ini mengajarkan bahwa hasrat yang kuat memang diperlukan untuk kepemimpinan yang transformatif, tetapi hasrat tersebut harus diimbangi dengan akuntabilitas, integritas, dan orientasi pada kepentingan publik. Tanpa pemahaman ini, masyarakat Indonesia akan terus terjebak dalam siklus memilih pemimpin berhasrat yang serakah, bukan pemimpin berhasrat yang visioner.

Padahal sejarah bangsa kita juga dipenuhi oleh sosok pemimpin bangsa yang memiliki hasrat visioner dan meninggalkan banyak legacy yang menjadi pondasi dasar bangsa ini. Mulai dari Pangeran Diponegoro, Soekarno, Hatta, Mohammad Natsir, Sultan Hamengku Buwono IX, hingga Tan Malaka, mereka semua menunjukkan hasrat kepemimpinan yang sejati.

Dalam buku "Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro" (17855 -1855) karya Peter Carey, kita dapat membaca corak kepemimpinan Pangeran Diponegoro yang sangat kental akan gaya legitimasi plus warisan dalam memperjuangkan "revolusi mental" dengan merstorasi keluhuran agama Islam di tanah Jawa. Menurutnya, jika tidak sanggup mewujudkan sebuah orde moral di tanah Jawa, maka lebih baik dia (Pangeran Diponegoro ) enyah dari dunia ini. Menjadi pemimpin itu bukanlah hal yang ringan. Pemimpin yang sesungguhnya harus rela hidup dengan menyentuh rakyat kebanyakan dan merasakan pahit getir hidup rakyat.

Sementara itu, Soekarno memiliki hasrat legitimasi yang mendalam untuk memerdekakan bangsa dari penjajahan dan hasrat warisan untuk menciptakan identitas nasional yang kuat melalui Pancasila dan konsep Bhinneka Tunggal Ika. Mohammad Hatta menunjukkan hasrat kesuksesan dalam membangun fondasi ekonomi kerakyatan dan sistem koperasi yang mengutamakan kepentingan bersama daripada akumulasi kekayaan pribadi.

Yang membedakan para founding fathers ini dengan sebagian pemimpin masa kini adalah orientasi hasrat mereka yang benar-benar tertuju pada kepentingan bangsa, bukan kepentingan diri atau kelompok sempit. Mereka rela mengorbankan kenyamanan pribadi, bahkan nyawa, demi mewujudkan visi besar kemerdekaan dan kesejahteraan rakyat.

Ketika Pangeran Diponegoro atau juga Soekarno diasingkan oleh Belanda karena perjuangannya atau ketika Hatta memilih hidup sederhana meski bisa memperkaya diri, kita melihat contoh nyata bagaimana hasrat kepemimpinan yang konstruktif bekerja - ia mendorong pemimpin untuk melayani, bukan dilayani.

Menurut Pangeran Diponegoro, Soekarno, Hatta dan para pemimpin kita yang lahir sebelum abad 19 dan mempelopori zaman kebangkitan nasional, memperjuangkan kemerdekaan berarti memenangkan kesejahteraan rakyat terlebih dahulu.

" Takdir, Riwayat Pangeran Diponegoro"; karya Peter Carey

Pada akhirnya, para pemimpin yang berhasrat – entah hasrat kekuasaan, uang, seks, kesuksesan, legitimasi, atau warisan – mewarnai sejarah umat manusia dengan segala coraknya. Kita dapat belajar dari kehebatan mereka, mengambil inspirasi dari api semangat mereka, sekaligus menarik pelajaran dari kegagalan atau ekses mereka.

Dengan begitu, kita bisa berharap melahirkan lebih banyak “pemimpin berhasrat” yang obsesinya selaras dengan kebaikan bersama, dan lebih sedikit yang obsesinya merusak. Dunia selalu berubah oleh orang-orang yang "sangat menginginkan" sesuatu – semoga apa yang para "pemimpin kita inginkan" itu membawa terang, bukan gulita, bagi kita semua. Aamiin.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80!